LAPORAN
PRAKTIKUM
GENETIKA
PERCOBAAN IV
PEWARISAN
KUANTITATIF
NAMA :
SOPHIA
MARCELINA YANSIP
NIM :
H41113701
KELOMPOK : V (LIMA) B
HARI/TANGGAL
PERCOBAAN : KAMIS/27 MARET 2014
ASISTEN : RISKY NURHIKMAYANI

LABORATORIUM GENETIKA JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Biasanya kita menghadap bahwa suatu
kelas fenotip selalu dapat dibedakan dari kelas fenotip yang lain, akan tetapi kenyataannya
sifat keturunannya seringkali tidak dapat dipisahkan semudah itu (Agus, 2014).
Pada tahun 1909, seorang ahli
genetika Swedia Nilson Ehle menganalisis hasil pewarisan warna biji gandum
terigu dan berhasil menyumbangkan suatu konsep yang sangat penting dalam
genetika. Arti penting dari Nilson Ehle terletak pada faktor bahwa sifat-sifat
itu tidak selalu ditentukan oleh pasangan gen yang berbeda yang berinteraksi
yang menghasilkan suatu fenotip tertentu (Agus, 2014).
Pada kasus warna biji gandum, interaksi
itu bersifat kumulatif. Makin banyak suatu tanaman mewarisi gen dominan, makin
tua warnanya. Situasi semacam ini disebut pewarisan poligen dan melibatkan
pewarisan ciri-ciri kuantitatif. Sifat kuantitatif diatur pengaruh gen-gen
ganda (multiple gen atau poligen) dari masing-masing pengaruhnya kecil. Pada
aksi gen kumulatif ini setiap alel pada lokus tersebut akan menambah atau
menguragi nilai fenotip. Mekanisme pewarisan ini sering juga disebut pewarisan
faktor majemuk (Agus 2014).
Pewarisan karakter kualitatif mudah
dibedakan karena masing-masing mempunyai pola populasi yang jauh berbeda. Di
lain pihak tertentu ada kelompok antara yang sukar dikategorikan. Kelompok ini
mewakili zona transisi diantara kedua sistem pewarisan karakter dan termasuk
bentuk antara yang diwariskan karena pengaruh interaksi lingkungan yang
memungkinkan adanya sejumlah genotip yang diekspresikan pada bentuk fenotipnya
(Agus, 2014).
I.2
Tujuan Percobaan
Adapun
tujuan percobaan Pewarisan Kuantitatif yaitu sebagai berikut :
1. Menjelaskan
perbedaan antara genetika kuantitatif dan genetika kualitatif
2. Mengetahui
cara mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan data penelitian tentang
pewarisan kuantitatif
I.3
Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan
Pewarisan Kuantitatif dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Maret 2014 pukul
14.00-17.00 WITA, bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin,
Makassar.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Genetika
berasal dari bahasa
Yunaniγέννω atau genno yang berarti
"melahirkan". merupakan cabang biologi
yang penting saat ini. Ilmu ini mempelajari berbagai aspek yang menyangkut pewarisan sifat dan
variasi sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion). Ada
pula yang dengan singkat mengatakan, genetika adalah ilmu tentang gen. Nama "genetika"
diperkenalkan oleh William Bateson pada suatu surat pribadi kepada Adam Chadwick dan ia menggunakannya pada
Konferensi Internasional tentang genetika ke-3 pada tahun 1906. Bidang kajian
genetika dimulai dari wilayah molekular hingga populasi. Secara lebih
rinci, genetika berusaha menjelaskan material
pembawa informasi untuk diwariskan (bahan genetik), bagaimana informasi itu diekspresikan (ekspresi
genetik) dan bagaimana
informasi itu dipindahkan dari satu individu ke individu yang lain (pewarisan
genetik) (Kusumah, 2012).
Pewarisan sifat yang dikendalikan oleh poligen tersebut pertama kali
ditemukan pada tanaman tembakau (Nicotiana
tabacum) oleh J. Kolreuter (1760). Saat menyilangkan tanaman dengan dua
sifat beda, keturunan yang didapat pada F1 adalah intermediet, sedangkan F2
terdapat banyak variasi antara kedua tanaman induknya. Sifat keturunan terlihat
berderajat berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu. Pewarisan sifat yang
dikendalikan oleh poligen dapat terjadi baik pada tumbuhan, hewan, maupun
manusia. Contoh poligen pada tumbuhan adalah warna biji pada tanaman
gandum,panjang bunga tembakau serta berat buah tomat. Contoh poligen pada
manusia adalah perbedaan pigmentasi kulit, jumlah rigi dermal dan tinggi badan (Sukarni,
2012).
Poligen
merupakan suatu seri gen ganda yang menentukan sifat secara kuantitatif. Pada
pewarisan sifat, kita dapat menemukan adanya variasi sifat yang diturunkan. Hal
ini disebabkan oleh gen ganda (multiple gen / poligen). Dalam hal ini,
pewarisan sifat dikendalikan oleh lebih dari satu gen pada lokus yang berbeda
dalam kromosom yang sama atau berlainan (Campbell, dkk., 2008).
Setiap manusia di dunia ini pasti berbeda.
Salah satunya adalah bentuk garis-garis pada jari, atau yang lazim kita sebut
sebagai 'sidik jari'. Karena sidik jari bersifat unik, setiap orang yang hidup
di bumi mempunyai bentuk sidik jari yang berlainan. Karena sifat unik inilah,
sidik jari dijadikan sebagai salah satu bukti identitas seseorang yang berlaku
secara internasional. Ternyata sidik jari baru mulai diperhatikan pada akhir
abad ke-19. Berawal dari tulisan seseorang ilmuwan Inggris Henry Faulds pada 1880
yang menyatakan bahwa sidik jari orang-orang tak berubah sepanjang hayat
mereka, dan bahwa terdakwa-terdakwa bisa diyakinkan dengan sidik jari yang
mereka tinggalkan di permukaan benda seperti kaca. Dalam genetika kuantitatif, konsep poligen berarti banyak gen digunakan untuk menjelaskan terbentuknya sifat kuantitatif. Ronald Fisher (1918) dapat
menjelaskan bahwa sifat kuantitatif terbentuk dari banyak gen dengan pengaruh
kecil, yang masing-masing bersegregasi menuruti teori
Mendel. Karena pengaruhnya kecil, fenotipe yang diatur oleh gen-gen ini dapat dipengaruhi oleh lingkungan.
Meskipun demikian, penjelasan Fisher ini tetap menempatkan "gen-gen"
yang mengatur sifat kuantitatif sebagai sesuatu yang abstrak karena hanya
merupakan konsep (Suryo, 1994).
Klasifikasi sidik jari yang digunakan secara
luas adalah sistem Henry dan variasi-variasinya yang diperkenalkan oleh Edward
Henry (1899). Klasifikasi sidik jari adalah membagi data pola garis alur sidik
jari kedalam kelompok-kelompok kelas ciri yang menjadi karakteristik sidik jari
tersebut yaitu untuk memercepat proses identifikasi. Ada dua jenis kategori
sidik jari yaitu kategori bersifat umum (global) dan kategori yang bersifat
khusus (lokal) yaitu untuk menggambarkan ciri-ciri khusus individual, seperti
jumlah minutiae, jumlah dan posisi
inti (core), dan jumlah dan posisi delta. Beberapa
sifat keturunan dapat ditentukan oleh gen autosomal dan ada juga yang
ekspresinya dipengaruhi oleh jenis kelamin (sex). Sifat tersebut dapat tampak
pada kedua jenis kelamin, tetapi pada salah satu jenis kelamin ekspresinya
lebih besar dibandingkan jenis kelamin lainnya (Suratsih, 2003).
Cabang genetika yang membahas
pewarisan sifat-sifat terukur (kuantitatif atau metrik), yang tidak bisa dijelaskan secara langsung
melalui hukum pewarisan Mendel. Sifat-sifat yang tergolong sifat kuantitatif
misalnya tinggi atau berat badan, hasil panen, atau produksi susu (Kusumah,
2012).
Genetika
kuantitatif menerapkan hukum pewarisan Mendel untuk gen dengan pengaruh yang
kecil/lemah (minor gene).
Selain itu, diasumsikan pula bahwa tidak hanya sedikit gen yang mengendalikan
suatu sifat melainkan banyak gen. Karena itu, sifat kuantitatif sering
dasamakan dengan sifat poligenik (Suratsih, 2003).
Pewarisan
genetik (Inggris genetic inheritance)
adalah aspek pertama yang dipelajari orang dalam genetika karena berkaitan
langsung dengan fenotipe. Sebagai contoh, Gregor Johann Mendel mempelajari peawarisan tujuh sifat pada tanaman
kapri, atau Karl Pearson (salah satu pelopor genetika kuantitatif)
mempelajari pewarisan ukuran tubuh orang tua dan anaknya. Kajian genetika yang
mempelajari aspek ini dijuluki genetika
transmisional, karena membahas bagaimana bahan genetik dialihkan dari
satu generasi ke geneasi lainnya beserta implikasi yang menyertainya (Anonim,
2013).
Ilmu
ini banyak menggunakan matematika dan statistika dalam menjelaskan prinsip-prinsip yang dipakai maupun
dalam metodologinya. Namun demikian, penerapan ilmu ini dalam ilmu
pemuliaan sangat bermanfaat
dalam bidang pertanian(Anonim, 2013).
Genetika
kuantitatif dimulai pada tahun 1918 oleh Ronald Fisher (ahli biostatistika
dari Inggris) yang menerbitkan On the
correlation between relatives on the supposition of Mendelian inheritance
(secara bebas berarti "Keterkaitan antarkerabat berdasarkan pewarisan
Mendel"), yang mengakhiri perseteruan antara teori biometri
(Pearson dkk.) dan teori Mendel sekaligus mengawali sintesis keduanya (Anonim,
2013).
Penampakansuatutanamanataufenotipeditentukanolehinteraksigenotipedenganfaktor
lingkungan. Untukmeningkatkankemampuantanaman,
sangattergantungbagaimanamemanipulasigen agar menjadigenotipe yang
diharapkanbaiksebagai individu tanamanmaupunsebagaianggotasuatupopulasi. Sifat yang
nampak keluar dapat dibedakan atas sifat kualitatif dan sifat kuantitatif.
Sifat dapat dibedakan secara tegas atau diskrit, karena dikendalikan oleh gen
sederhana, sedangkan sifat kuantitatif tidak dapat dibedakan secara tegas
karena dikendalikan oleh banyak gen sehingga kalau dibuat distribusinya akan
menunjukkan distribusi continue (Sukarni,
2012).
Sifat kualitatif adalah sifat yang
secara kualitatif berbeda sehingga mudah dikelompokkan dan biasanya dinyatakan
dalam kategori, Sifat ini yang menjadi obyek penelitian Mendel sehingga
tercipta hukumnya yang yang terkenal dengan Genetika Mendel menyangkut
segregasi, rekombinasi, linkage, interaksi non alel dan lain-lain yang dapat
menyebabkan berhasil tidaknya hibridisasi (Sukarni, 2012).
Dasar heredity yang digunakan Mendel berasal dari organisme yang mempunyai
sifat tegas dan konstan. Disamping itu disyaratkan bahwa tetua dan cara
perkawinannya ditentukan secara pasti. Dari hasil perkawinan akan diperoleh
keturunan yang mengalami segregasi. Bila sepasang tetua keduanya
homozigot atau dari penyerbukan sendiri, maka segregasi terjadi baru pada
F2. Segregasi terjadi pada proses meiosis yang
menyebabkan gen-gen pada suatu lokus terpisah dan masing-masing dapat membentuk
gamet yang berbeda (Sukarni, 2012).
Dengan demikian dimungkinkan
terjadinya kombinasi-kombinasi berbeda, yang menyebabkan perbedaan genotype
keturunan. Makin banyak pasangan gen yang mengalami segregasi, makin banyak
kombinasi yang dapat terjadi pada keturunan, bahkan peningkatannya secara
eksponensial (Sukarni, 2012).
Ternyata makin banyak pasangan gen
yang terlibat berarti akan menghadapi sejumlah besar perbedaan genotype. Ole
karena sifat kualitatif hanya dikendalikan oleh beberapa pasang gen, maka untuk
pasangan gen yang besar tidak lagi memberikan gambaran yang tegas tetapi
bersifat continue sehingga hal ini termasuk kategori sifat kuantitatif (Sukarni,
2012).
Rekombinasi adalah suatu kombinasi baru dari pasangan gen yang linkage sehingga
berbeda dengan kombinasi tetuanya. Proporsi rekombinasi sama dengan proporsi
crossing over. Dengan demikian rekombinasi ini berkaitan dengan gen yang dalam
keadaan linkage (Suratsih, 2003).
Linkage adalah kesatuan antara dua atau lebih sifat menurun yang disebabkan
oleh dua gen yang tergabung pada kromosom sama. Makin dekat letak gen-gen
tersebut makin ketat linkage, sedang pada percobaan Mendel hanya mempelajari
kombinasi gen yang bersifat bercampur bebas (independent assortment) artinya gen dapat terdistribusi ke gamet
secara random. Mendel mempelajari tujuh pasangan sifat yang kebetulan terletak
pada kromosom yang berbeda, sehingga diantara sifat-sifat itu tidak linkage.
Bila gen-gen yang menjadi obyek pemuliaan dalam keadaan linkage yakni linkage
antara gen yang diinginkan dan tidak diinginkan, maka akan menghambat perbaikan
sifat pada pemuliaan. Hambatan tersebut sangat bergantung dari nilai
rekombinasi. Makin kecil nilai rekombinasi gen-gen tersebut, maka kemungkinan
untuk memperoleh kombinasi baru yang diinginkan menurun secara drastic.
Sebaliknya linkage antara gen yang diinginkan dapat membantu program pemuliaan
(Suratsih, 2003).
BAB III
METODE
PERCOBAAN
III.1 Alat
Alat-alat
yang digunakan dalam percobaan ini adalah kuas, uang koin putih, alat tulis dan
wadah cat air.
III.2 Bahan
Bahan-bahan
yang diperlukan untuk percobaan ini adalah air, cat air dan kertas HVS/A4.
III.3 Cara
Kerja
Adapun prosedur kerja dalam
percobaan ini adalah :
1. Masing-masing
praktikan membuat lingkaran di atas kertas sebanyak 9 buah.
2. Membuat
campuran cat warna sedemikian rupa yang kemudian dicat di atas lingkaran yang
telah dibuat dengan ketentuan dari kiri ke kanan semakin gelap.
3. Pada
lingkaran nomor 1 diberi cat warna putih, sedangkan pada lingkaran nomor 9
diberi cat warna hitam. Lingkaran nomor 5 merupakan hasil campuran warna pada
lingkaran nomor 1 dan 9. Lingkaran nomor 3 merupakan hasil pencampuran warna
pada lingkaran nomor 1 dan 5. Lingkaran nomor 7 merupakan hasil pencampuran
warna pada lingkaran nomor 5 dan 9. Lingkaran nomor 2 merupakan hasil
pencampuran warna pada lingkaran nomor 1 dan 3. Lingkaran nomor 4 merupakan
hasil pencampuran warna pada lingkaran nomor 3 dan 5. Lingkaran nomor 6
merupakan hasil pencampuran warna pada lingkaran nomor 5 dan 7. Lingkaran nomor
8 merupakan hasil pencampuran warna pada lingkaran nomor 7 dan 9.
4. Masing-masing
praktikan membuat kemungkinan genotip dari masing-masing warna yang ada dengan
menggunakan simbol gen ganda (G1G1G2G2G3G3G4G4) beserta grafiknya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Percobaan
P1 = ♀g1g1g2g2g3g3g4g4 x ♂G1G1G2G2G3G3G4G4
(Putih) (Hitam)
F1 = G1g1G2g2G3g3G4g4
(Abu-abu)
P2 = ♀ G1g1G2g2G3g3G4g4 x ♂ G1g1G2g2G3g3G4g4
(
Abu-abu) (Abu-abu)
F2 =
1 g4g4 = 2 (5G)
Rasio Genotip= 1 8G : 8
7G : 28 6G : 56 5G : 70 4G : 56 3G : 28 2G : 8 1G : 1 0G
= 1
: 8 :
28 : 56
: 70 :
56 : 28
: 8 : 1
Total = 28
= 256
IV.2 Pembahasan
Pada percobaan yang dilakukan
digunakan empat pasang gen (G1, G2, G3, dan G4)
yang berpengaruh di dalamnya sehingga dihasilkan 9 kelas fenotip dan genotip
yang berbeda. Dari persilangan P yang putih = 0 G dengan hitam = 8 G diperoleh
anakan berwarna abu-abu (dalam hal ini disimbolkan = 4G). Kemudian F1
disilangkan dengan sesamanya maka akan diperoleh hasil berupa 9 genotip yang
masing-masing berpengaruh terhadap penampakan fenotipnya. Kesembilan fenotip
beserta jumlah rasio anakannya diperoleh sebagai berikut :
Genotip
|
Jumlah
|
8 G
|
1
|
7 G
|
8
|
6 G
|
28
|
5 G
|
56
|
4 G
|
70
|
3 G
|
56
|
2 G
|
28
|
1 G
|
8
|
0 G
|
1
|
å
|
256
|
Jika data yang diperoleh dikonversi
ke dalam bentuk kurva maka akan diperoleh kurva normal. Oleh karena data yang
diperoleh maka hasilnya kurva normal bersifat simetris, maka separuh bagian
daerah dibawahnya ditempati oleh data yang mempunyai nilai lebih besar daripada
nilai tengah dan separuh bagian lainnya terdiri atas data yang nilainya lebih
kecil daripada nilai tengah.
Dari kurva diatas dapat dilihat
bahwa terjadinya variasi dimana anakan yang diperoleh dalam bentuk variasi yang
lain selain galur murninya lebih banyak dan beraneka ragam. Dari hasil yang
diperoleh didapatkan perbandingan genotip 1 : 8 : 28 : 56 : 70 : 56 : 28 : 8 :
1. Hasil ini menunjukkan hasil yang berbeda dengan teori Mendel yang apabila
dilakukan persilangan satu beda sifat seperti yang dilakukan dalam percobaan,
yakni sifat putih dan hitam, dimana hitam merupakan sifat dominan maka
seharusnya diperoleh F1 yang semuanya memiliki sifat dominan, sedangkan dalam
F2 terdapat keturunan yang memisah dengan perbandingan 3 :1. Namun dalam
percobaan walaupun dengan memperhatikan satu beda sifat yaitu putih dan hitam
akan tetapi hasil yang diperoleh berbeda dengan teori Mendel. F1 yang diperoleh
semuanya intermediet dalam hal ini bergenotip abu-abu (4 G), apabila F1
disilangkan dengan sesamanya maka diperoleh F2 yang memperlihatkan banyak
variasi antara kedua induknya.
Variasi ini timbul akibat adanya
gen-gen berpasangan yang saling berinteraksi menghasilkan suatu fenotip
tertentu yang diakibatkan karena adanya gen-gen ganda yang bersifat kumulatif.
Pada aksi gen kumulatif ini setiap alel pada lokus tersebut akan menambah atau
mengurangi nilai fenotip. Seperti halnya yang ditunjukkan pada kasus dalam
percobaan yang dilakukan dimana gen dominan G mempengaruhi perubahan warna dan
menimbulkan adanya variasi. Semakin banyak gen G yang diwarisi maka semakin tua
warnanya karenanya diperoleh F2 dalam 9 kelas fenotip maupun genotip dan
menunjukkan adanya gradasi warna dari individu 0 G ke 8 G.
Jadi, jelaslah perbedaan antara
hasil percobaan yang dilakukan dengan teori Mendel. Sifat ketutunan berdasarkan
hasil percobaan ditinjau secara kuantitatif, artinya sifat keturunan tampak
berderajat berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu. Sedangkan Mendel
meninjau sifat keturunan secara kualitatif artinya sifat keturunan itu tampak
atau tidak.
Kasus seperti ini terjadi dalam
kasus pewarisan warna kulit manusia. Jika seorang negro menikah dengan seorang
berkulit putih maka 100% anak mereka berkulit sawo matang (mulatto). Apabila
anaknya menikah dengan sesamanya maka sesuai penelitian Curl Sern diperoleh
sembilan kelas fenotip, hal ini diasumsikan jika pedoman penurunan sifat warna
kulit ini mempunyai empat pasang gen. Jadi, jumlah kelas fenotip yang dapat
diharapkan di dalam keturunan lebih banyak daripada banyaknya gen yang ikut
mengambil peranan.
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang
dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
1.
Dalam genetika kuantitatif suatu
sifat dikendalikan oleh banyak gen (poligen)
sehingga sifat keturunan tampak
berderajat berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu sedangkan dalam
genetika kualitatif satu sifat diatur oleh sebuah gen (single genic)
sehingga setiap sifat mudah dibedakan karena masing-masing mempunyai pola
populasi yang jauh berbeda.
2.Cara mengumpulkan data tentang pewarisan kuantitatif
adalah dengan mengidentifikasi sifat-sifat dengan sebaran kontinu yang
mempunyai nilai tertentu kemudian data tersebut dikelompokkan menjadi beberapa
sehingga diperoleh perbandingan genotipnya dan dibuat ke dalam bentuk kurva
agar mudah ditafsirkan, penafsiran ini dilakukan dengan cara memperhatikan
jumlah kelas fenotip yang muncul.
V.2 Saran
Adapun saran mengenai percobaan ini sebaiknya laporan ditulis tangan agar
lebih mudah untuk membuat persilangannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Agus,Rosana,2014.Penuntun
Praktikum Genetika. Universitas Hasanuddin,
Makassar.
html.
diakses pada tanggal 30 Maret 2014, pukul 12.47 WITA, Makassar.
Campbell, N. A, Reece, J. B. 2008.Biologi Edisi kedelapan Jilid I.
Erlangga.
Jakarta.
Kusumah, Darmawan, A. 2012. Pewarisan Kuantitatif dan Kualitatif.http://darma
wankusumah/5/06/2012-pewarisan-kuantitatif-dan-kualitatif.com. diakses
pada tanggal 30 Maret 2014, pukul 12.44 WITA, Makassar.
tanggal
30 Maret 2014, pukul 12.31 WITA, Makassar.
Suratsih. 2003. Genetika.
Universitas Negeri Yogyakarta Press. Yogyakarta.
Suryo. 1994. Genetika
Manusia. UGM Press. Yogyakarta.
IV.2 Pembahasan
Pada percobaan yang dilakukan
digunakan empat pasang gen (G1, G2, G3, dan G4)
yang berpengaruh di dalamnya sehingga dihasilkan 9 kelas fenotip dan genotip
yang berbeda. Dari persilangan P yang putih = 0 G dengan hitam = 8 G diperoleh
anakan berwarna abu-abu (dalam hal ini disimbolkan = 4G). Kemudian F1
disilangkan dengan sesamanya maka akan diperoleh hasil berupa 9 genotip yang
masing-masing berpengaruh terhadap penampakan fenotipnya. Kesembilan fenotip
beserta jumlah rasio anakannya diperoleh sebagai berikut :
Genotip
|
Jumlah
|
8 G
|
1
|
7 G
|
8
|
6 G
|
28
|
5 G
|
56
|
4 G
|
70
|
3 G
|
56
|
2 G
|
28
|
1 G
|
8
|
0 G
|
1
|
å
|
256
|
Jika data yang diperoleh dikonversi
ke dalam bentuk kurva maka akan diperoleh kurva normal. Oleh karena data yang
diperoleh maka hasilnya kurva normal bersifat simetris, maka separuh bagian
daerah dibawahnya ditempati oleh data yang mempunyai nilai lebih besar daripada
nilai tengah dan separuh bagian lainnya terdiri atas data yang nilainya lebih
kecil daripada nilai tengah.
Dari kurva diatas dapat dilihat
bahwa terjadinya variasi dimana anakan yang diperoleh dalam bentuk variasi yang
lain selain galur murninya lebih banyak dan beraneka ragam. Dari hasil yang
diperoleh didapatkan perbandingan genotip 1 : 8 : 28 : 56 : 70 : 56 : 28 : 8 :
1. Hasil ini menunjukkan hasil yang berbeda dengan teori Mendel yang apabila
dilakukan persilangan satu beda sifat seperti yang dilakukan dalam percobaan,
yakni sifat putih dan hitam, dimana hitam merupakan sifat dominan maka
seharusnya diperoleh F1 yang semuanya memiliki sifat dominan, sedangkan dalam
F2 terdapat keturunan yang memisah dengan perbandingan 3 :1. Namun dalam percobaan
walaupun dengan memperhatikan satu beda sifat yaitu putih dan hitam akan tetapi
hasil yang diperoleh berbeda dengan teori Mendel. F1 yang diperoleh semuanya
intermediet dalam hal ini bergenotip abu-abu (4 G), apabila F1 disilangkan
dengan sesamanya maka diperoleh F2 yang memperlihatkan banyak variasi antara
kedua induknya.
Variasi ini timbul akibat adanya
gen-gen berpasangan yang saling berinteraksi menghasilkan suatu fenotip
tertentu yang diakibatkan karena adanya gen-gen ganda yang bersifat kumulatif.
Pada aksi gen kumulatif ini setiap alel pada lokus tersebut akan menambah atau
mengurangi nilai fenotip. Seperti halnya yang ditunjukkan pada kasus dalam
percobaan yang dilakukan dimana gen dominan G mempengaruhi perubahan warna dan
menimbulkan adanya variasi. Semakin banyak gen G yang diwarisi maka semakin tua
warnanya karenanya diperoleh F2 dalam 9 kelas fenotip maupun genotip dan
menunjukkan adanya gradasi warna dari individu 0 G ke 8 G.
Jadi, jelaslah perbedaan antara
hasil percobaan yang dilakukan dengan teori Mendel. Sifat ketutunan berdasarkan
hasil percobaan ditinjau secara kuantitatif, artinya sifat keturunan tampak
berderajat berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu. Sedangkan Mendel
meninjau sifat keturunan secara kualitatif artinya sifat keturunan itu tampak
atau tidak.
Kasus seperti ini terjadi dalam
kasus pewarisan warna kulit manusia. Jika seorang negro menikah dengan seorang
berkulit putih maka 100% anak mereka berkulit sawo matang (mulatto). Apabila
anaknya menikah dengan sesamanya maka sesuai penelitian Curl Sern diperoleh
sembilan kelas fenotip, hal ini diasumsikan jika pedoman penurunan sifat warna
kulit ini mempunyai empat pasang gen. Jadi, jumlah kelas fenotip yang dapat
diharapkan di dalam keturunan lebih banyak daripada banyaknya gen yang ikut
mengambil peranan.
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang
dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
2.
Dalam genetika kuantitatif suatu
sifat dikendalikan oleh banyak gen (poligen)
sehingga sifat keturunan tampak berderajat
berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu sedangkan dalam genetika
kualitatif satu sifat diatur oleh sebuah gen (single genic) sehingga
setiap sifat mudah dibedakan karena masing-masing mempunyai pola populasi yang
jauh berbeda.
2.Cara mengumpulkan data tentang pewarisan kuantitatif
adalah dengan mengidentifikasi sifat-sifat dengan sebaran kontinu yang
mempunyai nilai tertentu kemudian data tersebut dikelompokkan menjadi beberapa
sehingga diperoleh perbandingan genotipnya dan dibuat ke dalam bentuk kurva
agar mudah ditafsirkan, penafsiran ini dilakukan dengan cara memperhatikan
jumlah kelas fenotip yang muncul.
V.2 Saran
Adapun saran mengenai percobaan ini sebaiknya laporan ditulis tangan agar
lebih mudah untuk membuat persilangannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar