My JESUS

My JESUS

Senin, 22 Desember 2014

LP BIOKIMIA REAKSI UJI PROTEIN



LAPORAN PRAKTIKUM
BIOKIMIA
REAKSI UJI PROTEIN
NAMA                       : SOPHIA MARCELINA YANSIP
NIM                            : H41113701
HARI/TANGGAL    : KAMIS/ 06 NOVEMBER 2014
KELOMPOK            : IV (EMPAT) C
ASISTEN                   : SUKMAWATI USMAN







LABORATORIUM BIOKIMIA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Protein adalah molekul penyusun tubuh kita yang terbesar setelah air. Hal ini mengindikasikan pentingnya protein dalam menopang seluruh proses kehidupan dalam tubuh. Dalam kenyataannya, memang kode genetik yang tesimpan dalam rantaian DNA digunakan untuk membuat protein, kapan, dimana dan seberapa banyak. Protein berfungsi memberikan warna merah pada sel darah merah kita, sebagai antibodi, penyusun jaringan pengikat, bertugas mengikat oksigen dan membawanya ke bagian tubuh yang memerlukan. Selain itu juga menjadi penyusun tubuh, "dari ujung rambut sampai ujung kaki", misalnya keratin di rambut yang banyak mengandung asam amino Cysteine sehingga menyebabkan bau yang khas bila rambut terbakar karena banyaknya kandungan atom sulfur di dalamnya, sampai kepada protein-protein penyusun otot kita seperti actin, myosin, titin, dsb. Protein yang bernama rhodopsin, yaitu protein di dalam sel retina mata kita yang merubah photon cahaya menjadi sinyal kimia untuk diteruskan ke otak. Fungsi protein seperti hormon, antibodi dalam sistem kekebalan tubuh (Ngili, 2013).
            Proteindiperoleh dari bahan makanan yang mengandung protein misalnya pada hewan terkandung protein hewani, sedangkan pada tumbuhan terkandung protein nabati (Katili, 2009).
Berdasarkan teori tersebut, maka dilakukan praktikum mengenai uji protein.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
            Maksud dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui dan menguji reaksi protein dalam senyawa sampel.

1.2.1 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini yaitu :
1.      Untuk mengidentifikasi adanya protein dengan tes pengendapan logam.
2.      Untuk mengidentifikasi adanya protein dengan tes pengendapan dengan alkohol.

1.3 Prinsip Percobaan
Pengendapan dengan Logam, reaksi ion logam dengan protein mengakibatkan terjadinya endapan. Pengendapan dengan Alkohol menyebabkan penurunan kelarutan protein akibat penambahan pelarut organik.

1.4 Manfaat Percobaan
            Manfaat dari percobaan ini yaitu dapat mengetahui cara untuk mengidentifikasi adanya protein dengan pengendapan logam dan alcohol.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Arsitektur molekul dan aktivitas sel-sel hidup sangat tergantung pada protein, yang membentuk lebih dari setengah dari isi padat sel dan yang menunjukkan variabilitas yang besar dalam ukuran, bentuk, dan sifat fisik. Peran fisiologis mereka juga adalah  cukup bervariasi, dan karena variabilitas ini, mengkategorikan protein menurut  untuk fungsi mereka dapat membantu dalam studi metabolisme tubuh manusia. Jenis ini  kategorisasi menunjukkan ketergantungan tubuh pada benar berfungsi protein dan memberikan dasar untuk memahami pentingnya protein  struktur (Gropper dkk, 2005).  
            Protein adalah salah satu makrobiomolekular yang berfungsi sebagai pembentuk struktur sel dari pada makhluk hidup termasuk manusia. Protein adalah polimer dari asam-asam amino yang tersambung melalui ikatan peptida, oleh karenanya dapat disebut sebagai polipeptida yang terhubung melalui ikatan peptida. Hal yang menarik bahwa protein pada semua bentuk kehidupan (organisme) mengandung hanya 20 jenis asam amino, namun interkoneksinya menghasilkan ragam makhluk hidup yang tak terhingga banyaknya. Glisin merupakan asam amino yang paling sederhana dan pertama diisolasi dari hidrolisis protein. Sebagai contoh, hampir setengah molekul asam amino yang diperoleh bila sutra diisolasi adalah glisin. Teronin adalah asam amino pembentuk protein yang paling akhir dapat diisolasi yaitu dari hidrolisis fibrin (Tim Dosen Kimia, 2014).  
Protein memiliki berbagai fungsi biologis yang berbeda-beda pula, yaitu (Ngili, 2013):
1.      Katalis enzim. Enzim merupakan protein katalis yang mampu meningkatkan laju reaksi sampai 1012 kali laju awalnya.
2.      Transport dan penyimpanan. Banyak ion dan molekul kecil diangkut dalam darah maupun di dalam sel dengan cara berikatan pada protein pengangkut. Contohnya, hemoglobin merupakan protein pengangkut oksigen. Zat besi disimpan dalam berbagai jaringan oleh protein ferritin.
3.      Fungsi mekanik. Protein ini menjalankan peranan sebagai pembentuk struktur. Misalnya, protein kolagen menguatkan kulit, gigi, serta tulang. Membran yang megelilingi sel dan organel juga mengandung protein yang berfungsi sebagai pembentuk struktur sekaligus menjalankan fungsi biokimia lainnya.
4.      Pergerakan. Kontraksi otot terjadi karena adanya interaksi antara dua tipe protein filamen, yaitu aktin dan miosin. Miosin juga memiliki aktivitas enzim yang dapat memudahkan perubahan energi kimia ATP menjadi energi mekanik.
5.      Pelindung. Antibodi merupakan protein yang terlibat dalam perusakan se lasing.
6.      Proses informasi. Rangsangan luar seperti sinyal hormon atau intensitas cahaya dideteksi oleh protein tertentu yang meneruskan sinyal ke dalam sel. Contoh protein seperti ini misalnya rodopsin yang terdapat dalam membrane sel retina.
Alanin (Ala) atau asam 2-aminopropanoat merupakan salah satu asam amino non esensial. Bentuk yang umum di alam adalah L-alanin (S-alanin) meskipun terdapat pula bentuk D-alanin (R-alanin) pada dinding sel bakteri dan sejumlah antibiotika. L-alanin merupakan asam amino proteinogenik yang paling banyak dipakai dalam protein setelah leusin. Gugus metil pada alanin sangat tidak reaktif sehingga jarang terlibat langsung dalam fungsi protein (enzim). Alanin dapat berperan dalam pengenalan substrata tau spesifitas, khususnya dalam interaksi dengan atom nonreaktif seperti karbon. Dalam proses pembentukan glukosa dari protein, alanin berperan dalam daur alanina (Poedjadi, 1994).
Glisin merupakan asam amino non esensial bagi manusia. Tubuh manusia memproduksi glisin dalam jumlah mencukupi. Glisin berperan dalam sistem saraf sebagai inhibitor neurotransmitter pada sistem  saraf pusat (CNS) (Poedjadi, 1994).
Asam aspartat merupakan satu dari 20 asam amino penyusun protein. Asparagin merupakan asam amino analognya karena terbentuk melalui aminasi aspartat pada satu gugus hidroksilnya. Asam aspartat bersifat asam, dan dapat digolongkan sebagai asam karboksilat. Bagi mamalia aspartat tidaklah esensial. Fungsinya diketahui sebagai pembangkit neurotransmisi di otak dan saraf otak. Diduga, aspartat berperan dalam daya tahan terhadap kepenatan. Senyawa ini juga merupakan produk dari daur urea dan terlibat dalam glukoneogenesis (Lehninger, 1982).
            Semua asam amino yang ditemukan pada protein mempunyai ciri yang sama, gugus karboksil dan amino diikat pada atom karbon yang sama. Masing-masing berbeda satu dengan yang lain pada gugus R-nya, yang bervariasi dalam struktur, ukuran, muatan listrik, dan kelarutan dalam air. Beberapa asam amino mempunyai reaksi yang spesifik yang melibatkan gugus R-nya (Lehninger, 1982).

BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Bahan
            Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah  larutan protein (albumin), larutan asam amino (alanin, asam aspartat, glisin), HgCl2 0,2 M, (CH3COO)2 Pb 0,2 M, NaOH 0,1 M, HCl 0,1 M, etanol 95% dan buffer pH 4,7.

3.2 Alat
            Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi, rak tabung, pipet tetes dan sikat tabung.

3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Pengendapan dengan Logam
            Tiga ml larutan protein (albumin) dan larutan asam amino (alanin, asam aspartat dan glisin) ditambahkan dengan 5 tetes HgCl2 0,2 M. Ulangi percobaan dengan menggunakan  CH3COO)2 Pb 0,2 M.

3.3.2 Pengendapan dengan Alkohol
            Tabung I diisi dengan 3 ml larutan albumin lalu ditambahkan dengan 1 ml HCl 0,1 M dan 6 ml etanol 95%. Tabung II diisi dengan3 ml larutan albumin lalu ditambahkan dengan 1 ml NaOH 0,1 M kemudian ditambahkan dengan 6 ml etanol 95%. Tabung III diisi dengan 3 ml larutan albumin lalu ditambahkan dengan 1 ml buffer asetat pH 4,7 kemudian ditambahkan dengan 6 ml etanol 95%.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Pengendapan dengan Logam
No
Larutan contoh
HgCl2  0,2 M
(CH3COO)2Pb
1.
2.
3.
4.
Albumin
Alanin
Asparagin
Glisin
Keruh + endapan
Bening
Bening
Bening
Putih keruh + endapan
Bening
Keruh
Bening


4.1.3  Pengendapan dengan Alkohol
Larutan Contoh
Tabung I
Tabung II
Tabung III
Larutan Albumin
Putih keruh
Terbentuk 3
lapisan
Terbentuk 3
Lapisan
Keterangan :
Ø  Tabung I               : Larutan albumin + HCl 0,1 M + etanol 95 %.
Ø  Tabung II             : Larutan albumin + NaOH 0,1 M + etanol 95 %.
Ø  Tabung III            : Larutan albumin + buffer asetat pH 4,7 + etanol 95 %.




4.2 Reaksi
4.2.1 Pengendapan dengan Logam

4.2.1.2 Pb Asetat (CH3COO)2 Pb 0,2 M


4.2.2 Pengendapan dengan Alkohol
 


4.3 Pembahasan
4.3.1 Pengendapan dengan Logam
            Setelah melakukan percobaan reaksi uji protein dengan cara pengendapan dengan logam maka hasil yang diperoleh larutan albumin + HgCl2 menghasilkan larutan yang keruh serta terdapat endapan putih begitupun dengan (CH3COO)2 Pb, ini dikarenakan albumin merupakan senyawa protein kompleks yang terdiri dari beberapa monomer-monomer asam amino, oleh karena itu maka terbukti bahwa albumin mengandung protein yang ditandai dengan adanya endapan putih. Larutan alanin + HgCl2 + (CH3COO)2  menunjukkan tidak adanya endapan yang dihasilkan, begitupun dengan larutan glisin + HgCl2 + (CH3COO)2 dan asam aspartat + HgCl2 +(CH3COO)2  ini menandakan bahwa tidak ada protein yang terkandung dalam ketiga larutan tersebut, karena alanin, glisin dan asam aspartat hanya merupakan monomer-monomer asam amino yang belum kompleks.
            Reaksi uji protein dengan cara pengendapan dengan logam mendapatkan hasil yang sama dengan reaksi uji protein dengan pengendapan logam, kecuali pada larutan albumin karena menghasilkan endapan.


4.3.3 Pengendapan dengan Alkohol
            Reaksi uji protein dengan cara pengendapan dengan alkohol, hasil yang diperoleh adalah albumin + HCl 0,1 M + etanol 95 % menghasilkan larutan 3 fase (bening, putih, keruh),  albumin + NaOH + etanol 95% mengasilkan larutan 3 fase (keruh, bening, kuning), dan albumin + buffer pH 4,7 + etanol 95% menghasilkan larutan 3 fase ( keruh, putih, bening, terkhusus pada larutan albumin yang direaksikan dengan buffer pH 4,7 merupakan titik isoelektrik dimana keadaan asam sama dengan basa. Percobaan ini membuktikan bahwa protein bersifat zwitter ion karena memiliki gugus amina dan karboksil sekaligus, zat ini dapat dianggap sebagai asam sekaligus basa walaupun pH alaminya biasanya dipengaruhi oleh gugus –R yang dimiliki.












BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
            Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
1.      Pada reaksi pengendapan dengan logam, larutan albumin mengandung protein ditandai dengan adanya endapan, sedangkan pada tiga larutan asam amino (alanin, glisin dan asam aspartat) tidak ada reaksi (bening).
2.      Pada reaksi pengendapan dengan alcohol, ketiga larutan menghasilkan 3 fase, terkhusus pada larutan yang direaksikan dengan buffer pH 4,7 merupakan titik isoelektrik dimana keadaan asam sam dengan basa.

5.2 Saran
            Sejauh ini asisten sudah sangat maksimal dalam menjelaskan dan membimbing praktikan dalam melaksanakan praktikum hingga pengerjaan laporan, terima kasih.







DAFTAR PUSTAKA

Gropper,  Sareen. S.,  Smith, Jack.  L.,  Groff,  James. L.,  Advanced   Nutritions  And
Human Metabolism, Pre-Press PMG, Canada.

Katili, AS., 2009, Struktur dan Fungsi Protein Kolagen, Jurnal Pelangi Ilmu, Vol 2,
No. 5, Hal : 1-2, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Lehninger, A.L., 1982, Dasar-Dasar Biokimia, jilid I, Erlangga, Jakarta

Ngili,  Yohanis,  2013,   Biokimia  Dasar   Edisi  Revisi,   Penerbit   Rekayasa   Sains,
Bandung.

Poedjiadi A., 1994, Dasar-Dasar Biokimia, UI Press, Jakarta.

Tim  Dosen  Kimia,  2014,  Kimia  Organik,  UPT  MKU  Universitas  Hasanuddin,
Makassar.