LAPORAN
PRAKTIKUM
GENETIKA
PERCOBAAN I
IMITASI PERBANDINGAN GENETIS
NAMA :
SOPHIA MARCELINA
YANSIP
NIM :
H41113701
KELOMPOK : V (LIMA) B
HARI/TANGGAL
PERCOBAAN : KAMIS/6 MARET 2014
ASISTEN : RISKY NURHIKMAYANI
LABORATORIUM GENETIKA JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Makhluk hidup yang ada di muka bumi
ini sangat beragam. Setiap jenis makhluk hidup mempunyai sifat dan ciri tersendiri
sehingga dapat membedakannya antara yang satu dengan yang lainnya. Sifat atau
ciri yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup ada yang dapat diturunkan dan ada
pula yang tidak dapat diturunkan. Dalam pewarisan sifat dari generasi ke
generasi berikutnya mengikuti pola tertentu yang khas bagi setiap makhluk hidu.
Pewarisan sifat dari induk kepada keturunannya disebut hereditas. Cabang
biologi yang khusus mempelajari tentang hereditas adalah genetika. Tokoh yang
sangat berjasa dalam menemukan hukum-hukum genetika adalah Gregor Johann Mendel
(1822-1884) dari Austria. Beliau lahir tanggal 22 Juli 1822. Karena jasanya itu
beliau dijuluki sebagai Bapak Genetika (Elvita, dkk., 2008).
Dari hasil eksperimennya pada kacang
ercis, Mendel menarik kesimpulan bahwa dua alternatif yang berlawanan untuk
sifat tertentu seperti tinggi dan pendek. Konsep ini dikenal dengan dominan
resesif. Mengenai tinggi tanaman pada ercis, tinggi adalah dominan terhadap
pendek sedangkan mengenai warna polong, hijau dominan terhadap kuning. Mendel
melihat adanya konsistensi dalam jumlah tipe parental pada F2. Nampaknya selalu
ada rasio pada perbandingan 3:1. Sumbangan pikiran Mendel tidak berhenti pada
pengenalan rasio saja. Mendel mengadakan hipotesis bahwa sifat-sifat tersebut
ditentukan oleh sepasang unit, dan hanya sebuah unit diteruskan kepada
keturunannya oleh setiap induk. Hal ini dikenal dengan hukum Mendel I
(Segregasi bebas) (Tim Pengajar Genetika FMIPA UNHAS, 2014).
Dalam membahas genetika selalu
dijumpai hukum mendel, persilangan, istilah monohibrid, dihibrid, fenotip dan
genotip dan sebagainya. Dimulai dari hukum mendel 1, terjadi persilangan
monohibrid ( satu sifat beda). Terkadang mempelajari hukum mendel 1 ini tidak
cukup hanyadi kuliah tatap muka saja. Perlu adanya metode langsung yang
dipaparkan. Salah satu metode itu adalah praktikum ini. Yaitu mengaplikasikan
atau membuktikan hukum mendel 1 apakah hukum itu benar atau salah. Pembuktian
ini sangatlah penting karena untuk mempelajari genetika ke depannya sangat
diperlukan pemahaman akan dasar dari persilangan itu sendiri.sehingga pelajaran
selanjutnya bisa diikuti dengan baik. Pembuktian hukum mendel 1 dapat
menjadikan dalam mengaplikasikannya dapat lebih muda (Idris, 2012).
I.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan Imitasi Perbandingan
Genetis adalah untuk mendapat gambaran tentang kemungkinan gen-gen yang dibawa
oleh gamet-gamet tertentu dan akan bertemu secara acak atau random.
I.3 Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ImitasiPerbandinganGenetisdilaksanakan pada hari Kamis, 6 maret 2014 pukul 14.00-17.00 WITA,bertempat di Laboratorium Biologi
Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Abad ke-2 ditandai dengan ditandai dengan perkembangan di bidang molekuler dengan ditemukannya teknik manipulasi genetik atau lebih
dikenal dengan istilah rekayasa genetik
padaorganisme yang berkembangbiaksecaraseksual, melaluipembelahanmiosisdibentukgamet
yang haploid (n) yang jumlahkromosomdalamselkelaminhanyasetengahdariselsomatik.
Reduksiinipentinguntukmempertahankantetapnyajumlahkromosomindividu (Sumastri,
2005).
Setiapjenishewanataumanusiamempunyaijumlahkromosom yang tetapdanspesifik.
Jumlah kromosom dalam sel somatik manusia adalah 23 pasang, padatikus 20 pasang, pada Drosophila hanya 4 pasang, jagung 10
pasang. Kromosom sel somatik berpasang-pasang,
kecualikromosomsekstidakberpasangan. Karenakromosominiberpasangandikatakanselsomatisinimempunyaikromosom
yang diploid (Sumastri, 2005).
Dalamsel, molekul DNA membentuklingkaran yang berlipat yang
disebutkromosom. Padaseleukariota,
kromosominiberenangdalamsitoplasmadanberikatandengansejenis protein yang
disebuthiston. PadaselprokariotabiasanyahanyaterdiriatassatukromosomdanbeberapalingkaranDNA kecildisebutkromosomekstra.
Kromosomekstrainibervariasidalamukuranmaupunjumlahnyapadasetiaporganisme.
Padaseleukariotakromosomberadadalaminti yang dibungkusoleh membrane
dandikelilingiolehendoplasmikretikulum (Sumastri, 2005).
Penjelasan tentang hereditas paling
banyak dianut orang selama tahun1800-an adalah hipotesis ‘pencampuran’, gagasan
bahwa materi genetik yang disumbangkan oleh kedua orang tua bercampur seperti
cat biru dan kuning bercampur menjadi hijau. Akan tetapi, pengamatan
sehari-hari dan hasil perbiakan dengan hewan dan tumbuhan menentang prediksi
tersebut, misalnya sifat yang muncul kembali setelah melompati satu generasi.
Namun, seorang biarawan bernama Gregor Mendel berhasil mendokumentasikan
mekanisme partikulat untuk pewarisan sifat. Mendel menemukan prinsip-prinsip
dasar tentang pewarisan sifat dengan cara membiakkan ercis kebun dalam
percobaan-percobaan yang dirancang secara berhati-hati. Mendel hanya melacak
karakter-karakter yang bervariasi diantara dua alternatif yang jelas berbeda.
Misalnya ia hanya menggunakan tanaman yang berbunga ungu atau berbunga putih,
tidak ada sifat antara (intermediet) pada kedua varietas tersebut. Seandainya
Mendel memusatkan perhatian pada sifat-sifat yang tersusun dalam kontinum
diantara individu-individu misalnya berat biji, ia tidak akan menemukan sifat
pertikulat pewarisan sifat (Campbell, dkk., 2008).
Keuntungan dari penggunaan ercis
adalah waktu generasinya yang pendek dan jumlah keturunan yang banyak dari
setiap perkawinan. Selain itu, Mendel juga dapat mengontrol perkawinan antar
tanaman dengan ketat. Organ-organ reproduksi tanaman ercis terletak pada
bunganya, dan setiap bunga ercis memiliki organ penghasil polen (Stamen atau
benang sari) sekaligus organ pengandung sel telur (Karpel atau putik) (Campbell,dkk., 2008).
Jika diadakan penyerbukan silang
antara dua tanaman homozigot yang berbeda satu sifat missalnyabungapukulempatMirabilis
jalaps berbunga merah yang disilangkan dengan yang berbunga
putih, maka terjadilah F1 yang berbunga jambon (Merah muda). F1 yang kita sebut
monohibrida ini bukan homozigot lagi, melainkan suatu heterozigot. Jika tanaman
F1 ini kita biarkan mengadakan penyerbukan sendiri, kemudian biji-biji yang
dihasilkan itu kita tumbuhkan, maka kita peroleh F2 yang berupa tanaman
berbunga merah, tanaman berbunga jambon dan tanaman berbunga putih,
jumlah-jumlah mana berbanding 1:2:1. Maka biji-biji F2 yang berbunga merah itu
kiat tumbuhkan, kita peroleh F3 yang berbunga merah. Demikian pula biji-biji
dari F2 yang berbunga putih , jika itu kita tumbuhkan kita peroleh F3 yang
berbunga putih. Sebaliknya F2,
yang berbunga jambon itu menghasilkan F3 yang terdiri atas tanaman berbunga merah,
tanaman berbunga jambon dan tanaman berbunga putih dalam perbandingan 1:2:1
lagi. Dalam hal ini maka warna jambon itu kita namakan warna intermediet antara
merah dan putih. Jadi F1 tersebut diatas merupakan suatu monohibrida yang
intermediet (Djidjosepoetro, 1974).
Suatu penjelasan yang mungkin diberikan mengenai
hereditas adalah hipotesis “pencampuran” suatu gagasan bahwa materi genetik yang disumbangkan kedua orang tua bercampur dengan cara didapatkannya
warna hijau dari pencampuran warna biru dan kuning. Hipotesis ini memprediksi
bahwa dari generasi ke generasi, populasi dengan perkawinan bebas akan
memunculkan populasi individu yang seragam. Namun demikian, pengamatan kita
setiap hari, dan hasil percobaan pengembangbiakan hewan dan tumbuhan , ternyata
bertolak belakang dengan prediksi tersebut. Hipotesis pencampuran juga gagal
untuk menjelaskan fenomena lain dari penurunan sifat, misalnya sifat-sifat yang
melompati sebuah generasi (Elvita dkk., 2008).
Mendel menemukan prinsip-prinsip dasar tentang
pewarisan sifat dengan cara membiakkan ercis kebun dalam percobaan-percobaan
yang dirancang secara hati-hati, dengan meneliti ercis yang tersedia dalam
banyak varietas, misalnya satu varietas memiliki bunga ungu, sedangkan varietas
yang lain memiliki bunga putih. Sifat terwariskan yang berbeda-beda diantra
individu, misalnya warna bunga, disebut karakter. Setiap Varian untuk satu
karakter, misalnya warna ungu atau putih untuk buanga, disebut sifat (trait)
(Campbelldkk., 2008 ).
Dalam suatu percobaan,jarang ditemukan hasil yang
tepat betul, karena selalu saja ada penyimpangan.Yang menjadi masalah ialah
berapa banyak penyimpangan yang masih bisa kita terima.Menurut perhitungan para
ahli statistik tingkat kepercayaan itu adalah 5 %
yang masih dianggap batas normal penyimpangan. Untuk percobaan genetika
sederhana biasanya dilakukan analisis Chi-square
(Nio,1990).
Chi
Square merupakan salah satu cara untuk menguji percobaan yang dilakukan
menyimpang atau tidak dari teori. Didalam percobaan biologis tidak mungkin didapatkan
data yang segera dapat didipertanggung jawabkan seperti halnya dengan
matematika. Berhubung dengan adanya penyimpangan (deviasi) antara hasil yang
didapat dengan hasil yang diharapkan secara teoritis harus dievaluasi, untuk
itulah dilakukan tes chi square
dengan rumus sebagai berikut (Nio, 1990).
Tabel Chi-kuadrat (X2)
(Suryo, 2005) :
|
dk
|
Kemungkinan
|
||||||||
|
0,99
|
0,90
|
0,70
|
0,50
|
0,30
|
0,10
|
0,05
|
0,01
|
0,001
|
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
|
0,0002
0,02
0,12
0,30
0,55
0,87
1,24
1,65
2,09
2,56
|
0,016
0,21
0,58
1,06
1,61
2,20
2,83
3,49
4,17
4,87
|
0,15
0,71
1,42
2,20
3,00
3,83
4,67
5,53
6,39
7,27
|
0,46
1,39
2,37
3,36
4,35
5,35
6,35
7,34
8,34
9,34
|
1,07
2,41
3,67
4,88
6,06
7,23
8,38
9,52
10,66
11,78
|
2,71
4,61
6,25
7,78
9,24
10,65
12,02
13,36
14,68
15,99
|
3,84
5,99
7,82
9,49
11,07
12,59
14,07
15,51
16,92
18,31
|
6,64
9,21
11,35
13,28
15,09
16,81
18,48
20,09
21,67
23,21
|
10,83
13,82
16,27
18,47
20,52
22,46
24,32
26,13
27,88
29,59
|
Menurut para ahli statistik, apabila nilai X2 yang didapat dibawah
kolom nilai kemungkinan 0,05 apabila nilai X2 yang didapat dibawah
kolom nilai kemungkinan 0,05, itu berarti bahwa data yang diperoleh dari
percobaan itu buruk. Ini disebabkan karena penyimpangan sangat berarti dan ada
faktor lain diluar faktor kemungkinan yang berperan disitu. Kalau nilai X2
yang didapat berada di dalam kolom nilai kemungkinan 0,01 berarti data yang
diperoleh dari percobaan buruk sekali. Nilai X2 itu disebut sangat
berarti (“highly significant”). Ini disebabkan karena penyimpangan
sangat berarti dan faktor di luar faktor kemungkinan besar perannya. Data hasil
percobaan dapat dianggap baik apabila nilai X2 yang didapat berada
di dalam kolom nilai kemungkinan 0,05 atau di dalam kolom sebelah kirinya
(Suryo, 2005).
Tes chi square digunakan sebagai berikut. Bila suatu tanaman heterozigotik (Tt)
menyerbuk sendiri dan menghasilkan keturunan yang misalnya terdiri dari 40
tanaman berbatang tinggi dan 20 tanaman berbatang pendek. Menurut Mendel, suatu
monohibrid (Tt) yang menyerbuk sendiri seharusnya menghasilkan keturunan dengan
perbandingan fenotip 3 Tinggi : 1 Pendek. Jadi secara teoritis seharusnya
didapatkan 45 tanaman berbatang tinggi dan 15 tanaman berbatang pendek (Suryo,
2005).
|
Tinggi
|
Pendek
|
Jumlah
|
|
|
Diperoleh (o)
|
40
|
20
|
60
|
|
Diramal (e)
|
45
|
15
|
60
|
|
Deviasi (d)
|
-5
|
+5
|
|
|
d2/e
|
0,555
|
1,666
|
Peluang menyangkut derajat kepastian apakah suatu
kejadian terjadi atau tidak. Dalam ilmu fenetika ilmu genetika, segregasi dan
rekombinasi gen juga didasarkan pada hukum peluang. Rasio persilangan
Heterozigot dalah 3:1 jika sifat tersebut diturunkan secara dominan penuh.Jika
terjadi persilangan dan hasilnya tidak sesuai dengan
teori.Kita dapat menguji penyimpangan ini dengan uji Chi-square degan rumus
sebagai berikut (Noor, 1996 ).
X 2 = ∑ (O.E)2/E
Dengan:
X2 = Chi Quadrat
O = Nilai
pengamatan
E = Nilai
harapan
∑ = Sigma (
Jumlah dari nilai-nilai)
Seringkali percobaan perkawinan yang kita lakukan
menghasilkan keturunan yang tidak sesuai dengan hukum Mendel. Unjuk menguji hal
ini digunakan tes X2 atau
disebut juga dengan Chi square. Awalnya tes ini dinamakan test phi ( ƒ ).Untuk
memudahkan mengingatnya dikatakan test X (Suryo, 1984).
Untuk
melakukan uji statistika, kita membandingkan nilai X2 dari hasi
perhitungan dan nilai X2 dari tabel (disebut nilai kritis X2
). Nilai X2 dari tabel diperoleh dengan menggunakan derajat
kebebasan (dk) (degreeof freedom,
dilambangkan dengan dof atau v) dan derajat signifikansi (significance
level, dilambangkan dengan A atau α). Secara grafis jika derajat
bebas semakin besar maka grafik distribusi chi-kuadrat akan mendekati bentuk
distribusi normal(Sumastri, 2005).
Frekuensi gen merupakan pernyataan metematis suatu
gena yang tersebar dalam suatu populasi yang bereproduksi secara seksual. Bagi
suatu lokus genetik yang memiliki produk gena lebih dari satu atau bersifat
alelik,maka frekuensi gena tersebut juga frekuensi alel dari lokus tersebut.
Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa untuk menghitung frekuensi suatu gena
atau frekuensi alel perlu diketahui dulu sebaran genotip dalam populasi yangt
diperiksa(Sofro, 1992).
Teori kemungkinan merupakan dasar untuk menentukan
nisbah yang diharapkan dari tipe-tipe persilangan genotip yang berbeda.
Pengunaan teori ini memungkinkan kita untuk menduga kemungkinan diperolehnya
suatu hasil tertentu dari persilangan tersebut. Metode chi kuadrat adalah cara
yang tepat kita pakai untuk membandingkan data percobaan yang diperoleh dari
hasil persilangan dengan hasil yang diharapkan berdasarkan hipotesis secara
teotitis. Dengan cara ini seorang ahli genetika dapat menentukan satu nilai
kemungkinan untuk menguji hipotesis itu(Kusdianti, 1986).
Peristiwa yang mungkin terjadi adalah peristiwa saling asing yaitu peristiwa yang tidak mungkin
terjadi bersama-sama.Peristiwa gayut yaitu peristiwa tidak mempengaruhi
terjadinya peristiwa lain.Chi kuadrat adalah uji nyata apakah data yang
diperoleh benar minyimpang dari
nisbah yang diharapkan,tidak secara
betul.Perbandingan yang diharapkan berdasarkan pemisahan hipotesis berdasarkan
pemisahan alel secara bebas (Kusdianti,1986).
Pada kenyataanya nisbah teoritis yang merupakan peluang diperolehnya suatu hasil percobaan persilangan
tidak selalu terpenuhi. Penyimpangan (devisiasi) yang terjadi bukan sekedar
modifikasi terhadap nisbah Mendel seperti yang telah diuraikan di atas,
melainkan sesuatu yang adakalanya tidak dapat diterangkan secara teori
(Susanto, 2011).
Untuk menentukan bahwa hasil
persilangan ini masih memenuhi nisbah teoritis (9:3:3:1)
atau menyimpang dari nisbah tersebut perlu dilakukan suatu pengujian secara
statistika. Uji X2 (Chi-square test) atau ada yang menamakannya uji
kecocokan (goodness of fit). apabila x2h lebih kecil
daripada x2t dengan peluang tertentu (0,05), maka
dikatakan bahwa hasil persilangan yang diuji masih memenuhi nisbah Mendel.
Sebaliknya, apabila X2h lebih besar daripada X2t,
maka dikatakan bahwa hasil persilangan yang diuji tidak memenuhi nisbah Mendel
pada nilai peluang tertentu (biasanya 0,05) (Susanto, 2011).
Tujuan
dari uji Chi-square adalah untuk mengetahui/menguji perbedaan proporsi antara 2
atau lebih kelompok. Syaratnya yaitu Kelompok yang dibandingkan independen dan
Variabel yang dihubungkan katagorik dengan katagorik. Adapun kegunaanya yaitu
Ada tidaknya asosiasi antara 2 variabel(Independent test), Apakah suatu
kelompok homogen atau tidak(Homogenity test), dan Uji kenormalan data dengan
melihat distribusi data(Goodness of fit test) (Endista, 2008).
BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat
Alat-alat
yang digunakan dalam percobaan ini adalah kantong baju, kalkulator dan alat
tulis menulis.
III.2 Bahan
Bahan-bahan
yang diperlukan untuk percobaan ini adalah biji genetik berbagai warna.
III.3 Cara
Kerja
Adapun prosedur kerja dalam
percobaan ini adalah :
a. Mengambil 40 biji
genetik dan memasukkanya pada 2 kantong, masing-masing
kantong
berisi 20 biji genetik.
b. Mengambil satu biji genetic dari kantong kanan
dengan tangan kanan dan satu
biji genetic dari kantong kiri dengan tangan kiri pada
waktu bersamaan dan
akanmenghasilkan sebuah kombinasi genetik.
c. Mencatathasil yang diperoleh,kemudian mengembalikan kombinasi biji
genetik itu
ke kantong asalnya, dan Mengocok supaya tercampur kembali.
d. Mengulangi pengambilan (biji genetik), sampai 16
kali dan membuat tabel dari
hasil percobaan yang anda lakukan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil
A.
Tabel Data
Kelompok
|
No
|
K-B-
|
K-bb
|
kkB-
|
kkbb
|
|
1
|
||||
|
2
|
||||
|
3
|
||||
|
4
|
||||
|
5
|
||||
|
6
|
||||
|
7
|
||||
|
8
|
||||
|
9
|
||||
|
10
|
||||
|
11
|
||||
|
12
|
||||
|
13
|
||||
|
14
|
||||
|
15
|
||||
|
16
|
||||
|
∑
|
11
|
0
|
3
|
2
|
Keterangan :
o
K-B- : Kuning bernas
o
K-bb : Kuning kisut
o
kkB- : Putih bernas
o
kkbb : kisut
B.
Tabel Data
Kelas
|
Kelompok
|
K-B-
|
K-bb
|
kkB-
|
kkbb
|
|
1
|
8
|
2
|
6
|
-
|
|
2
|
12
|
1
|
1
|
2
|
|
3
|
9
|
1
|
4
|
2
|
|
4
|
11
|
2
|
3
|
-
|
|
5
|
11
|
-
|
3
|
2
|
|
6
|
8
|
5
|
3
|
-
|
|
∑
|
59
|
11
|
20
|
6
|
Keterangan :
o
∑ jumlah keseluruhan : 59 +11+20 + 6 = 96
o
K-B- : Kuning bernas
o
K-bb : Kuning kisut
o
kkB- : Putih bernas
o
kkbb : Putih kisut
IV.2 Pembahasan
Dari percobaan yang dilakukan,
data-data yang telah dikumpulkan akan ditabulasikan ke dalam tabel chi-square
berikut ini :
Tabel Chi Square
|
K-B-
|
K-bb
|
kkB-
|
kkbb
|
|
|
o
|
59
|
11
|
20
|
6
|
|
e
|
54
|
18
|
18
|
6
|
|
d
|
5
|
-7
|
2
|
0
|
|
d2/e
|
0,462
|
2,722
|
0,222
|
25
|
|
X2
|
3,406
|
|||
Keterangan :
o
o (observed) : hasil yang diperoleh
o
e (expected) : hasil yang diramal/diharapkan
o
d (deviation) : penyimpangan
antara hasil yang diperoleh dengan hasil yang diramal.
o
Ada 4 kelas fenotip, derajat
kebebasan : 3
o
K (3) : antara 0,10 dan 0,30
Hasil percobaan diatas maka
diperoleh 59 K-B- (Kuning Bernas), 11 K-bb (Kuning Kisut) dan 20 kkB- (Putih
Bernas) dan 6 kkbb (Putih Kisut). Jika menurut teori Mendel karena bersifat
dihibrid (K-B-) maka perbandingan fenotipnya 9:3:3:1.Maka ekspektasi yang
sesuai dengan teori mendel adalah 54 K-B- (Kuning Bernas), 18 K-bb (Kuning
Kisut), 18 kkB- (Putih Bernas) dan 6 kkbb (Putih Kisut). Hasil ekspektasi ini
diperoleh dari perbandingan teori Mendel dikali dengan jumlah total keseluruhan
percobaan yaitu 96. Pada K-B-, menurut teori Mendel dihasilkan 9/16 X 96 = 54
yang bersifat kuning bernas, namun dari percobaan diperoleh 59 berarti terdapat
deviasi sebesar 5, dimana deviasi ini diperoleh dari hasil yang diperoleh dikurangi
dengan ekspektasi. Pada K-bb dan kkB-, menurut teori Mendel dihasilkan 3/16 X
96 = 18 yang bersifat kuning kisut dan putih bernas, namun dari percobaan
diperoleh 11 kuning kisut dan 20 putih bernas berarti terdapat deviasi sebesar
-7 pada kuning kisut dan 2 pada putih bernas. Dan pada kkbb, menurut teori
Mendel dihasilkan 1/16 X 96 = 6 yang bersifat putih kisut, namun dari percobaan
diperoleh 6 berarti tidak ada nilai deviasi.
Dari data-data tersebut hasil dari
total deviasi pangkat dua (d2) dibagi dengan total ekspektasi (e)
maka diperoleh nilai X2(chi-square)
total sebesar 3,406. Nilai chi square
ini dicari untuk membuktikan data hasil percobaan yang dilakukan dalam
laboratorium sudah sesuai dengan teori yang ada supaya percobaan yang dilakukan
juga bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Dari nilai chi square yang diperoleh
ditabulasikan ke dalam tabel chi
square dengan memperhatikan derajat kebebasannya. Karena didalam
percobaan ini diperoleh 4 fenotip yaitu kuning bernas, kuning kisut, putih
bernas, dan putih kisut, maka derajat kebebasannya 4-1 = 3. Sehingga yang
diperhatikan dalam tabel adalah nilai pada baris ke-3 karena menunjukkan
kemungkinan pada derajat kebebasan 3. Jika kita memperhatikan nilai-nilai X2
dari kiri ke kanan pada baris ke-3 dalam tabel, angka 3,046 tidak tercantum
namun berada diantara angka 3,67 dan 6,25. Nilai kemungkinannya terletak antara
0,10 dan 0,30.
Menurut para ahli statistik, apabila
nilai X2 yang didapat dibawah kolom nilai kemungkinan 0,05 apabila
nilai X2 yang didapat dibawah kolom nilai kemungkinan 0,05 itu berarti bahwa data yang diperoleh dari
percobaan itu buruk. Ini disebabkan karena penyimpangan sangat berarti dan ada
faktor lain diluar faktor kemungkinan yang berperan disitu. Kalau nilai X2
yang didapat berada di dalam kolom nilai kemungkinan 0,01 berarti data yang
diperoleh dari percobaan buruk sekali. Nilai X2 itu disebut sangat
berarti (“highly significant”). Ini disebabkan karena penyimpangan
sangat berarti dan faktor di luar faktor kemungkinan besar perannya. Data hasil
percobaan dapat dianggap baik apabila nilai X2 yang didapat berada
di dalam kolom nilai kemungkinan 0,05 atau di dalam kolom sebelah kirinya
Dari hasil percobaan diperoleh nilai
kemungkinan diantara 0,10 dan 0,30 yang berarti lebih besar daripada 0,05.
Sesuai yang dipaparkan sebelumnya didalam kolom nilai kemungkinan 0,05 atau di
dalam kolom sebelah kirinya dalam hal ini nilainya lebih besar dari 0,05 maka
dapat diambil kesimpulan bahwa data yang diperoleh dari hasil percobaan sudah
signifikan atau sesuai dengan teori yang ada. Berarti bahwa setelah 10-30 kali
dari 100 kali percobaan yang dilakukan akan menjumpai deviasi semacam itu.
Deviasi yang ada itu terjadi secara kebetulan dan kurang berari berhubung data
percobaan biji genetik tersebut dinyatakan dengan baik, artinya memenuhi
perbandingan 9:3:3:1.
Jadi, dari hasil percobaan yang
dilakukan sudah sesuai dengan teori Mendel tentang pemisahan bebas dimana
gen-gen yang dibawa oleh gamet-gamet tertentu akan bertemu secara acak,
pertemuan ini dimisalkan dengan biji genetis kuning hijau (KB), kuning hitam
(Kb), merah hijau (kB), dan merah hitam (kb). Yang menunjukkan bahwa gen-gen
tersebut bertemu secara acak sehingga menghasilkan kombinasi-kombinasi yang
menghasilkan K-B-, K-bb, kkB-, dan kkbb atau fenotip kuning bernas, kuning
keriput, putih bernas dan putih keriput. Sehingga ketika dilakukan penggolongan
hasil yang diperoleh mendekati rasio fenotip 9:3:3:1 sesuai dengan Hukum
Mendel, hal ini diperkuat dari hasil yang diperoleh dari tes chi square
sehingga percobaan yang dilakukan sudah sesuai dengan Hukum Mendel.
BAB V
PENUTUP
V.1
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil percobaan yang dilakukan dengan menggunakan biji genetis, maka dapat
disimpulkan bahwa hal inimenunjukkan bahwa gen-gen yang dibawa oleh gamet-gamet
tertentu akan bertemu secara acak atau random membentuk kombinasi-kombinasi yang
menghasilkan fenotip dengan rasio mendekati perbandingan 9:3:3:1. Maka sesuai
dengan Hukum Mendel II bahwa gen-gen
yang menentukan sifat-sifat yang berbeda dipindahkan secara bebas satu dengan
yang lain dan akan terjadi pilihan acak pada keturunannya.
V.2 Saran
Laporan ini
belum begitu sempurna, saya harapkan kepada para pembaca khususnya pada
teman-teman supaya memberikan saran dan kritik supaya pada pembuatan laporan
selanjutnya sesuai dengan apa yang kita harapkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Campbell, N.A,Recce, J.B. 2008.
BiologiEdisikedelapanjilid 1. Erlangga.
Jakarta.
Elvita, Asmi.,dkk.2008. Genetikadasar. http:/ yayanakyar.
files. wordpres.com/
2009/01 /genetika-dasar files-of drsmed.pdf.diaksespadatanggal 6 Maret 2014, Pukul 20.20 WITA, Makassar.
Endista, Amiyella. 2008.Uji Chi-Square.http:/berandakami.
file. wordpress.com/
2008 /11/uji-chi-square baru.pdf.diaksespadatanggal
6Maret 2014, pukul 20.20 WITA, Makassar.
Kusdiarti,Lilik.1986.Genetika Tumbuhan.UGM Press. Yogyakarta.
Nio,Tjan Kwiauw.1990.Genetika Dasar.ITB Press. Bandung.
Noor, R.R,1996. GenetikaTernak. Penebarswadaya.
Jakarta.
Sofro,Abdul Salam.1992.Keanekaragaman Genetik.Andiofsel.Yogyakarta.
Sumastri. 2005. Genetika. http:/yayanakyar. files
.wordpres.com/2009/01/genetika
files -of- drsmed. pdf.Diaksespadatanggal 9 Maret
2014, Pukul 19.27 WITA, Makassar.
Suryo.2005. Genetika Manusia. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta.
Susanto, HeryAgus. 2011. Genetika. Graham Ilmu. Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar