My JESUS

My JESUS

Minggu, 21 Desember 2014

LAPORAN KULIAH LAPANGAN OSEANOLOGI PENDAHULUAN



LAPORAN KULIAH LAPANGAN
OSEANOLOGI PENDAHULUAN
PENGAMATAN ASPEK BIOLOGI, FISIKA, KIMIA DAN GEOLOGI
PULAU SAMALONA DI MAKASSAR SULAWESI SELATAN


DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK II

BETSY YUNIOR (H41113025)           LUSIANA (H41113036)
MUH. MULIADI (H41113348)           HERIANTI (H41113043)
SOPHIA M. YANSIP (H41113701)                YULIANA SARI (H41113039)
WAODE BAHARANI (H41113055)   HARDIANTI LESTARI (H41113034)
ARNOL (H41113034)                           ELKY JULIANTI (H41113327)
ANDI ARFANDY A.AGI (H41113009)


LABORATORIUM  ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

KATA PENGANTAR
            Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas limpahan kasih dan rahmat-Nya sehingga laporan kuliah lapangan untuk memenuhi mata kuliah Oseanologi Pendahuluan ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
            Penulis menyadari, laporan ini masih jauh dari kesempurnaan dan apabila dalam penulisan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan oleh sebab itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya dan penulis juga sangat mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak demi panyempurnaan laporan ini.

















Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
            Kata oseanografi adalah kombinasi dari dua kata yunani : oceanus (samudera) dan graphos (uraian/deskripsi) sehingga oseanografi mempunyai arti deskripsi tentang samudera. Tetapi lingkup oseanografi pada kenyataannya lebih dari sekedar deskripsi tentang samudera, karena samudera sendiri akan melibatkan berbagai disiplin ilmu jika ingin diungkapkan.
Dalam bahasa lain yang lebih lengkap, oseanografi dapat diartikan sebagai studi dan penjelajahan (eksplorasi) ilmiah mengenai laut dan seg ala fenomenanya. Laut sendiri adalah bagian dari hidrosfer. Seperti diketahui bahwa bumi terdiri dari bagian padat yang disebut litosfer, bagian cair yang disebut hidrosfer dan bagian gas yang disebut atmosfer. Sementara itu bagian yang berkaitan dengan sistem ekologi seluruh makhluk hidup penghuni planet Bumi dikelompokkan ke dalam biosfer.
Para ahli oseanografi mempelajari berbagai topik, termasuk organisme laut dan dinamika ekosistem; arus samudera, ombak, dan dinamika fluida geofisika; tektonik lempeng dan geologi dasar laut dan aliran berbagai zat kimia dan sifat fisik didalam samudera dan pada batas-batasnya. Topik beragam ini menunjukkan berbagai disiplin yang digabungkan oleh ahli oceanografi untuk memperluas pengetahuan mengenai samudera dan memahami proses di dalamnya yaitu biologi, kimia, geologi, dan fisika.
Beberapa sumber lain berpendapat bahwa ada perbedaan mendasar yang membedakan antara oseanografi dan oseanologi. Oseanologi terdiri dari dua kata (dalam bahasa Yunani) yaitu oceanos (laut) dan logos (ilmu) yang secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang laut. Dalam arti yang lebih lengkap, oseanologi adalah studi ilmiah mengenai laut dengan cara menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan tradisional seperti fisika, kimia, matematika, dan lain-lain ke dalam segala aspek mengenai laut .
Oseanografi adalah bagian dari ilmu kebumian atau earth sciences yang mempelajari laut,samudra beserta isi dan apa yang berada di dalamnya hingga ke kerak samuderanya. Secara umum, oseanografi da pat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) bidang ilmu utama yaitu: geologi oseanografi yang mempelajari lantai samudera atau litosfer di bawah laut; fisika oseanografi yang mempelajari masalah-masalah fisis laut seperti arus, gelombang, pasang surut dan temperatur air laut; kimia oseanografi yang mempelajari masalah-masalah kimiawi di laut, dan yang terakhir biologi oseanografi yang mempelajari masalah-masalah yang berkaitan dengan flora dan fauna atau biota di laut.

I.2 Tujuan
            Tujuan dilakukannya kuliah lapangan ini adalah untuk mengetahui kondisi pantai Pulau Samalona berdasarkan aspek biologi, aspek fisika, aspek kimia dan aspek geologi.

I.3 Manfaat
Manfaat dilakukannya kuliah lapangan Oseanologi Pendahuluan ini adalah untuk menambah wawasan kita mengenai kondisi Fisika, Kimia dan Biologi pantai di pulau Samalona dan menambah wawasan mengenai biota-biota laut yang ada di Pulau Samalona.






I.4 Waktu dan Tempat
            Kuliah Lapangan Oseanologi Pendahuluan ini dilaksanakan  pada hari Kamis, 5 Juni 2014, pukul 09.00 WITA, bertempat di Pulau Samalona,Makassar, Sulawesi Selatan.



BAB II
ISI
II.1 Aspek Biologi
            Aspek biologi meliputi organisme hidup yang ada di Pulau Samalona. Dari pengamatan yang dilakukan biota atau organisme yang didapati yaitu zona karang batu, ikan, mollusca, makro alga, rumput laut, jamur laut,  bulu babi dan juga terdapat tumbuhan mangrove di tengah Pulau Samalona.
Zona karang adalah zona yang didominasi oleh beragam jenis karang dan biota-biota lain yang hidup saling bersimbiosis satu sama lainnya. Pada zona ini kami mendapati karang batu (hard coral). Karang batu (hard coral) merupakan penyusun utama ekosistem terumbu karang. Pada zona ini, biota-biota yang hidup biasanya menggunakankarang sebagai substratnya. Karang yang kami temukan memiliki variasi warna yang indah. Warna yang indah dari karang merupakan hasil metabolisme dari mikroalgae zooxanthellae yang bersimbiosis dengan karang. Pada zona karang, juga terdapat beberapa jenis karang batu dan karang yang telah mengalami pemutihan atau Bleaching.
Adapun pasir putih yang berada ditepi pantai tersebut merupakan hasil pelapukan karang sehingga pasir tersebut berwarna putih dan kasar. Karang tersebut dibawa oleh arus sehingga terjadi pelapukan dan membentuk daratan yang berupa pasir putih. Ketika tiba di dermaga terlihat ikan-ikan kecil yang berkoloni di tepi pantai juga ikan berwarna merah tetapi tubuhnya sangat kecil yang ditangkap oleh beberapa orang yang sedang berwisata di Pulau tersebut.
Selain karang batu di zona karang, kami juga menemukan spesies makroalgae. Dalam dunia tumbuh-tumbuhan, alga dikenal sebagai tumbuhan talus (Thallophyta) karena organ-organ berupa akar, batang, dan daunnya belum terdiferensiasi dengan jelas. Algae (jamak) dan alga (tunggal), bersal dari bahasa latin algor yang berarti dingin sedangkan dalam bahasa Yunani algae berasal dari kata phycos.
Berdasarkan ukuran tubuhnya, algae dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu algae berukuran kecil (mikro alga) dan alga berukuran besar (makro alga). Makro alga merupakan tumbuhan makrofibentik (besar dan melekat pada substrat di lautan). Makro alga dibedakan menjadi 3 kelompok berdasarkan pigmen fotosintesis yang dimilikinya, yaitu Clorophyta, Phaeophita, dan Rhodophyta.
Makro alga merupakan tumbuhan tak berpembuluh yang tumbuh melekat pada substrat dasar laut, tumbuhan tersebut tidak memiliki akar, batang, daun, bunga, dan biji sejati. Berdasarkan kandungan pigmennya Rumput laut merupakan makroalga bentik yang terdiri dari jenis-jenis yang termasuk divisio Rhodophyta (alga merah),Phaeophyta (alga coklat) dan Chlorophyta (alga hijau). Rumput laut umumnya tumbuh melekat pada suatu substrat.
Rumput laut atau seaweed termasuk tumbuhan berthallus yang banyak dijumpai hampir di seluruh perairan pantai Indonesia, terutama di pantai yang mempunyai rataan terumbu karang. Di dalam perairan rumput laut menempatiberdasarkan pigmen fotosintesis yang dimilikinya, yaitu Clorophyta, Phaeophita, dan Rhodophyta.
Makro alga merupakan tumbuhan tak berpembuluh yang tumbuh melekat pada substrat dasar laut, tumbuhan tersebut tidak memiliki akar, batang, daun, bunga, dan biji sejati. Berdasarkan kandungan pigmennya Rumput laut merupakan makroalga bentik yang terdiri dari jenis-jenis yang termasuk divisio Rhodophyta (alga merah),Phaeophyta (alga coklat) dan Chlorophyta (alga hijau). Rumput laut umumnya tumbuh melekat pada suatu substrat.
Rumput laut atau seaweed termasuk tumbuhan berthallus yang banyak dijumpai hampir di seluruh perairan pantai Indonesia, terutama di pantai yang mempunyai rataan terumbu karang. Di dalam perairan rumput laut menempati posisi sebagai produsenprimer yang menyokong kehidupanbiota lain pada tropik level yang lebih tinggi. Rumput laut umumnya hidup di dasar laut dan substratnya dapat berupa pasir, pecahan karang (gravel), karangmati, serta benda-benda keras yang terendamdi dasar laut.
Makroalga (Rumput laut), hidup di laut yang tidak memiliki akar, batang dan daun sejati dan pada umumnya hidup di dasar perairan dan menempel pada substrat (benda lain). Fungsi akar (holdfas) pada rumput laut bukan sebagai penyerap makan melainkan saebagai alat pelekat pada substrat. Karena tidak memiliki akar, batang dan daun seperti umumnya pada tanaman, maka rumput laut digolongkan ke dalam tumbuhan tingkat rendah (Thallophyta). Morfologi dari rumput laut merupakan salah satu dasar untuk membedakan antara satu jenis alga dengan alga yang lain, bentuk thallus, kandunganpigmen, fungsi-fungsi bagian rumput laut serta beberapa hal mendasar yang membedakan rumput laut.
 Makroalgae yang kami temukan merupakan algae dari kelas Phaeophyta, Famili Phaeophyceae atau Algae coklat dan algae dari kelas Chlorophyta, Famili Chlorophyceae atau Algae hijau. Algae coklat yang kami temukan adalah Padina australis, Dictyota sp, Turbinariasp dan Sargassum sp. Padina australis adalah algae coklat yang berbentuk lembaran dan memiliki tipe pertumbuhan konsentris. Dictyota sp adalah algae coklat yang ujung daun semunya terbagi dua, serta memiliki bludder atau rongga udara kecil. Turbinaria sp  adalah Algae coklat yang berbentuk segitiga dan menyerupai bentuk hati. Sargassum sp adalah algae coklat yang terdiri atas Thallus batang semu dan daun semu serta Bludder atau rongga udara yang bentuknya seperti buah semu. Sargassum sp yang ditemukan terapung di permukaan air, diperkirakan bahwa Sargassum sp yang terapung tersebut berasal dari pulau Lae-lae. Selain Algae coklat, ditemukan juga Algae hijau yaitu spesies Halimeda makroloba. Halimeda makroloba terdiri atas Thallus utama dan thallus cabang dan bentuknya seperti pohon kaktus.
Selain flora berupa Lamun dan Algae, di zona Lamun, kami juga menemukan fauna berupa landak laut atau bulu babi Diadema sitosum. Morfologi bulu babi atau landak laut Diadema sitosum adalah tubuhnya bulat, memiliki banyak duri di sekujur tubuhnya dan memiliki banyak mata. Diadema sitosum merupakan hewan dari Filum Echinodermata Kelas Echinoidea.
Ada beberapa jenis karang laut yang berupa jamur laut yang berpolip-polip serta hidupnya berkoloni.
Landak laut atau disebut juga bulu babi (Echinoidea) merupakan hewan laut yang berbentuk bundar dan memiliki duri pada kulitnya yang dapat digerakkan. Landak laut ini memiliki 10 garis-garis pada tubuhnya, duri pada kulitnya digunakan untuk bergerak serta menempel pada karang.
            Ada juga pohon yang terdapat di tengah Pulau tersebut, pohon itu merupakan tumbuhan mangrove sejati yang mampu bertumbuh serta bertahan hidup di daerah yang memilki salinitas yang cukup tinggi.

II.2 Aspek Fisika
            Kawasan perairan pulau kecil memilki sumber daya kelautan yang melimpah yang dapat dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata bahari. Pada aspek ini tentu yang diamati yaitu bagian fisik dari pulau tersebut antara lain yaitu angin, arus laut, kecepatan gelombang laut, pasang surut serta arus dekat pantai. Berdasarkan hasi pengamatan dapat diketahui bahwa arus laut di Pulau Samalona tidak terlalu besar sehingga tidak terlalu mempengaruhi pergerakan organisme yang ada didalamnya.
Angin merupakan udara yang tak dapat diraba atau disentuh tetapi dapat dirasakan, angin yang berhembus diatas permukaan air akan memindahkan energinya ke air. Kecepatan angin menimbulkan tegangan pada permukaan laut, sehingga permukaan air yang semula tenang terganggu dan timbul riak gelombang kecil di atas permukaan air yang sering disebut ombak.
Apabila ditinjau dari aspek fisikanya adanya suatu gelombang umumnya selalu ditemukan dipermukaan laut yang terbentuk akibat adanya proses alih energi dari angin ke permukaan laut sehingga semakin tinggi angin maka semakin mempengaruhi terjadinya gelombang dan dampak yang ditimbulkan sampai ke areal pesisir pantai. Gelombang yang terjadi akan merambat ke segala arah yang membawa enargi tersebut kemudian dilepaskan ke pantai dalam bentuk hempasan ombak. Sebagai contoh akibat yang ditimbulkan adanya gelombang besar ini yaitu terjadinya abrasi. Apalagi di sekitar pantai belum terdapat tanaman Mangrove untuk mencegah terjadinya abrasi. Pada kepulauan ini terdapat pemecah gelombang laut disebelah barat pulau. Pemecah gelombang ini sberfungsi untuk memecahkan atau menahan gelombang yang sangat besar agar tidak masuk secara langsung ke daratan pulau tersebut. Ada juga gelombang yang terdapat batas tinggi gelombang, dimana gelombang tersebut menjadi tidak stabil dan pecah karena kecepatan partikel dipuncak gelombang lebih besar dari kecepatan perambatan gelombang, gelombang ini disebut gelombang pecah (wave breaking).
Arus dekat pantai ditimbulkan oleh gelombang pecah dengan membentuk sudut terhadap garis pantai yang dibangkitkan oleh gelombang laut.
Pasang surut (ocean tide) merupakan fenomena naik dan turunnya permukaan air laut secara periodik yang disebabkan oleh pengaruh gravitasi benda-benda langit terutama bulan dan matahari.Pasang surut juga sangat mempengaruhi hal ini, dimana pasang surut merupakan fenomena naik turunnya permukaan air laut secara periodik yang disebabkan oleh pengaruh gravitasi benda-benda langit terutama bulan dan matahari. Pasang terjadi di pagi hari dan surut terjadi pada sore hari. Tipe-tipe pasang surut terdiri atas :
1.      Pasang surut tipe harian tunggal yaitu bila dalam waktu 24 jam terdapat 1 kali pasang dan 1 kali surut.
2.      Pasang surut tipe harian ganda yaitu bila dalam 24 jam terdapat 2 kali pasang dan 2 kali surut.
3.      Pasang surut tipe campuran yaitu bila dalam 24 jam tardapat bentuk campuran yang condong ke tipe harian tunggal atau condong ke tipe harian ganda.
Untuk kecerahan suatu air laut sangat ditentukan oleh keadaan cuaca dan kekeruan yang terjadi menggambarkan suatu sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Warna suatu air  dikelompokkan menjadi dua yaitu warna sesungguhnya dan warna yang hanya disebabkan oleh bahan-bahan kimia terlarut. Warna sesungguhnya adalah warna yang hanya disebabkan oleh bahan-bahan kimia terlarut dan warna tampak adalah warna yang tidak hanya disebabkan oleh bahan terlarut tetapi juga bahan tersuspensi.
Selain sebagai tempat wisata, Pulau Samalona ini juga merupakan penahan terhadap pantai utama daratan Sulawesi.

II.3 Aspek Kimia
            Ditinjau dari aspek kimia, salinitas yang ada pada air laut sangat tergantung pada komposisi yang ada di daratan (batu-batuan) yang mengandung mineral atau logam maka apabila bercampur dengan air laut maka salinitasnya tinggi. Salinitas merupakan jumlah berat semua gram (dalam gram) yang terlarut dalam satu kilogram air laut. Pada air laut konsentrasi garam-garam jumlahnya relatif sama dalam setiap contoh-contoh air laut. Oleh karena itu untuk menghitung salinitas air laut di suatu daerah secara biasa untuk menentukan salinitas adalah dengan menghitung kadar klorida yang ada dalam contoh air laut karena dianggap klorida adalah komponen yang paling penting dan jumlahnya paling banyak dimana kandungan klorida ditetapkan sebagai jumlah gram ion pada suatu kilogram air laut, dengan menganggap semua halogen ekivalen dengan klorida. Semakin rendah penguapan maka salinitas menjadi rendah tetapi sebaliknya semakin tinggi penguapan maka tingkat salinitas juga meningkat atau tinggi. Salinitas air berpengaruh  pada produksi, distribusi dan lamanya hidup ikan serta orientasi migrasi. Sedangkan  suhu yang mempengaruhi air sangat tergantung oleh musim, lintang, ketinggian dari permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan dan aliran serta kedalaman air laut. Perubahan suhu ini sangat berpengaruh terhadap proses fisika, kimia dan biologi.
Peningkatan suhu akan mengakibatkan penurunan kelarutan gas dalam air, misalnya gas O2, CO2, N2, CH4 dan sebagainya. Namun, peningkatan suhu ini disertai dengan penurunan kadar oksigen yang terlarut sehingga keberadaan oksigen sering klai tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen bagi organism akuatik untuk melakukan proses metabolisme dan respirasi. Sedangkan untuk faktor pH, sebagian besar biota akuatik sensitive terhadap perubahan pH dan menyukai pH sekitar 7-8,5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah dimana pada pH < 4, sebagian besar tumbuhan air mati karena tidak dapat bertoleransi pada pH rendah tetapi algae masih dapat bertahan hidup pada pH rendah.
II.4 Aspek Geologi
            Pada lokasi kuliah lapangan jurusan biologi yaitu di Pulau Samalona provinsi Sulawesi Selatan, ditinjau dari aspek geologi pada zona pasir di Pulau Samalona, pasir di Pantai tersebut berwarna putih. Pasir merupakan material berupa butiran dengan ukuran 0,0625-2 mm. banyak kapur. Substrat putih pada pasir pantai tersebut  disebabkan oleh pelapukan karang yang tersusun dari CaCo3 dan cangkang dari gastropoda yang sudah mati yang mengandung zat kapur.

























BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
            Dari Kuliah Lapangan yang di lakukan di Pulau Samalona maka dapat disimpulkan bahwa untuk menetukan aspek biologi, aspek fisika, aspek kimiaserta aspek geologi, digunakan parameter morfologi pantai, tipe substrat, gelombang, pasang surut, kecerahan, salinitas, suhu, oksigen yang terlarut, pH, jenis biota dan warna pasir yang terdapat dalam suatu perairan.

III.2 Saran
            Sebaiknya pada kuliah lapangan selanjutnya, asisten juga menjelaskan tentang aspek fisika, aspek kimia serta aspek geologi di perairan tersebut secara mendetail , tidak hanya menjelaskan tentang aspek biologinya.
















DAFTAR PUSTAKA
-laut-laporan-perjalanan.html, diakses pada tanggal 5 Juni 2014, pukul 19.05 WITA. Makassar.

Anonim. 2013. Oseanologi Pendahuluan. http://yuniradcliffe.blogspot.com/2012/
12/oseanologi-pendahuluan_8732.html, diakses pada tanggal 5 Juni 2014, pukul 19.28 WITA. Makassar.

Campbel, dkk. 2003. Biologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Litaay, Magdalena dkk., 2012. Oseanologi  Pendahuluan. Universitas Hasanuddin.
Makassar.

Tjitrosoepomo, Gembong. 1985. Taksonomi Tumbuhan Tingkat Rendah. Univeristas Gajah Mada. Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar