My JESUS

My JESUS

Minggu, 21 Desember 2014

LP GENETIKA PEWARISAN KUANTITATIF



LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA


PERCOBAAN  IV
PEWARISAN KUANTITATIF


NAMA                                               : SOPHIA MARCELINA YANSIP           
NIM                                                    : H41113701
KELOMPOK                                    : V (LIMA) B
HARI/TANGGAL PERCOBAAN : KAMIS/27 MARET 2014
ASISTEN                                           : RISKY NURHIKMAYANI





LABORATORIUM GENETIKA JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
                                                       BAB I
PENDAHULUAN
I.1  Latar Belakang
Biasanya kita menghadap bahwa suatu kelas fenotip selalu dapat dibedakan dari kelas fenotip yang lain, akan tetapi kenyataannya sifat keturunannya seringkali tidak dapat dipisahkan semudah itu (Agus, 2014).
Pada tahun 1909, seorang ahli genetika Swedia Nilson Ehle menganalisis hasil pewarisan warna biji gandum terigu dan berhasil menyumbangkan suatu konsep yang sangat penting dalam genetika. Arti penting dari Nilson Ehle terletak pada faktor bahwa sifat-sifat itu tidak selalu ditentukan oleh pasangan gen yang berbeda yang berinteraksi yang menghasilkan suatu fenotip tertentu (Agus, 2014).
Pada kasus warna biji gandum, interaksi itu bersifat kumulatif. Makin banyak suatu tanaman mewarisi gen dominan, makin tua warnanya. Situasi semacam ini disebut pewarisan poligen dan melibatkan pewarisan ciri-ciri kuantitatif. Sifat kuantitatif diatur pengaruh gen-gen ganda (multiple gen atau poligen) dari masing-masing pengaruhnya kecil. Pada aksi gen kumulatif ini setiap alel pada lokus tersebut akan menambah atau menguragi nilai fenotip. Mekanisme pewarisan ini sering juga disebut pewarisan faktor majemuk (Agus 2014).
Pewarisan karakter kualitatif mudah dibedakan karena masing-masing mempunyai pola populasi yang jauh berbeda. Di lain pihak tertentu ada kelompok antara yang sukar dikategorikan. Kelompok ini mewakili zona transisi diantara kedua sistem pewarisan karakter dan termasuk bentuk antara yang diwariskan karena pengaruh interaksi lingkungan yang memungkinkan adanya sejumlah genotip yang diekspresikan pada bentuk fenotipnya (Agus, 2014).
I.2 Tujuan Percobaan
            Adapun tujuan percobaan Pewarisan Kuantitatif yaitu sebagai berikut :
1.      Menjelaskan perbedaan antara genetika kuantitatif dan genetika kualitatif
2.      Mengetahui cara mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan data penelitian tentang pewarisan kuantitatif
I.3 Waktu dan Tempat Percobaan
            Percobaan Pewarisan Kuantitatif dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Maret 2014 pukul 14.00-17.00 WITA, bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Genetika berasal dari bahasa Yunaniγέννω atau genno yang berarti "melahirkan". merupakan cabang biologi yang penting saat ini. Ilmu ini mempelajari berbagai aspek yang menyangkut pewarisan sifat dan variasi sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion). Ada pula yang dengan singkat mengatakan, genetika adalah ilmu tentang gen. Nama "genetika" diperkenalkan oleh William Bateson pada suatu surat pribadi kepada Adam Chadwick dan ia menggunakannya pada Konferensi Internasional tentang genetika ke-3 pada tahun 1906. Bidang kajian genetika dimulai dari wilayah molekular hingga populasi. Secara lebih rinci, genetika berusaha menjelaskan material pembawa informasi untuk diwariskan (bahan genetik), bagaimana informasi itu diekspresikan (ekspresi genetik) dan bagaimana informasi itu dipindahkan dari satu individu ke individu yang lain (pewarisan genetik) (Kusumah, 2012).
Pewarisan sifat yang dikendalikan oleh poligen tersebut pertama kali ditemukan pada tanaman tembakau (Nicotiana tabacum) oleh J. Kolreuter (1760). Saat menyilangkan tanaman dengan dua sifat beda, keturunan yang didapat pada F1 adalah intermediet, sedangkan F2 terdapat banyak variasi antara kedua tanaman induknya. Sifat keturunan terlihat berderajat berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu. Pewarisan sifat yang dikendalikan oleh poligen dapat terjadi baik pada tumbuhan, hewan, maupun manusia. Contoh poligen pada tumbuhan adalah warna biji pada tanaman gandum,panjang bunga tembakau serta berat buah tomat. Contoh poligen pada manusia adalah perbedaan pigmentasi kulit, jumlah rigi dermal dan tinggi badan (Sukarni, 2012).
Poligen merupakan suatu seri gen ganda yang menentukan sifat secara kuantitatif. Pada pewarisan sifat, kita dapat menemukan adanya variasi sifat yang diturunkan. Hal ini disebabkan oleh gen ganda (multiple gen / poligen). Dalam hal ini, pewarisan sifat dikendalikan oleh lebih dari satu gen pada lokus yang berbeda dalam kromosom yang sama atau berlainan (Campbell, dkk., 2008).
Setiap manusia di dunia ini pasti berbeda. Salah satunya adalah bentuk garis-garis pada jari, atau yang lazim kita sebut sebagai 'sidik jari'. Karena sidik jari bersifat unik, setiap orang yang hidup di bumi mempunyai bentuk sidik jari yang berlainan. Karena sifat unik inilah, sidik jari dijadikan sebagai salah satu bukti identitas seseorang yang berlaku secara internasional. Ternyata sidik jari baru mulai diperhatikan pada akhir abad ke-19. Berawal dari tulisan seseorang ilmuwan Inggris Henry Faulds pada 1880 yang menyatakan bahwa sidik jari orang-orang tak berubah sepanjang hayat mereka, dan bahwa terdakwa-terdakwa bisa diyakinkan dengan sidik jari yang mereka tinggalkan di permukaan benda seperti kaca. Dalam genetika kuantitatif, konsep poligen berarti banyak gen digunakan untuk menjelaskan terbentuknya sifat kuantitatif. Ronald Fisher (1918) dapat menjelaskan bahwa sifat kuantitatif terbentuk dari banyak gen dengan pengaruh kecil, yang masing-masing bersegregasi menuruti teori Mendel. Karena pengaruhnya kecil, fenotipe yang diatur oleh gen-gen ini dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Meskipun demikian, penjelasan Fisher ini tetap menempatkan "gen-gen" yang mengatur sifat kuantitatif sebagai sesuatu yang abstrak karena hanya merupakan konsep (Suryo, 1994).
Klasifikasi sidik jari yang digunakan secara luas adalah sistem Henry dan variasi-variasinya yang diperkenalkan oleh Edward Henry (1899). Klasifikasi sidik jari adalah membagi data pola garis alur sidik jari kedalam kelompok-kelompok kelas ciri yang menjadi karakteristik sidik jari tersebut yaitu untuk memercepat proses identifikasi. Ada dua jenis kategori sidik jari yaitu kategori bersifat umum (global) dan kategori yang bersifat khusus (lokal) yaitu untuk menggambarkan ciri-ciri khusus individual, seperti jumlah minutiae, jumlah dan posisi inti (core), dan jumlah dan posisi delta. Beberapa sifat keturunan dapat ditentukan oleh gen autosomal dan ada juga yang ekspresinya dipengaruhi oleh jenis kelamin (sex). Sifat tersebut dapat tampak pada kedua jenis kelamin, tetapi pada salah satu jenis kelamin ekspresinya lebih besar dibandingkan jenis kelamin lainnya (Suratsih, 2003).
Cabang genetika yang membahas pewarisan sifat-sifat terukur (kuantitatif atau metrik), yang tidak bisa dijelaskan secara langsung melalui hukum pewarisan Mendel. Sifat-sifat yang tergolong sifat kuantitatif misalnya tinggi atau berat badan, hasil panen, atau produksi susu (Kusumah, 2012).
Genetika kuantitatif menerapkan hukum pewarisan Mendel untuk gen dengan pengaruh yang kecil/lemah (minor gene). Selain itu, diasumsikan pula bahwa tidak hanya sedikit gen yang mengendalikan suatu sifat melainkan banyak gen. Karena itu, sifat kuantitatif sering dasamakan dengan sifat poligenik (Suratsih, 2003).
Pewarisan genetik (Inggris genetic inheritance) adalah aspek pertama yang dipelajari orang dalam genetika karena berkaitan langsung dengan fenotipe. Sebagai contoh, Gregor Johann Mendel mempelajari peawarisan tujuh sifat pada tanaman kapri, atau Karl Pearson (salah satu pelopor genetika kuantitatif) mempelajari pewarisan ukuran tubuh orang tua dan anaknya. Kajian genetika yang mempelajari aspek ini dijuluki genetika transmisional, karena membahas bagaimana bahan genetik dialihkan dari satu generasi ke geneasi lainnya beserta implikasi yang menyertainya (Anonim, 2013).
Ilmu ini banyak menggunakan matematika dan statistika dalam menjelaskan prinsip-prinsip yang dipakai maupun dalam metodologinya. Namun demikian, penerapan ilmu ini dalam ilmu pemuliaan sangat bermanfaat dalam bidang pertanian(Anonim, 2013).
Genetika kuantitatif dimulai pada tahun 1918 oleh Ronald Fisher (ahli biostatistika dari Inggris) yang menerbitkan On the correlation between relatives on the supposition of Mendelian inheritance (secara bebas berarti "Keterkaitan antarkerabat berdasarkan pewarisan Mendel"), yang mengakhiri perseteruan antara teori biometri (Pearson dkk.) dan teori Mendel sekaligus mengawali sintesis keduanya (Anonim, 2013).
                      Penampakansuatutanamanataufenotipeditentukanolehinteraksigenotipedenganfaktor  lingkungan. Untukmeningkatkankemampuantanaman, sangattergantungbagaimanamemanipulasigen agar menjadigenotipe yang diharapkanbaiksebagai individu tanamanmaupunsebagaianggotasuatupopulasi. Sifat yang nampak keluar dapat dibedakan atas sifat kualitatif dan sifat kuantitatif. Sifat dapat dibedakan secara tegas atau diskrit, karena dikendalikan oleh gen sederhana, sedangkan sifat kuantitatif tidak dapat dibedakan secara tegas karena dikendalikan oleh banyak gen sehingga kalau dibuat distribusinya akan menunjukkan distribusi continue (Sukarni, 2012).
Sifat kualitatif adalah sifat yang secara kualitatif berbeda sehingga mudah dikelompokkan dan biasanya dinyatakan dalam kategori, Sifat ini yang menjadi obyek penelitian Mendel sehingga tercipta hukumnya yang yang terkenal dengan Genetika Mendel menyangkut segregasi, rekombinasi, linkage, interaksi non alel dan lain-lain yang dapat menyebabkan berhasil tidaknya hibridisasi (Sukarni, 2012).
            Dasar heredity yang digunakan Mendel berasal dari organisme yang mempunyai sifat tegas dan konstan. Disamping itu disyaratkan bahwa tetua dan cara perkawinannya ditentukan secara pasti. Dari hasil perkawinan akan diperoleh keturunan yang mengalami segregasi. Bila sepasang tetua keduanya homozigot  atau dari penyerbukan sendiri, maka segregasi terjadi baru pada F2. Segregasi terjadi pada proses meiosis yang menyebabkan gen-gen pada suatu lokus terpisah dan masing-masing dapat membentuk gamet yang berbeda (Sukarni, 2012).
Dengan demikian dimungkinkan terjadinya kombinasi-kombinasi berbeda, yang menyebabkan perbedaan genotype keturunan. Makin banyak pasangan gen yang mengalami segregasi, makin banyak kombinasi yang dapat terjadi pada keturunan, bahkan peningkatannya secara eksponensial (Sukarni, 2012).
Ternyata makin banyak pasangan gen yang terlibat berarti akan menghadapi sejumlah besar perbedaan genotype. Ole karena sifat kualitatif hanya dikendalikan oleh beberapa pasang gen, maka untuk pasangan gen yang besar tidak lagi memberikan gambaran yang tegas tetapi bersifat continue sehingga hal ini termasuk kategori sifat kuantitatif (Sukarni, 2012).
            Rekombinasi adalah suatu kombinasi baru dari pasangan gen yang linkage sehingga berbeda dengan kombinasi tetuanya. Proporsi rekombinasi sama dengan proporsi crossing over. Dengan demikian rekombinasi ini berkaitan dengan gen yang dalam keadaan linkage (Suratsih, 2003).
            Linkage adalah kesatuan antara dua atau lebih sifat menurun yang disebabkan oleh dua gen yang tergabung pada kromosom sama. Makin dekat letak gen-gen tersebut makin ketat linkage, sedang pada percobaan Mendel hanya mempelajari kombinasi gen yang bersifat bercampur bebas (independent assortment) artinya gen dapat terdistribusi ke gamet secara random. Mendel mempelajari tujuh pasangan sifat yang kebetulan terletak pada kromosom yang berbeda, sehingga diantara sifat-sifat itu tidak linkage. Bila gen-gen yang menjadi obyek pemuliaan dalam keadaan linkage yakni linkage antara gen yang diinginkan dan tidak diinginkan, maka akan menghambat perbaikan sifat pada pemuliaan. Hambatan tersebut sangat bergantung dari nilai rekombinasi. Makin kecil nilai rekombinasi gen-gen tersebut, maka kemungkinan untuk memperoleh kombinasi baru yang diinginkan menurun secara drastic. Sebaliknya linkage antara gen yang diinginkan dapat membantu program pemuliaan (Suratsih, 2003).

BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1 Alat
            Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah kuas, uang koin putih, alat tulis dan wadah cat air.
III.2  Bahan
            Bahan-bahan yang diperlukan untuk percobaan ini adalah air, cat air dan kertas HVS/A4.
III.3 Cara Kerja
Adapun prosedur kerja dalam percobaan ini adalah :
1.   Masing-masing praktikan membuat lingkaran di atas kertas sebanyak 9 buah.
2.  Membuat campuran cat warna sedemikian rupa yang kemudian dicat di atas lingkaran yang telah dibuat dengan ketentuan dari kiri ke kanan semakin gelap.
3.   Pada lingkaran nomor 1 diberi cat warna putih, sedangkan pada lingkaran nomor 9 diberi cat warna hitam. Lingkaran nomor 5 merupakan hasil campuran warna pada lingkaran nomor 1 dan 9. Lingkaran nomor 3 merupakan hasil pencampuran warna pada lingkaran nomor 1 dan 5. Lingkaran nomor 7 merupakan hasil pencampuran warna pada lingkaran nomor 5 dan 9. Lingkaran nomor 2 merupakan hasil pencampuran warna pada lingkaran nomor 1 dan 3. Lingkaran nomor 4 merupakan hasil pencampuran warna pada lingkaran nomor 3 dan 5. Lingkaran nomor 6 merupakan hasil pencampuran warna pada lingkaran nomor 5 dan 7. Lingkaran nomor 8 merupakan hasil pencampuran warna pada lingkaran nomor 7 dan 9.
4.      Masing-masing praktikan membuat kemungkinan genotip dari masing-masing warna yang ada dengan menggunakan simbol gen ganda (G1G1G2G2G3G3G4G4) beserta grafiknya.


















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Percobaan
P1   =          ♀g1g1g2g2g3g3g4g4            x          ♂G1G1G2G2G3G3G4G4
                          (Putih)                                         (Hitam)

F1   =                                 G1g1G2g2G3g3G4g4
                                                                     (Abu-abu)

P2   =          ♀ G1g1G2g2G3g3G4g4     x          ♂ G1g1G2g2G3g3G4g4
                             ( Abu-abu)                                (Abu-abu)

F2   =                                            

1 G4G4 =1 (8G)
1 G3G3                             2 G4g4 =2 (7G)
1 g4g4   = 1 (6G)

1 G4G4 = 2 (7G)
1 G2G2                           2 G3g3                    2 G4g4 = 4 (6G)
1 g4g4   = 2 (5G)

1 G4G4 = 1 (6G)
1 g3g3                     2 G4g4  = 2 (5G)
1 g4g4   = 1 (4G)

1 G4G4 = 2 (7G)
1 G3G3                             2 G4g4 = 4 (6G)
1 g4g4   = 2 (5G)

1 G4G4 = 4 (6G)
1 G1G1                                       2 G2g2                            2 G3g3                    2 G4g4            = 8 (5G)
1 g4g4   = 4 (4G)

1 G4G4 =2 (5G)
1 g3g3                     2 G4g4  = 4 (4G)
1 g4g4   = 2 (3G)
1 G4G4 = 1 (6G)
1 G3G3                             2 G4g4 = 2 (5G)
1 g4g4   = 1( 4G)

1 G4G4 =2 (5G)
1 g2g2                             2 G3g3                    2 G4g4 = 4 (4G)
1 g4g4   = 2 (3G)

1 G4G4 = 1 (4G)
1 g3g3                     2 G4g4  = 2 (3G)
1 g4g4   = 1 (2G)

1 G4G4 = 2 (7G)
1 G3G3                             2 G4g4 = 4 (6G)
1 g4g4   = 2 (5G)
 

1 G4G4 = 4 (6G)
1 G2G2                           2 G3g3                    2 G4g4 = 8 (5G)
1 g4g4   = 4 (4G)

1 G4G4 = 2 (5G)
1 g3g3                     2 G4g4  = 4 (4G)
1 g4g4   = 2 (3G)

1 G4G4 = 4 (6G)
1 G3G3                             2 G4g4 = 8 (5G)
1 g4g4   = 4 (4G)

1 G4G4 = 8 (5G)
2 G1g1                                       2 G2g2                            2 G3g3                     2 G4g4=16 (4G)
1 g4g4   = 8 (3G)

1 G4G4= 4 (4G)
1 g3g3                     2 G4g4  = 8 (3G)
1 g4g4   = 4 (2G)

1 G4G4 = 2(5G)
1 G3G3                             2 G4g4 = 4 (4G)
1 g4g4   = 2 (3G)

1 G4G4 =4 (4G)
1 g2g2                             2 G3g3                    2 G4g4 = 8 (3G)
1 g4g4   = 4 (2G)

1 G4G4 =2 (3G)
1 g3g3                     2 G4g4  = 4 (2G)
1 g4g4   = 2 (1G)

1 G4G4 = 1 (6G)
1 G3G3                             2 G4g4 = 2 (5G)
1 g4g4   = 1 (4G)
 

1 G4G4 = 2 (5G)
1 G2G2                           2 G3g3                    2 G4g4 = 4 (4G)
1 g4g4   = 2 (3G)

1 G4G4 = 1 (4G)
1 g3g3                     2 G4g4  = 2 (3G)
1 g4g4   = 1 (2G)

1 G4G4 = 2 (5G)
1 G3G3                             2 G4g4 = 4 (4G)
1 g4g4   = 2 (3G)

1 G4G4 = 4 (4G)
1 g1g1                                       2 G2g2                             2 G3g3                     2 G4g4            = 8 (3G)
1 g4g4   = 4 (2G)

1 G4G4 =2 (3G)
1 g3g3                     2 G4g4  = 4 (2G)
1 g4g4   = 2 (1G)

1 G4G4= 1( 4G)
1 G3G3                             2 G4g4 = 2 (3G)
1 g4g4   = 1 (2G)

1 G4G4 =2 (3G)
1 g2g2                             2 G3g3                    2 G4g4 = 4 (2G)
1 g4g4   = 2 (1G)

1 G4G4 =1 (2G)
1 g3g3                     2 G4g4  = 2 (1G)
1 g4g4   = 1 (0G)
Rasio Genotip= 1 8G : 8 7G : 28 6G : 56 5G : 70 4G : 56 3G : 28 2G : 8 1G : 1 0G
                        =    1    :    8    :    28    :    56    :    70    :    56    :   28     :    8   :    1
Total = 28
          = 256

IV.2  Pembahasan
Pada percobaan yang dilakukan digunakan empat pasang gen (G1, G2, G3, dan G4) yang berpengaruh di dalamnya sehingga dihasilkan 9 kelas fenotip dan genotip yang berbeda. Dari persilangan P yang putih = 0 G dengan hitam = 8 G diperoleh anakan berwarna abu-abu (dalam hal ini disimbolkan = 4G). Kemudian F1 disilangkan dengan sesamanya maka akan diperoleh hasil berupa 9 genotip yang masing-masing berpengaruh terhadap penampakan fenotipnya. Kesembilan fenotip beserta jumlah rasio anakannya diperoleh sebagai berikut :
Genotip
Jumlah
8 G
1
7 G
8
6 G
28
5 G
56
4 G
70
3 G
56
2 G
28
1 G
8
0 G
1
å
256
Jika data yang diperoleh dikonversi ke dalam bentuk kurva maka akan diperoleh kurva normal. Oleh karena data yang diperoleh maka hasilnya kurva normal bersifat simetris, maka separuh bagian daerah dibawahnya ditempati oleh data yang mempunyai nilai lebih besar daripada nilai tengah dan separuh bagian lainnya terdiri atas data yang nilainya lebih kecil daripada nilai tengah.
Dari kurva diatas dapat dilihat bahwa terjadinya variasi dimana anakan yang diperoleh dalam bentuk variasi yang lain selain galur murninya lebih banyak dan beraneka ragam. Dari hasil yang diperoleh didapatkan perbandingan genotip 1 : 8 : 28 : 56 : 70 : 56 : 28 : 8 : 1. Hasil ini menunjukkan hasil yang berbeda dengan teori Mendel yang apabila dilakukan persilangan satu beda sifat seperti yang dilakukan dalam percobaan, yakni sifat putih dan hitam, dimana hitam merupakan sifat dominan maka seharusnya diperoleh F1 yang semuanya memiliki sifat dominan, sedangkan dalam F2 terdapat keturunan yang memisah dengan perbandingan 3 :1. Namun dalam percobaan walaupun dengan memperhatikan satu beda sifat yaitu putih dan hitam akan tetapi hasil yang diperoleh berbeda dengan teori Mendel. F1 yang diperoleh semuanya intermediet dalam hal ini bergenotip abu-abu (4 G), apabila F1 disilangkan dengan sesamanya maka diperoleh F2 yang memperlihatkan banyak variasi antara kedua induknya. 
Variasi ini timbul akibat adanya gen-gen berpasangan yang saling berinteraksi menghasilkan suatu fenotip tertentu yang diakibatkan karena adanya gen-gen ganda yang bersifat kumulatif. Pada aksi gen kumulatif ini setiap alel pada lokus tersebut akan menambah atau mengurangi nilai fenotip. Seperti halnya yang ditunjukkan pada kasus dalam percobaan yang dilakukan dimana gen dominan G mempengaruhi perubahan warna dan menimbulkan adanya variasi. Semakin banyak gen G yang diwarisi maka semakin tua warnanya karenanya diperoleh F2 dalam 9 kelas fenotip maupun genotip dan menunjukkan adanya gradasi warna dari individu 0 G ke 8 G.
Jadi, jelaslah perbedaan antara hasil percobaan yang dilakukan dengan teori Mendel. Sifat ketutunan berdasarkan hasil percobaan ditinjau secara kuantitatif, artinya sifat keturunan tampak berderajat berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu. Sedangkan Mendel meninjau sifat keturunan secara kualitatif artinya sifat keturunan itu tampak atau tidak.
Kasus seperti ini terjadi dalam kasus pewarisan warna kulit manusia. Jika seorang negro menikah dengan seorang berkulit putih maka 100% anak mereka berkulit sawo matang (mulatto). Apabila anaknya menikah dengan sesamanya maka sesuai penelitian Curl Sern diperoleh sembilan kelas fenotip, hal ini diasumsikan jika pedoman penurunan sifat warna kulit ini mempunyai empat pasang gen. Jadi, jumlah kelas fenotip yang dapat diharapkan di dalam keturunan lebih banyak daripada banyaknya gen yang ikut mengambil peranan.



BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
1.      Dalam genetika kuantitatif suatu sifat dikendalikan oleh banyak gen (poligen)
sehingga sifat keturunan tampak berderajat berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu sedangkan dalam genetika kualitatif satu sifat diatur oleh sebuah gen (single genic) sehingga setiap sifat mudah dibedakan karena masing-masing mempunyai pola populasi yang jauh berbeda.
2.Cara mengumpulkan data tentang pewarisan kuantitatif adalah dengan mengidentifikasi sifat-sifat dengan sebaran kontinu yang mempunyai nilai tertentu kemudian data tersebut dikelompokkan menjadi beberapa sehingga diperoleh perbandingan genotipnya dan dibuat ke dalam bentuk kurva agar mudah ditafsirkan, penafsiran ini dilakukan dengan cara memperhatikan jumlah kelas fenotip yang muncul.
V.2 Saran
            Adapun saran mengenai percobaan ini sebaiknya laporan ditulis tangan agar lebih mudah untuk membuat persilangannya.



DAFTAR PUSTAKA

Agus,Rosana,2014.Penuntun Praktikum Genetika. Universitas Hasanuddin,
Makassar.

            html. diakses pada tanggal 30 Maret 2014, pukul 12.47 WITA, Makassar.

Campbell, N. A, Reece, J. B. 2008.Biologi Edisi kedelapan Jilid I. Erlangga.
 Jakarta.

Kusumah, Darmawan, A. 2012. Pewarisan Kuantitatif dan Kualitatif.http://darma
wankusumah/5/06/2012-pewarisan-kuantitatif-dan-kualitatif.com. diakses pada tanggal 30 Maret 2014, pukul 12.44 WITA, Makassar.

Sukarni. 2012. Alel Ganda. http://alelganda/4/01/2012-laporan.com. diakses pada
            tanggal 30 Maret 2014, pukul 12.31 WITA, Makassar.

Suratsih. 2003. Genetika. Universitas Negeri Yogyakarta Press. Yogyakarta.

Suryo. 1994. Genetika Manusia. UGM Press. Yogyakarta.












IV.2  Pembahasan
Pada percobaan yang dilakukan digunakan empat pasang gen (G1, G2, G3, dan G4) yang berpengaruh di dalamnya sehingga dihasilkan 9 kelas fenotip dan genotip yang berbeda. Dari persilangan P yang putih = 0 G dengan hitam = 8 G diperoleh anakan berwarna abu-abu (dalam hal ini disimbolkan = 4G). Kemudian F1 disilangkan dengan sesamanya maka akan diperoleh hasil berupa 9 genotip yang masing-masing berpengaruh terhadap penampakan fenotipnya. Kesembilan fenotip beserta jumlah rasio anakannya diperoleh sebagai berikut :
Genotip
Jumlah
8 G
1
7 G
8
6 G
28
5 G
56
4 G
70
3 G
56
2 G
28
1 G
8
0 G
1
å
256
Jika data yang diperoleh dikonversi ke dalam bentuk kurva maka akan diperoleh kurva normal. Oleh karena data yang diperoleh maka hasilnya kurva normal bersifat simetris, maka separuh bagian daerah dibawahnya ditempati oleh data yang mempunyai nilai lebih besar daripada nilai tengah dan separuh bagian lainnya terdiri atas data yang nilainya lebih kecil daripada nilai tengah.
Dari kurva diatas dapat dilihat bahwa terjadinya variasi dimana anakan yang diperoleh dalam bentuk variasi yang lain selain galur murninya lebih banyak dan beraneka ragam. Dari hasil yang diperoleh didapatkan perbandingan genotip 1 : 8 : 28 : 56 : 70 : 56 : 28 : 8 : 1. Hasil ini menunjukkan hasil yang berbeda dengan teori Mendel yang apabila dilakukan persilangan satu beda sifat seperti yang dilakukan dalam percobaan, yakni sifat putih dan hitam, dimana hitam merupakan sifat dominan maka seharusnya diperoleh F1 yang semuanya memiliki sifat dominan, sedangkan dalam F2 terdapat keturunan yang memisah dengan perbandingan 3 :1. Namun dalam percobaan walaupun dengan memperhatikan satu beda sifat yaitu putih dan hitam akan tetapi hasil yang diperoleh berbeda dengan teori Mendel. F1 yang diperoleh semuanya intermediet dalam hal ini bergenotip abu-abu (4 G), apabila F1 disilangkan dengan sesamanya maka diperoleh F2 yang memperlihatkan banyak variasi antara kedua induknya. 
Variasi ini timbul akibat adanya gen-gen berpasangan yang saling berinteraksi menghasilkan suatu fenotip tertentu yang diakibatkan karena adanya gen-gen ganda yang bersifat kumulatif. Pada aksi gen kumulatif ini setiap alel pada lokus tersebut akan menambah atau mengurangi nilai fenotip. Seperti halnya yang ditunjukkan pada kasus dalam percobaan yang dilakukan dimana gen dominan G mempengaruhi perubahan warna dan menimbulkan adanya variasi. Semakin banyak gen G yang diwarisi maka semakin tua warnanya karenanya diperoleh F2 dalam 9 kelas fenotip maupun genotip dan menunjukkan adanya gradasi warna dari individu 0 G ke 8 G.
Jadi, jelaslah perbedaan antara hasil percobaan yang dilakukan dengan teori Mendel. Sifat ketutunan berdasarkan hasil percobaan ditinjau secara kuantitatif, artinya sifat keturunan tampak berderajat berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu. Sedangkan Mendel meninjau sifat keturunan secara kualitatif artinya sifat keturunan itu tampak atau tidak.
Kasus seperti ini terjadi dalam kasus pewarisan warna kulit manusia. Jika seorang negro menikah dengan seorang berkulit putih maka 100% anak mereka berkulit sawo matang (mulatto). Apabila anaknya menikah dengan sesamanya maka sesuai penelitian Curl Sern diperoleh sembilan kelas fenotip, hal ini diasumsikan jika pedoman penurunan sifat warna kulit ini mempunyai empat pasang gen. Jadi, jumlah kelas fenotip yang dapat diharapkan di dalam keturunan lebih banyak daripada banyaknya gen yang ikut mengambil peranan.


BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
2.      Dalam genetika kuantitatif suatu sifat dikendalikan oleh banyak gen (poligen)
sehingga sifat keturunan tampak berderajat berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu sedangkan dalam genetika kualitatif satu sifat diatur oleh sebuah gen (single genic) sehingga setiap sifat mudah dibedakan karena masing-masing mempunyai pola populasi yang jauh berbeda.
2.Cara mengumpulkan data tentang pewarisan kuantitatif adalah dengan mengidentifikasi sifat-sifat dengan sebaran kontinu yang mempunyai nilai tertentu kemudian data tersebut dikelompokkan menjadi beberapa sehingga diperoleh perbandingan genotipnya dan dibuat ke dalam bentuk kurva agar mudah ditafsirkan, penafsiran ini dilakukan dengan cara memperhatikan jumlah kelas fenotip yang muncul.
V.2 Saran
            Adapun saran mengenai percobaan ini sebaiknya laporan ditulis tangan agar lebih mudah untuk membuat persilangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar