LAPORAN KULIAH LAPANGAN
OSEANOLOGI
PENDAHULUAN
PENGAMATAN
ASPEK BIOLOGI, FISIKA, KIMIA DAN GEOLOGI
PULAU
SAMALONA DI MAKASSAR SULAWESI SELATAN
DI
SUSUN OLEH :
KELOMPOK
II
MUH. MULIADI
(H41113348) HERIANTI (H41113043)
SOPHIA M. YANSIP
(H41113701) YULIANA SARI (H41113039)
WAODE BAHARANI
(H41113055) HARDIANTI LESTARI
(H41113034)
ARNOL (H41113034) ELKY JULIANTI (H41113327)
ANDI ARFANDY
A.AGI (H41113009)
LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat
Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas limpahan kasih dan rahmat-Nya sehingga
laporan kuliah lapangan untuk memenuhi mata kuliah Oseanologi Pendahuluan ini
dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari, laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan dan apabila dalam penulisan laporan ini masih terdapat banyak
kekurangan oleh sebab itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya dan penulis
juga sangat mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak demi
panyempurnaan laporan ini.
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Kata oseanografi adalah kombinasi dari dua kata yunani
: oceanus (samudera) dan graphos (uraian/deskripsi) sehingga
oseanografi mempunyai arti deskripsi tentang samudera. Tetapi lingkup
oseanografi pada kenyataannya lebih dari sekedar deskripsi tentang samudera,
karena samudera sendiri akan melibatkan berbagai disiplin ilmu jika ingin
diungkapkan.
Dalam
bahasa lain yang lebih lengkap, oseanografi dapat diartikan sebagai studi dan
penjelajahan (eksplorasi) ilmiah mengenai laut dan seg ala fenomenanya. Laut sendiri adalah bagian dari hidrosfer.
Seperti diketahui bahwa bumi terdiri dari bagian padat yang disebut litosfer,
bagian cair yang disebut hidrosfer dan bagian gas yang disebut atmosfer.
Sementara itu bagian yang berkaitan dengan sistem ekologi seluruh makhluk hidup
penghuni planet Bumi dikelompokkan ke dalam biosfer.
Para
ahli oseanografi mempelajari berbagai topik, termasuk organisme laut dan
dinamika ekosistem; arus samudera, ombak, dan dinamika fluida geofisika;
tektonik lempeng dan geologi dasar laut dan aliran berbagai zat kimia dan sifat
fisik didalam samudera dan pada batas-batasnya. Topik beragam ini menunjukkan
berbagai disiplin yang digabungkan oleh ahli oceanografi untuk memperluas
pengetahuan mengenai samudera dan memahami proses di dalamnya yaitu biologi,
kimia, geologi, dan fisika.
Beberapa
sumber lain berpendapat bahwa ada perbedaan mendasar yang membedakan antara
oseanografi dan oseanologi. Oseanologi terdiri dari dua kata (dalam bahasa
Yunani) yaitu oceanos (laut) dan logos (ilmu) yang secara sederhana dapat
diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang laut. Dalam arti yang lebih
lengkap, oseanologi adalah studi ilmiah mengenai laut dengan cara menerapkan
ilmu-ilmu pengetahuan tradisional seperti fisika, kimia, matematika, dan
lain-lain ke dalam segala aspek mengenai laut .
Oseanografi
adalah bagian dari ilmu kebumian atau earth sciences yang mempelajari
laut,samudra beserta isi dan apa yang berada di dalamnya hingga ke kerak
samuderanya. Secara umum, oseanografi da pat
dikelompokkan ke dalam 4 (empat) bidang ilmu utama yaitu: geologi oseanografi
yang mempelajari lantai samudera atau litosfer di bawah laut; fisika
oseanografi yang mempelajari masalah-masalah fisis laut seperti arus,
gelombang, pasang surut dan temperatur air laut; kimia oseanografi yang
mempelajari masalah-masalah kimiawi di laut, dan yang terakhir biologi
oseanografi yang mempelajari masalah-masalah yang berkaitan dengan flora dan
fauna atau biota di laut.
I.2 Tujuan
Tujuan dilakukannya kuliah lapangan ini adalah untuk
mengetahui kondisi pantai Pulau Samalona berdasarkan aspek biologi, aspek
fisika, aspek kimia dan aspek geologi.
I.3 Manfaat
Manfaat dilakukannya kuliah lapangan Oseanologi
Pendahuluan ini adalah untuk menambah wawasan kita mengenai kondisi Fisika, Kimia dan Biologi pantai di
pulau Samalona dan menambah wawasan mengenai biota-biota laut yang ada di Pulau
Samalona.
I.4 Waktu dan Tempat
Kuliah Lapangan Oseanologi Pendahuluan ini
dilaksanakan pada hari Kamis, 5 Juni
2014, pukul 09.00 WITA, bertempat di Pulau Samalona,Makassar, Sulawesi Selatan.
BAB II
ISI
II.1
Aspek Biologi
Aspek biologi meliputi
organisme hidup yang ada di Pulau Samalona. Dari pengamatan yang dilakukan
biota atau organisme yang didapati yaitu zona karang batu, ikan, mollusca, makro
alga, rumput laut, jamur laut, bulu babi
dan juga terdapat tumbuhan mangrove di tengah Pulau Samalona.
Zona karang adalah zona yang didominasi oleh beragam jenis karang
dan biota-biota lain yang hidup saling bersimbiosis satu sama lainnya. Pada
zona ini kami mendapati karang batu (hard coral). Karang batu (hard coral) merupakan penyusun
utama ekosistem terumbu karang. Pada zona ini, biota-biota yang
hidup biasanya menggunakankarang sebagai substratnya. Karang yang kami temukan memiliki
variasi warna yang indah. Warna yang indah dari karang merupakan hasil
metabolisme dari mikroalgae zooxanthellae yang bersimbiosis dengan karang. Pada
zona karang, juga terdapat beberapa jenis karang batu dan karang yang telah
mengalami pemutihan atau Bleaching.
Adapun
pasir putih yang berada ditepi pantai tersebut merupakan hasil pelapukan karang
sehingga pasir tersebut berwarna putih dan kasar. Karang tersebut dibawa oleh
arus sehingga terjadi pelapukan dan membentuk daratan yang berupa pasir putih.
Ketika tiba di dermaga terlihat ikan-ikan kecil yang berkoloni di tepi pantai
juga ikan berwarna merah tetapi tubuhnya sangat kecil yang ditangkap oleh
beberapa orang yang sedang berwisata di Pulau tersebut.
Selain karang batu di zona karang, kami juga menemukan
spesies makroalgae. Dalam dunia tumbuh-tumbuhan, alga dikenal sebagai tumbuhan
talus (Thallophyta) karena organ-organ berupa akar, batang, dan daunnya belum
terdiferensiasi dengan jelas. Algae (jamak) dan alga (tunggal), bersal dari
bahasa latin algor yang berarti dingin sedangkan dalam bahasa Yunani algae
berasal dari kata phycos.
Berdasarkan ukuran tubuhnya, algae dibedakan menjadi dua
kelompok, yaitu algae berukuran kecil (mikro alga) dan alga berukuran besar
(makro alga). Makro alga merupakan tumbuhan makrofibentik (besar dan melekat
pada substrat di lautan). Makro alga dibedakan menjadi 3 kelompok berdasarkan
pigmen fotosintesis yang dimilikinya, yaitu Clorophyta, Phaeophita, dan Rhodophyta.
Makro alga merupakan tumbuhan tak berpembuluh yang tumbuh
melekat pada substrat dasar laut, tumbuhan tersebut tidak memiliki akar,
batang, daun, bunga, dan biji sejati. Berdasarkan kandungan pigmennya Rumput
laut merupakan makroalga bentik yang terdiri dari jenis-jenis yang termasuk
divisio Rhodophyta (alga merah),Phaeophyta (alga coklat) dan Chlorophyta (alga
hijau). Rumput laut umumnya tumbuh melekat pada suatu substrat.
Rumput laut atau seaweed termasuk tumbuhan berthallus
yang banyak dijumpai hampir di seluruh perairan pantai Indonesia, terutama di
pantai yang mempunyai rataan terumbu karang. Di dalam perairan rumput laut
menempatiberdasarkan pigmen fotosintesis yang dimilikinya, yaitu Clorophyta,
Phaeophita, dan Rhodophyta.
Makro alga merupakan tumbuhan tak berpembuluh yang tumbuh
melekat pada substrat dasar laut, tumbuhan tersebut tidak memiliki akar,
batang, daun, bunga, dan biji sejati. Berdasarkan kandungan pigmennya Rumput
laut merupakan makroalga bentik yang terdiri dari jenis-jenis yang termasuk
divisio Rhodophyta (alga merah),Phaeophyta (alga coklat) dan Chlorophyta (alga
hijau). Rumput laut umumnya tumbuh melekat pada suatu substrat.
Rumput laut atau seaweed termasuk tumbuhan berthallus
yang banyak dijumpai hampir di seluruh perairan pantai Indonesia, terutama di
pantai yang mempunyai rataan terumbu karang. Di dalam perairan rumput laut
menempati posisi sebagai produsenprimer yang menyokong kehidupanbiota lain pada
tropik level yang lebih tinggi. Rumput laut umumnya hidup di dasar laut dan substratnya
dapat berupa pasir, pecahan karang (gravel), karangmati, serta benda-benda
keras yang terendamdi dasar laut.
Makroalga (Rumput laut), hidup di laut yang tidak
memiliki akar, batang dan daun sejati dan pada umumnya hidup di dasar perairan
dan menempel pada substrat (benda lain). Fungsi akar (holdfas) pada rumput laut
bukan sebagai penyerap makan melainkan saebagai alat pelekat pada substrat.
Karena tidak memiliki akar, batang dan daun seperti umumnya pada tanaman, maka
rumput laut digolongkan ke dalam tumbuhan tingkat rendah (Thallophyta).
Morfologi dari rumput laut merupakan salah satu dasar untuk membedakan antara
satu jenis alga dengan alga yang lain, bentuk thallus, kandunganpigmen,
fungsi-fungsi bagian rumput laut serta beberapa hal mendasar yang membedakan
rumput laut.
Makroalgae yang
kami temukan merupakan algae dari kelas Phaeophyta, Famili Phaeophyceae atau
Algae coklat dan algae dari kelas Chlorophyta, Famili Chlorophyceae atau Algae
hijau. Algae coklat yang kami temukan adalah Padina australis, Dictyota sp,
Turbinariasp dan Sargassum
sp. Padina australis adalah algae
coklat yang berbentuk lembaran dan memiliki tipe pertumbuhan konsentris. Dictyota sp adalah algae coklat yang
ujung daun semunya terbagi dua, serta memiliki bludder atau rongga udara kecil.
Turbinaria sp adalah
Algae coklat yang berbentuk segitiga dan menyerupai bentuk hati. Sargassum sp adalah algae coklat yang
terdiri atas Thallus batang semu dan daun semu serta Bludder atau rongga udara
yang bentuknya seperti buah semu. Sargassum
sp yang ditemukan terapung di permukaan air, diperkirakan bahwa Sargassum sp yang terapung tersebut
berasal dari pulau Lae-lae. Selain Algae coklat, ditemukan juga Algae hijau
yaitu spesies Halimeda makroloba. Halimeda makroloba terdiri atas Thallus
utama dan thallus cabang dan bentuknya seperti pohon kaktus.
Selain
flora berupa Lamun dan Algae, di zona Lamun, kami juga menemukan fauna berupa
landak laut atau bulu babi Diadema
sitosum. Morfologi bulu babi atau landak laut Diadema sitosum adalah tubuhnya bulat, memiliki banyak duri di
sekujur tubuhnya dan memiliki banyak mata. Diadema
sitosum merupakan hewan dari Filum Echinodermata Kelas Echinoidea.
Ada
beberapa jenis karang laut yang berupa jamur laut yang berpolip-polip serta
hidupnya berkoloni.
Landak laut atau disebut juga bulu babi (Echinoidea)
merupakan hewan laut yang berbentuk bundar dan
memiliki duri pada kulitnya yang dapat digerakkan. Landak laut ini memiliki 10 garis-garis pada tubuhnya,
duri pada kulitnya digunakan untuk bergerak serta menempel pada karang.
Ada
juga pohon yang terdapat di tengah Pulau tersebut, pohon itu merupakan tumbuhan
mangrove sejati yang mampu bertumbuh serta bertahan hidup di daerah yang
memilki salinitas yang cukup tinggi.
II.2 Aspek Fisika
Kawasan
perairan pulau kecil memilki sumber daya kelautan yang melimpah yang dapat
dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata bahari. Pada aspek ini tentu yang
diamati yaitu bagian fisik dari pulau tersebut antara lain yaitu angin, arus
laut, kecepatan gelombang laut, pasang surut serta arus dekat pantai.
Berdasarkan hasi pengamatan dapat diketahui bahwa arus laut di Pulau Samalona
tidak terlalu besar sehingga tidak terlalu mempengaruhi pergerakan organisme
yang ada didalamnya.
Angin merupakan udara yang tak dapat diraba atau
disentuh tetapi dapat dirasakan, angin yang berhembus diatas permukaan air akan
memindahkan energinya ke air. Kecepatan angin menimbulkan tegangan pada
permukaan laut, sehingga permukaan air yang semula tenang terganggu dan timbul
riak gelombang kecil di atas permukaan air yang sering disebut ombak.
Apabila
ditinjau dari aspek fisikanya adanya suatu gelombang umumnya selalu ditemukan
dipermukaan laut yang terbentuk akibat adanya proses alih energi dari angin ke
permukaan laut sehingga semakin tinggi angin maka semakin mempengaruhi
terjadinya gelombang dan dampak yang ditimbulkan sampai ke areal pesisir
pantai. Gelombang yang terjadi akan merambat ke segala arah yang membawa enargi
tersebut kemudian dilepaskan ke pantai dalam bentuk hempasan ombak. Sebagai
contoh akibat yang ditimbulkan adanya gelombang besar ini yaitu terjadinya
abrasi. Apalagi di sekitar pantai belum terdapat tanaman Mangrove untuk
mencegah terjadinya abrasi. Pada kepulauan ini terdapat pemecah gelombang laut
disebelah barat pulau. Pemecah gelombang ini sberfungsi untuk memecahkan atau
menahan gelombang yang sangat besar agar tidak masuk secara langsung ke daratan
pulau tersebut. Ada juga gelombang yang terdapat batas tinggi gelombang, dimana
gelombang tersebut menjadi tidak stabil dan pecah karena kecepatan partikel
dipuncak gelombang lebih besar dari kecepatan perambatan gelombang, gelombang
ini disebut gelombang pecah (wave breaking).
Arus dekat pantai ditimbulkan oleh gelombang pecah
dengan membentuk sudut terhadap garis pantai yang dibangkitkan oleh gelombang
laut.
Pasang surut (ocean tide) merupakan fenomena naik dan
turunnya permukaan air laut secara periodik yang disebabkan oleh pengaruh
gravitasi benda-benda langit terutama bulan dan matahari.Pasang surut juga sangat
mempengaruhi hal ini, dimana pasang surut merupakan fenomena naik turunnya
permukaan air laut secara periodik yang disebabkan oleh pengaruh gravitasi
benda-benda langit terutama bulan dan matahari. Pasang terjadi di pagi hari dan
surut terjadi pada sore hari. Tipe-tipe pasang surut terdiri atas :
1. Pasang surut tipe harian tunggal yaitu bila dalam
waktu 24 jam terdapat 1 kali pasang dan 1 kali surut.
2. Pasang surut tipe harian ganda yaitu bila dalam 24 jam
terdapat 2 kali pasang dan 2 kali surut.
3. Pasang surut tipe campuran yaitu bila dalam 24 jam
tardapat bentuk campuran yang condong ke tipe harian tunggal atau condong ke
tipe harian ganda.
Untuk
kecerahan suatu air laut sangat ditentukan oleh keadaan cuaca dan kekeruan yang
terjadi menggambarkan suatu sifat optik air yang ditentukan berdasarkan
banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di
dalam air. Warna suatu air dikelompokkan
menjadi dua yaitu warna sesungguhnya dan warna yang hanya disebabkan oleh
bahan-bahan kimia terlarut. Warna sesungguhnya adalah warna yang hanya
disebabkan oleh bahan-bahan kimia terlarut dan warna tampak adalah warna yang
tidak hanya disebabkan oleh bahan terlarut tetapi juga bahan tersuspensi.
Selain sebagai tempat wisata, Pulau Samalona ini juga
merupakan penahan terhadap pantai utama daratan Sulawesi.
II.3 Aspek
Kimia
Ditinjau dari aspek kimia, salinitas
yang ada pada air laut sangat tergantung pada komposisi yang ada di daratan
(batu-batuan) yang mengandung mineral atau logam maka apabila bercampur dengan
air laut maka salinitasnya tinggi. Salinitas merupakan jumlah berat semua gram
(dalam gram) yang terlarut dalam satu kilogram air laut. Pada air laut
konsentrasi garam-garam jumlahnya relatif sama dalam setiap contoh-contoh air
laut. Oleh karena itu untuk menghitung salinitas air laut di suatu daerah
secara biasa untuk menentukan salinitas adalah dengan menghitung kadar klorida
yang ada dalam contoh air laut karena dianggap klorida adalah komponen yang
paling penting dan jumlahnya paling banyak dimana kandungan klorida ditetapkan
sebagai jumlah gram ion pada suatu kilogram air laut, dengan menganggap semua
halogen ekivalen dengan klorida. Semakin rendah penguapan maka salinitas
menjadi rendah tetapi sebaliknya semakin tinggi penguapan maka tingkat
salinitas juga meningkat atau tinggi. Salinitas air berpengaruh pada produksi, distribusi dan lamanya hidup
ikan serta orientasi migrasi. Sedangkan
suhu yang mempengaruhi air sangat tergantung oleh musim, lintang,
ketinggian dari permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan
awan dan aliran serta kedalaman air laut. Perubahan suhu ini sangat berpengaruh
terhadap proses fisika, kimia dan biologi.
Peningkatan suhu akan mengakibatkan penurunan
kelarutan gas dalam air, misalnya gas O2, CO2, N2,
CH4 dan sebagainya. Namun, peningkatan suhu ini disertai dengan
penurunan kadar oksigen yang terlarut sehingga keberadaan oksigen sering klai
tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen bagi organism akuatik untuk melakukan
proses metabolisme dan respirasi. Sedangkan untuk faktor pH, sebagian besar
biota akuatik sensitive terhadap perubahan pH dan menyukai pH sekitar 7-8,5.
Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses
nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah dimana pada pH < 4, sebagian besar
tumbuhan air mati karena tidak dapat bertoleransi pada pH rendah tetapi algae
masih dapat bertahan hidup pada pH rendah.
Pada lokasi kuliah lapangan jurusan
biologi yaitu di Pulau Samalona provinsi Sulawesi Selatan, ditinjau dari aspek
geologi pada zona pasir di Pulau Samalona, pasir di Pantai tersebut berwarna
putih. Pasir
merupakan material berupa butiran dengan ukuran 0,0625-2 mm. banyak kapur. Substrat putih pada pasir pantai tersebut disebabkan oleh pelapukan karang yang
tersusun dari CaCo3 dan cangkang dari gastropoda yang sudah mati
yang mengandung zat kapur.
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Dari Kuliah Lapangan yang di lakukan di Pulau Samalona
maka dapat disimpulkan bahwa untuk menetukan aspek biologi, aspek fisika, aspek
kimiaserta aspek geologi, digunakan parameter morfologi pantai, tipe substrat,
gelombang, pasang surut, kecerahan, salinitas, suhu, oksigen yang terlarut, pH,
jenis biota dan warna pasir yang terdapat dalam suatu perairan.
III.2 Saran
Sebaiknya pada kuliah lapangan
selanjutnya, asisten juga menjelaskan tentang aspek fisika, aspek kimia serta
aspek geologi di perairan tersebut secara mendetail , tidak hanya menjelaskan
tentang aspek biologinya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
2013. Biologi Laut. http://nightray13-kuro.blogspot.com/2013/09/biologi
Anonim.
2013. Oseanologi Pendahuluan. http://yuniradcliffe.blogspot.com/2012/
Campbel,
dkk. 2003. Biologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Litaay,
Magdalena dkk., 2012. Oseanologi Pendahuluan. Universitas Hasanuddin.
Makassar.
Tjitrosoepomo,
Gembong. 1985. Taksonomi Tumbuhan Tingkat
Rendah. Univeristas Gajah Mada. Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar