My JESUS

My JESUS

Minggu, 21 Desember 2014

LP GENETIKA IMITASI PERBANDINGAN GENETIS



LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA


PERCOBAAN  I
IMITASI PERBANDINGAN GENETIS


NAMA                                               : SOPHIA MARCELINA YANSIP           
NIM                                                    : H41113701
KELOMPOK                                    : V (LIMA) B
HARI/TANGGAL PERCOBAAN   : KAMIS/6 MARET 2014
ASISTEN                                           : RISKY NURHIKMAYANI





LABORATORIUM GENETIKA JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
I.1  Latar Belakang
Makhluk hidup yang ada di muka bumi ini sangat beragam. Setiap jenis makhluk hidup mempunyai sifat dan ciri tersendiri sehingga dapat membedakannya antara yang satu dengan yang lainnya. Sifat atau ciri yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup ada yang dapat diturunkan dan ada pula yang tidak dapat diturunkan. Dalam pewarisan sifat dari generasi ke generasi berikutnya mengikuti pola tertentu yang khas bagi setiap makhluk hidu. Pewarisan sifat dari induk kepada keturunannya disebut hereditas. Cabang biologi yang khusus mempelajari tentang hereditas adalah genetika. Tokoh yang sangat berjasa dalam menemukan hukum-hukum genetika adalah Gregor Johann Mendel (1822-1884) dari Austria. Beliau lahir tanggal 22 Juli 1822. Karena jasanya itu beliau dijuluki sebagai Bapak Genetika (Elvita, dkk., 2008).
Dari hasil eksperimennya pada kacang ercis, Mendel menarik kesimpulan bahwa dua alternatif yang berlawanan untuk sifat tertentu seperti tinggi dan pendek. Konsep ini dikenal dengan dominan resesif. Mengenai tinggi tanaman pada ercis, tinggi adalah dominan terhadap pendek sedangkan mengenai warna polong, hijau dominan terhadap kuning. Mendel melihat adanya konsistensi dalam jumlah tipe parental pada F2. Nampaknya selalu ada rasio pada perbandingan 3:1. Sumbangan pikiran Mendel tidak berhenti pada pengenalan rasio saja. Mendel mengadakan hipotesis bahwa sifat-sifat tersebut ditentukan oleh sepasang unit, dan hanya sebuah unit diteruskan kepada keturunannya oleh setiap induk. Hal ini dikenal dengan hukum Mendel I (Segregasi bebas) (Tim Pengajar Genetika FMIPA UNHAS, 2014).
            Dalam membahas genetika selalu dijumpai hukum mendel, persilangan, istilah monohibrid, dihibrid, fenotip dan genotip dan sebagainya. Dimulai dari hukum mendel 1, terjadi persilangan monohibrid ( satu sifat beda). Terkadang mempelajari hukum mendel 1 ini tidak cukup hanyadi kuliah tatap muka saja. Perlu adanya metode langsung yang dipaparkan. Salah satu metode itu adalah praktikum ini. Yaitu mengaplikasikan atau membuktikan hukum mendel 1 apakah hukum itu benar atau salah. Pembuktian ini sangatlah penting karena untuk mempelajari genetika ke depannya sangat diperlukan pemahaman akan dasar dari persilangan itu sendiri.sehingga pelajaran selanjutnya bisa diikuti dengan baik. Pembuktian hukum mendel 1 dapat menjadikan dalam mengaplikasikannya dapat lebih muda (Idris, 2012).
I.2 Tujuan Percobaan
            Adapun tujuan dari percobaan Imitasi Perbandingan Genetis adalah untuk mendapat gambaran tentang kemungkinan gen-gen yang dibawa oleh gamet-gamet tertentu dan akan bertemu secara acak atau random.
I.3 Waktu dan Tempat Percobaan
   Percobaan ImitasiPerbandinganGenetisdilaksanakan pada hari Kamis, 6 maret 2014 pukul 14.00-17.00 WITA,bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Abad ke-2 ditandai dengan ditandai dengan perkembangan di bidang molekuler dengan ditemukannya teknik manipulasi genetik atau lebih dikenal dengan istilah rekayasa genetik padaorganisme yang berkembangbiaksecaraseksual, melaluipembelahanmiosisdibentukgamet yang haploid (n) yang jumlahkromosomdalamselkelaminhanyasetengahdariselsomatik. Reduksiinipentinguntukmempertahankantetapnyajumlahkromosomindividu (Sumastri, 2005).
Setiapjenishewanataumanusiamempunyaijumlahkromosom yang tetapdanspesifik. Jumlah kromosom dalam sel somatik manusia adalah 23 pasang, padatikus 20 pasang, pada Drosophila hanya 4 pasang, jagung 10 pasang. Kromosom sel somatik berpasang-pasang, kecualikromosomsekstidakberpasangan. Karenakromosominiberpasangandikatakanselsomatisinimempunyaikromosom yang diploid (Sumastri, 2005).
Dalamsel, molekul DNA membentuklingkaran yang berlipat yang disebutkromosom. Padaseleukariota, kromosominiberenangdalamsitoplasmadanberikatandengansejenis protein yang disebuthiston. PadaselprokariotabiasanyahanyaterdiriatassatukromosomdanbeberapalingkaranDNA  kecildisebutkromosomekstra. Kromosomekstrainibervariasidalamukuranmaupunjumlahnyapadasetiaporganisme. Padaseleukariotakromosomberadadalaminti yang dibungkusoleh membrane dandikelilingiolehendoplasmikretikulum (Sumastri, 2005).
Penjelasan tentang hereditas paling banyak dianut orang selama tahun1800-an adalah hipotesis ‘pencampuran’, gagasan bahwa materi genetik yang disumbangkan oleh kedua orang tua bercampur seperti cat biru dan kuning bercampur menjadi hijau. Akan tetapi, pengamatan sehari-hari dan hasil perbiakan dengan hewan dan tumbuhan menentang prediksi tersebut, misalnya sifat yang muncul kembali setelah melompati satu generasi. Namun, seorang biarawan bernama Gregor Mendel berhasil mendokumentasikan mekanisme partikulat untuk pewarisan sifat. Mendel menemukan prinsip-prinsip dasar tentang pewarisan sifat dengan cara membiakkan ercis kebun dalam percobaan-percobaan yang dirancang secara berhati-hati. Mendel hanya melacak karakter-karakter yang bervariasi diantara dua alternatif yang jelas berbeda. Misalnya ia hanya menggunakan tanaman yang berbunga ungu atau berbunga putih, tidak ada sifat antara (intermediet) pada kedua varietas tersebut. Seandainya Mendel memusatkan perhatian pada sifat-sifat yang tersusun dalam kontinum diantara individu-individu misalnya berat biji, ia tidak akan menemukan sifat pertikulat pewarisan sifat (Campbell, dkk., 2008).
Keuntungan dari penggunaan ercis adalah waktu generasinya yang pendek dan jumlah keturunan yang banyak dari setiap perkawinan. Selain itu, Mendel juga dapat mengontrol perkawinan antar tanaman dengan ketat. Organ-organ reproduksi tanaman ercis terletak pada bunganya, dan setiap bunga ercis memiliki organ penghasil polen (Stamen atau benang sari) sekaligus organ pengandung sel telur (Karpel atau putik) (Campbell,dkk., 2008).
Jika diadakan penyerbukan silang antara dua tanaman homozigot yang berbeda satu sifat missalnyabungapukulempatMirabilis jalaps berbunga merah yang disilangkan dengan yang berbunga putih, maka terjadilah F1 yang berbunga jambon (Merah muda). F1 yang kita sebut monohibrida ini bukan homozigot lagi, melainkan suatu heterozigot. Jika tanaman F1 ini kita biarkan mengadakan penyerbukan sendiri, kemudian biji-biji yang dihasilkan itu kita tumbuhkan, maka kita peroleh F2 yang berupa tanaman berbunga merah, tanaman berbunga jambon dan tanaman berbunga putih, jumlah-jumlah mana berbanding 1:2:1. Maka biji-biji F2 yang berbunga merah itu kiat tumbuhkan, kita peroleh F3 yang berbunga merah. Demikian pula biji-biji dari F2 yang berbunga putih , jika itu kita tumbuhkan kita peroleh F3 yang berbunga putih. Sebaliknya F2, yang berbunga jambon itu menghasilkan F3 yang terdiri atas tanaman berbunga merah, tanaman berbunga jambon dan tanaman berbunga putih dalam perbandingan 1:2:1 lagi. Dalam hal ini maka warna jambon itu kita namakan warna intermediet antara merah dan putih. Jadi F1 tersebut diatas merupakan suatu monohibrida yang intermediet (Djidjosepoetro, 1974).
Suatu penjelasan yang mungkin diberikan mengenai hereditas adalah hipotesis “pencampuran” suatu gagasan bahwa materi genetik yang disumbangkan kedua orang tua bercampur dengan cara didapatkannya warna hijau dari pencampuran warna biru dan kuning. Hipotesis ini memprediksi bahwa dari generasi ke generasi, populasi dengan perkawinan bebas akan memunculkan populasi individu yang seragam. Namun demikian, pengamatan kita setiap hari, dan hasil percobaan pengembangbiakan hewan dan tumbuhan , ternyata bertolak belakang dengan prediksi tersebut. Hipotesis pencampuran juga gagal untuk menjelaskan fenomena lain dari penurunan sifat, misalnya sifat-sifat yang melompati sebuah generasi (Elvita dkk.,  2008).
Mendel menemukan prinsip-prinsip dasar tentang pewarisan sifat dengan cara membiakkan ercis kebun dalam percobaan-percobaan yang dirancang secara hati-hati, dengan meneliti ercis yang tersedia dalam banyak varietas, misalnya satu varietas memiliki bunga ungu, sedangkan varietas yang lain memiliki bunga putih. Sifat terwariskan yang berbeda-beda diantra individu, misalnya warna bunga, disebut karakter. Setiap Varian untuk satu karakter, misalnya warna ungu atau putih untuk buanga, disebut sifat (trait) (Campbelldkk., 2008 ).
Dalam suatu percobaan,jarang ditemukan hasil yang tepat betul, karena selalu saja ada penyimpangan.Yang menjadi masalah ialah berapa banyak penyimpangan yang masih bisa kita terima.Menurut perhitungan para ahli statistik tingkat kepercayaan itu adalah 5 % yang masih dianggap batas normal penyimpangan. Untuk percobaan genetika sederhana biasanya dilakukan analisis Chi-square (Nio,1990).
Chi Square merupakan salah satu cara untuk menguji percobaan yang dilakukan menyimpang atau tidak dari teori. Didalam percobaan biologis tidak mungkin didapatkan data yang segera dapat didipertanggung jawabkan seperti halnya dengan matematika. Berhubung dengan adanya penyimpangan (deviasi) antara hasil yang didapat dengan hasil yang diharapkan secara teoritis harus dievaluasi, untuk itulah dilakukan tes chi square dengan rumus sebagai berikut (Nio, 1990).
Tabel Chi-kuadrat (X2) (Suryo, 2005) :
dk
Kemungkinan
0,99
0,90
0,70
0,50
0,30
0,10
0,05
0,01
0,001
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
0,0002
0,02
0,12
0,30
0,55
0,87
1,24
1,65
2,09
2,56
0,016
0,21
0,58
1,06
1,61
2,20
2,83
3,49
4,17
4,87
0,15
0,71
1,42
2,20
3,00
3,83
4,67
5,53
6,39
7,27
0,46
1,39
2,37
3,36
4,35
5,35
6,35
7,34
8,34
9,34
1,07
2,41
3,67
4,88
6,06
7,23
8,38
9,52
10,66
11,78
2,71
4,61
6,25
7,78
9,24
10,65
12,02
13,36
14,68
15,99
3,84
5,99
7,82
9,49
11,07
12,59
14,07
15,51
16,92
18,31
6,64
9,21
11,35
13,28
15,09
16,81
18,48
20,09
21,67
23,21
10,83
13,82
16,27
18,47
20,52
22,46
24,32
26,13
27,88
29,59
            Menurut para ahli statistik, apabila nilai X2 yang didapat dibawah kolom nilai kemungkinan 0,05 apabila nilai X2 yang didapat dibawah kolom nilai kemungkinan 0,05, itu berarti bahwa data yang diperoleh dari percobaan itu buruk. Ini disebabkan karena penyimpangan sangat berarti dan ada faktor lain diluar faktor kemungkinan yang berperan disitu. Kalau nilai X2 yang didapat berada di dalam kolom nilai kemungkinan 0,01 berarti data yang diperoleh dari percobaan buruk sekali. Nilai X2 itu disebut sangat berarti (“highly significant”). Ini disebabkan karena penyimpangan sangat berarti dan faktor di luar faktor kemungkinan besar perannya. Data hasil percobaan dapat dianggap baik apabila nilai X2 yang didapat berada di dalam kolom nilai kemungkinan  0,05 atau di dalam kolom sebelah kirinya (Suryo, 2005).
            Tes chi square digunakan sebagai berikut. Bila suatu tanaman heterozigotik (Tt) menyerbuk sendiri dan menghasilkan keturunan yang misalnya terdiri dari 40 tanaman berbatang tinggi dan 20 tanaman berbatang pendek. Menurut Mendel, suatu monohibrid (Tt) yang menyerbuk sendiri seharusnya menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotip 3 Tinggi : 1 Pendek. Jadi secara teoritis seharusnya didapatkan 45 tanaman berbatang tinggi dan 15 tanaman berbatang pendek (Suryo, 2005).

Tinggi
Pendek
Jumlah
Diperoleh (o)
40
20
60
Diramal (e)
45
15
60
Deviasi (d)
-5
+5

d2/e
0,555
1,666

Peluang menyangkut derajat kepastian apakah suatu kejadian terjadi atau tidak. Dalam ilmu fenetika ilmu genetika, segregasi dan rekombinasi gen juga didasarkan pada hukum peluang. Rasio persilangan Heterozigot dalah 3:1 jika sifat tersebut diturunkan secara dominan penuh.Jika terjadi persilangan dan hasilnya tidak sesuai dengan teori.Kita dapat menguji penyimpangan ini dengan uji Chi-square degan rumus sebagai berikut (Noor, 1996 ).
X 2 = ∑ (O.E)2/E



Dengan:
X2 = Chi Quadrat
O = Nilai pengamatan
E = Nilai harapan
∑ = Sigma ( Jumlah dari nilai-nilai)
Seringkali percobaan perkawinan yang kita lakukan menghasilkan keturunan yang tidak sesuai dengan hukum Mendel. Unjuk menguji hal ini digunakan tes X2 atau disebut juga dengan Chi square. Awalnya tes ini dinamakan test phi ( ƒ ).Untuk memudahkan mengingatnya dikatakan test X (Suryo, 1984).
Untuk melakukan uji statistika, kita membandingkan nilai X2 dari hasi perhitungan dan nilai X2 dari tabel (disebut nilai kritis X2 ). Nilai X2 dari tabel diperoleh dengan menggunakan derajat kebebasan (dk) (degreeof freedom, dilambangkan dengan dof atau v) dan derajat signifikansi (significance level, dilambangkan dengan A atau α). Secara grafis jika derajat bebas semakin besar maka grafik distribusi chi-kuadrat akan mendekati bentuk distribusi normal(Sumastri, 2005).
Frekuensi gen merupakan pernyataan metematis suatu gena yang tersebar dalam suatu populasi yang bereproduksi secara seksual. Bagi suatu lokus genetik yang memiliki produk gena lebih dari satu atau bersifat alelik,maka frekuensi gena tersebut juga frekuensi alel dari lokus tersebut. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa untuk menghitung frekuensi suatu gena atau frekuensi alel perlu diketahui dulu sebaran genotip dalam populasi yangt diperiksa(Sofro, 1992).
Teori kemungkinan merupakan dasar untuk menentukan nisbah yang diharapkan dari tipe-tipe persilangan genotip yang berbeda. Pengunaan teori ini memungkinkan kita untuk menduga kemungkinan diperolehnya suatu hasil tertentu dari persilangan tersebut. Metode chi kuadrat adalah cara yang tepat kita pakai untuk membandingkan data percobaan yang diperoleh dari hasil persilangan dengan hasil yang diharapkan berdasarkan hipotesis secara teotitis. Dengan cara ini seorang ahli genetika dapat menentukan satu nilai kemungkinan untuk menguji hipotesis itu(Kusdianti, 1986).
Peristiwa yang mungkin terjadi adalah peristiwa saling asing yaitu peristiwa yang tidak mungkin terjadi bersama-sama.Peristiwa gayut yaitu peristiwa tidak mempengaruhi terjadinya peristiwa lain.Chi kuadrat adalah uji nyata apakah data yang diperoleh benar minyimpang dari nisbah yang diharapkan,tidak secara betul.Perbandingan yang diharapkan berdasarkan pemisahan hipotesis berdasarkan pemisahan alel secara bebas (Kusdianti,1986).
Pada kenyataanya nisbah teoritis yang merupakan peluang diperolehnya suatu hasil percobaan persilangan tidak selalu terpenuhi. Penyimpangan (devisiasi) yang terjadi bukan sekedar modifikasi terhadap nisbah Mendel seperti yang telah diuraikan di atas, melainkan sesuatu yang adakalanya tidak dapat diterangkan secara teori (Susanto, 2011).
Untuk menentukan bahwa hasil persilangan ini masih memenuhi nisbah teoritis (9:3:3:1) atau menyimpang dari nisbah tersebut perlu dilakukan suatu pengujian secara statistika. Uji X2 (Chi-square test) atau ada yang menamakannya uji kecocokan (goodness of fit). apabila x2h lebih kecil daripada x2t dengan peluang tertentu (0,05), maka dikatakan bahwa hasil persilangan yang diuji masih memenuhi nisbah Mendel. Sebaliknya, apabila X2h lebih besar daripada X2t, maka dikatakan bahwa hasil persilangan yang diuji tidak memenuhi nisbah Mendel pada nilai peluang tertentu (biasanya 0,05) (Susanto, 2011).
            Tujuan dari uji Chi-square adalah untuk mengetahui/menguji perbedaan proporsi antara 2 atau lebih kelompok. Syaratnya yaitu Kelompok yang dibandingkan independen dan Variabel yang dihubungkan katagorik dengan katagorik. Adapun kegunaanya yaitu Ada tidaknya asosiasi antara 2 variabel(Independent test), Apakah suatu kelompok homogen atau tidak(Homogenity test), dan Uji kenormalan data dengan melihat distribusi data(Goodness of fit test) (Endista, 2008).












BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1 Alat
            Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah kantong baju, kalkulator dan alat tulis menulis.
III.2  Bahan
            Bahan-bahan yang diperlukan untuk percobaan ini adalah biji genetik berbagai warna.
III.3 Cara Kerja
Adapun prosedur kerja dalam percobaan ini adalah :
a. Mengambil 40 biji genetik dan memasukkanya pada 2 kantong, masing-masing
    kantong berisi 20 biji genetik.
b. Mengambil satu biji genetic dari kantong kanan dengan tangan kanan dan satu
biji genetic dari kantong kiri dengan tangan kiri pada waktu bersamaan dan
akanmenghasilkan sebuah kombinasi genetik.
c. Mencatathasil yang diperoleh,kemudian mengembalikan kombinasi biji
    genetik itu ke kantong asalnya, dan Mengocok supaya tercampur kembali.
d. Mengulangi pengambilan (biji genetik), sampai 16 kali dan membuat tabel dari
hasil percobaan yang anda lakukan.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
A.    Tabel Data Kelompok
No
K-B-
K-bb
kkB-
kkbb
1




2




3




4




5




6




7




8




9




10




11




12




13




14




15




16




11
0
3
2
Keterangan :
o   K-B- :  Kuning bernas
o   K-bb : Kuning kisut
o   kkB- : Putih bernas
o   kkbb : kisut
B.     Tabel Data Kelas
Kelompok
K-B-
K-bb
kkB-
kkbb
1
8
2
6
-
2
12
1
1
2
3
9
1
4
2
4
11
2
3
-
5
11
-
3
2
6
8
5
3
-
59
11
20
6

Keterangan :
o   ∑ jumlah  keseluruhan : 59 +11+20 + 6 = 96
o   K-B- : Kuning bernas
o   K-bb : Kuning kisut
o   kkB- : Putih bernas
o   kkbb : Putih kisut
IV.2  Pembahasan
            Dari percobaan yang dilakukan, data-data yang telah dikumpulkan akan ditabulasikan ke dalam tabel chi-square berikut ini :
Tabel Chi Square

K-B-
K-bb
kkB-
kkbb
o
59
11
20
6
e
54
18
18
6
d
5
-7
         2
0
d2/e
0,462
2,722
0,222
25
X2
3,406

Keterangan :
o   o (observed)  :  hasil yang diperoleh
o   e (expected)  :  hasil yang diramal/diharapkan
o   d (deviation)  : penyimpangan antara hasil yang diperoleh dengan hasil yang diramal.
o   Ada 4 kelas fenotip, derajat kebebasan : 3
o   K (3) : antara 0,10 dan 0,30
Hasil percobaan diatas maka diperoleh 59 K-B- (Kuning Bernas), 11 K-bb (Kuning Kisut) dan 20 kkB- (Putih Bernas) dan 6 kkbb (Putih Kisut). Jika menurut teori Mendel karena bersifat dihibrid (K-B-) maka perbandingan fenotipnya 9:3:3:1.Maka ekspektasi yang sesuai dengan teori mendel adalah 54 K-B- (Kuning Bernas), 18 K-bb (Kuning Kisut), 18 kkB- (Putih Bernas) dan 6 kkbb (Putih Kisut). Hasil ekspektasi ini diperoleh dari perbandingan teori Mendel dikali dengan jumlah total keseluruhan percobaan yaitu 96. Pada K-B-, menurut teori Mendel dihasilkan 9/16 X 96 = 54 yang bersifat kuning bernas, namun dari percobaan diperoleh 59 berarti terdapat deviasi sebesar 5, dimana deviasi ini diperoleh dari hasil yang diperoleh dikurangi dengan ekspektasi. Pada K-bb dan kkB-, menurut teori Mendel dihasilkan 3/16 X 96 = 18 yang bersifat kuning kisut dan putih bernas, namun dari percobaan diperoleh 11 kuning kisut dan 20 putih bernas berarti terdapat deviasi sebesar -7 pada kuning kisut dan 2 pada putih bernas. Dan pada kkbb, menurut teori Mendel dihasilkan 1/16 X 96 = 6 yang bersifat putih kisut, namun dari percobaan diperoleh 6 berarti tidak ada nilai deviasi.
Dari data-data tersebut hasil dari total deviasi pangkat dua (d2) dibagi dengan total ekspektasi (e) maka  diperoleh nilai X2(chi-square) total sebesar 3,406. Nilai chi square ini dicari untuk membuktikan data hasil percobaan yang dilakukan dalam laboratorium sudah sesuai dengan teori yang ada supaya percobaan yang dilakukan juga bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Dari nilai chi square yang diperoleh ditabulasikan ke dalam tabel chi square dengan memperhatikan derajat kebebasannya. Karena didalam percobaan ini diperoleh 4 fenotip yaitu kuning bernas, kuning kisut, putih bernas, dan putih kisut, maka derajat kebebasannya 4-1 = 3. Sehingga yang diperhatikan dalam tabel adalah nilai pada baris ke-3 karena menunjukkan kemungkinan pada derajat kebebasan 3. Jika kita memperhatikan nilai-nilai X2 dari kiri ke kanan pada baris ke-3 dalam tabel, angka 3,046 tidak tercantum namun berada diantara angka 3,67 dan 6,25. Nilai kemungkinannya terletak antara 0,10 dan 0,30.
Menurut para ahli statistik, apabila nilai X2 yang didapat dibawah kolom nilai kemungkinan 0,05 apabila nilai X2 yang didapat dibawah kolom nilai kemungkinan 0,05  itu berarti bahwa data yang diperoleh dari percobaan itu buruk. Ini disebabkan karena penyimpangan sangat berarti dan ada faktor lain diluar faktor kemungkinan yang berperan disitu. Kalau nilai X2 yang didapat berada di dalam kolom nilai kemungkinan 0,01 berarti data yang diperoleh dari percobaan buruk sekali. Nilai X2 itu disebut sangat berarti (“highly significant”). Ini disebabkan karena penyimpangan sangat berarti dan faktor di luar faktor kemungkinan besar perannya. Data hasil percobaan dapat dianggap baik apabila nilai X2 yang didapat berada di dalam kolom nilai kemungkinan  0,05 atau di dalam kolom sebelah kirinya
Dari hasil percobaan diperoleh nilai kemungkinan diantara 0,10 dan 0,30 yang berarti lebih besar daripada 0,05. Sesuai yang dipaparkan sebelumnya didalam kolom nilai kemungkinan 0,05 atau di dalam kolom sebelah kirinya dalam hal ini nilainya lebih besar dari 0,05 maka dapat diambil kesimpulan bahwa data yang diperoleh dari hasil percobaan sudah signifikan atau sesuai dengan teori yang ada. Berarti bahwa setelah 10-30 kali dari 100 kali percobaan yang dilakukan akan menjumpai deviasi semacam itu. Deviasi yang ada itu terjadi secara kebetulan dan kurang berari berhubung data percobaan biji genetik tersebut dinyatakan dengan baik, artinya memenuhi perbandingan 9:3:3:1.
Jadi, dari hasil percobaan yang dilakukan sudah sesuai dengan teori Mendel tentang pemisahan bebas dimana gen-gen yang dibawa oleh gamet-gamet tertentu akan bertemu secara acak, pertemuan ini dimisalkan dengan biji genetis kuning hijau (KB), kuning hitam (Kb), merah hijau (kB), dan merah hitam (kb). Yang menunjukkan bahwa gen-gen tersebut bertemu secara acak sehingga menghasilkan kombinasi-kombinasi yang menghasilkan K-B-, K-bb, kkB-, dan kkbb atau fenotip kuning bernas, kuning keriput, putih bernas dan putih keriput. Sehingga ketika dilakukan penggolongan hasil yang diperoleh mendekati rasio fenotip 9:3:3:1 sesuai dengan Hukum Mendel, hal ini diperkuat dari hasil yang diperoleh dari tes chi square sehingga percobaan yang dilakukan sudah sesuai dengan Hukum Mendel.
 


BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
            Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan dengan menggunakan biji genetis, maka dapat disimpulkan bahwa hal inimenunjukkan bahwa gen-gen yang dibawa oleh gamet-gamet tertentu akan bertemu secara acak atau random membentuk kombinasi-kombinasi yang menghasilkan fenotip dengan rasio mendekati perbandingan 9:3:3:1. Maka sesuai dengan Hukum Mendel II bahwa  gen-gen yang menentukan sifat-sifat yang berbeda dipindahkan secara bebas satu dengan yang lain dan akan terjadi pilihan acak pada keturunannya.
V.2 Saran
            Laporan ini belum begitu sempurna, saya harapkan kepada para pembaca khususnya pada teman-teman supaya memberikan saran dan kritik supaya pada pembuatan laporan selanjutnya sesuai dengan apa yang kita harapkan.








DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A,Recce, J.B. 2008. BiologiEdisikedelapanjilid 1. Erlangga.
Jakarta.
Didjosepoetro.1974.Pengantar Genetika. DeptDikBud. Jakarta.
Elvita, Asmi.,dkk.2008. Genetikadasar. http:/ yayanakyar. files. wordpres.com/
2009/01 /genetika-dasar files-of drsmed.pdf.diaksespadatanggal 6 Maret 2014, Pukul 20.20 WITA, Makassar.
Endista, Amiyella. 2008.Uji Chi-Square.http:/berandakami. file. wordpress.com/
2008 /11/uji-chi-square baru.pdf.diaksespadatanggal 6Maret 2014, pukul 20.20 WITA, Makassar.
Kusdiarti,Lilik.1986.Genetika Tumbuhan.UGM Press. Yogyakarta.
Nio,Tjan Kwiauw.1990.Genetika Dasar.ITB Press. Bandung.
Noor, R.R,1996. GenetikaTernak. Penebarswadaya. Jakarta.
Sofro,Abdul Salam.1992.Keanekaragaman Genetik.Andiofsel.Yogyakarta.
Sumastri. 2005. Genetika. http:/yayanakyar. files .wordpres.com/2009/01/genetika
files -of- drsmed. pdf.Diaksespadatanggal 9 Maret 2014, Pukul 19.27 WITA, Makassar.
Suryo.2005. Genetika Manusia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Susanto, HeryAgus. 2011. Genetika. Graham Ilmu. Yogyakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar