My JESUS

My JESUS

Minggu, 21 Desember 2014

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA LIPID

LAPORAN PRAKTIKUM
BIOKIMIA
PERCOBAAN VIII
LIPID
NAMA                       : SOPHIA MARCELINA YANSIP
NIM                            : H41113701
HARI/TANGGAL    : KAMIS/ 13 NOVEMBER 2014
KELOMPOK            : IV (EMPAT) C
ASISTEN                   : HIKMAWATI








LABORATORIUM BIOKIMIA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Lipid didefinisikan sebagai senyawa yang tak larut dalam air yang diekstrak dari organism hidup menggunakan pelarut yang kepolarannya lemah atau pelarut nonpolar. Definisi ini berdasarkan atas sifat fisik, berlawanan dengan definisi protein, karbohidrat, maupun asam nukleat yang berdasarkan atas struktur kimianya. Istilah lipid mencakup berbagai macam kelompok senyawa yang berbeda-beda strukturnya (Ngili, 2013).
Lebih dari 100 asam lemak terdapat secara alami. Asam lemak ini bervariasi panjang rantainya serta derajat ketidakjenuhannya. Hampir semua asam lemak mempunyai atom-atom karbon yang berjumlah genap. Sebagian besar terdiri atas atom-atom karbon rantai linear, tetapi beberapa memiliki rantai bercabang. Asam lemak dalam keadaan bebas terdapat dalam jumlah sangat sedikit. Kebanyakan asam lemak ditemukan dalam keadaan teresterifikasi sebagai komponen dari lipid lainnya. pKa gugus asam karboksilat adalah sekitar 5. Dalam kondisi fisiologis, gugus asam karboksilat terdapat dalam keadaan terionisasi yang disebut ion asilat, misalnya ion dari asam palmitat adalah palmitat, CH3(CH2)14COO- (Ngili, 2013).
Giserol adalah lipid yang mengandung gugus gliserol dengan gugus hidroksil yang tersubtitusi. Gliserolipid merupakan lipid yang paling melimpah di dalam tubuh hewan. Lipid yang mengandung diol memiliki struktur yang mirip dengan gliserolipid, tetapi hanya tersedia < 1% dari jumlah gliserolipid (Ngili, 2013).


1.2  Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
            Untuk mempelajari dan memahami uji lipid melalui tes acrolin dan tes kolorimetri.

1.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini ialah :
1.      Mengidentifikasi kandungan gliserol pada senyawa lemak dan minyak dengan tes acrolein.
2.      Mengidentifikasi kandungan gliserol pada senyawa lemak dan minyak dengan tes kolorimetri.

1.3  Prinsip Percobaan
1.3.1 Tes Acrolein
Mengidentifikasi kandungan gliserol pada beberapa sampel dengan penambahan KHSO4 lalu dipanaskan hingga timbul bau yang khas yaitu bau tengik yang menandakan sampel mengandung gliserol.

1.3.2 Tes Kolorimetri
            Mengidentifikasi kandungan gliserol pada beberapa sampel dengan menambahkan pereaksi tertentu dan dipanaskan hingga terbentuk warna hijau zamrud yang menandakan sampel mengandung gliserol.

1.4  Manfaat
Dapat mengetahui cara mengidentifikasi gliserol pada senyawa lemak dan minyak melalui tes akrolein dan tes kolorimetri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
            Lipid  (Yunani, lipos=lemak) adalah sekelompok besar senyawa alam yang tak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organic non polar seperti n-heksan, kloroform dan dietil eter. Sifat inilah yang membedakan lipid dari karbohidrat, protein asam nukleat dan kebanyakan molekul hayati lainnya. Struktur molekul lipid sangat beragam, sehingga kita harus meninjau banyak gugus fungsi yang telah kita pelajari sebelumnya. Senyawa yang termasuk kelompok lipid adalah trigliserida, lilin, fosfolipid, glikolipid, steroid, terpen, prostaglandin (Natsir, dkk., 2013).
            Lipid adalah sekelompok senyawa heterogen, meliputi lemak, minyak, steroid, malam (wax), dan senyawa terkait yang berkaitan lebih karena sifat fisiknya daripada sifat kimianya. Senyawa ini merupakan konstituen makanan yang penting tidak saja karena nilai energinya yang tinggi, tetapi juga karena vitamin larut-lemak dan asam lemak esensial yang terkandung di dalam lemak makanan alami. Lemak disimpan di jaringan adipose, tempat senyawa ini juga berfungsi sebagai insulator listrik, dan memungkinkan penjalaran gelombang depolarisasi di sepanjang saraf bermielin. Kombinasi lipid dan protein (lipoprotein) adalah konstituen sel yang penting yang terdapat baik di membran sel maupun di mitokondria, dan juga berfungsi sebagai alat pengangkut lipid dalam darah. Pengetahuan tentang biokimia lipid diperlukan untuk memahami banyak bidang biomedis penting, misalnya obesitas, diabetes mellitus, aterosklerosis, dan peran berbagai asam lemak tak jenuh ganda dalam ilmu gizi dan kesehatan (Murray, dkk., 2006).
            Lilin atau malam adalah sebagian dari kelompok lipid. Secara kimiawi, lilin merupakan ester dari asam lemak berantai panjang. Panjang rantai hidrokarbon asam maupul alcohol pada lilin biasanya berkisar dari 10 sampai dengan 30 karbon. Lilin adalah padatan stabil bertitik leleh rendah yang dapat ditemui pada tumbuhan dan hewan. Spermaseti terdapat dalam kepala ikan paus, karmauba yang merupakan bahan utama dalam lilin penyemir mobil dan lantai yang berasal dari daun pohon palem di USA. Lilin lebah yang sebagian besar berupa mirisil palmitat, adalah ester dari mirisil alkohol dan asam palmitat. Lilin berguna untuk melindungi permukaan daun dari penguapan air dan serangan mikroba. Lilin juga melapisi kulit, rambut dan bulu unggas sehingga tetap lentur dan kedap air (Natsir, dkk., 2013).
                                                                          O
                                    H3C(H2C)14                         C             O             (CH2)29CH3
                                                                                Mirisil palmitat
            Trigliserida adalah trimester dari asam lemak dan gliserol. Asam lemak adalah karboksilat berantai panjang, yang umumnya memiliki jumlah atom karbon genap, jarak yang bercabang, dan dapat memiliki satu atau lebih ikatan rangkap dua (tidak jenuh). Sifat fisik maupun sifat kimia dari trigliserida sangat ditentukan oleh jenis asam lemak pembentuknya. Tingkat kejenuhan dari asam lemak menentukan titik leleh dari trigliserida yang dibentuknya. Asam lemak jenuh umumnya rantainya memanjang dan lebih teratur. Jika ikatan ganda dua cis dalam rantai asam lemak, maka rantainya akan membelok dan tidak teratur strukturnya (Natsir, dkk., 2013).
            Lemak dan minyak dapat dibedakan berdasarkan titik lelehnya, pada suhu kamar lemak berwujud padat, sedangkan minyak berwujud cair. Titik leleh dari lemak dan minyak tergantung pada strukturnya, umumnya meningkat dengan bertambahnya jumlah atom karbon. Banyaknya ikatan ganda dua karbon-karbon dalam komponen asam lemak juga sangat berpengaruh. Trigliserida yang mengandung banyak asam lemak tak jenuh, seperti asam oleat dan linoleat akan berwujud lemak (padat), contohnya lemak sapi. Reaksi hidrogenasi mengubah minyak nabati menjadi lemak, misalnya pada industri margarin. Serbuk logam nikel (sebagai katalis) didispersikan ke dalam minyak panas selanjutnya diadisi dengan hidrogen sehingga ikatan ganda dua dari asam lemak tak jenuh menjadi jenuh dan membentuk lemak (Natsir, dkk., 2013).
Lemak adalah suatu ester trigliserida(TG) dari gliserol dengan 3 asam lemak terikat pada rantai utamanya 6. Asam lemak yang berikatan dengan trigliserida pada dasarnya merupakan rantai karbon(C) dengan gugus karboksil (COOH) pada salah satu ujungnya yang dapat bereaksi (berikatan) dengan molekul lain (Tuminah, 2009).
Asam lemak jenuh yang terkandung dalam minyak kelapa misalnya, merupakan golonganrantai karbon sedang (Medium Chain Fatty Acid = MCFA) yang terdiri dari hanya 12 atom karbon yang diikat jenuh oleh atom hidrogen. Sedangkan asam lemak yang terkandung dalam minyak sayur (minyak kedelai, jagung, biji bunga matahari, canola dan Iain-lain) 87-93% merupakan golongan asam lemak tak jenuh berantai karbon panjang (Long Chain Fatty Acid = LCFA), terdiri dari 18 atom karbon dan mempunyai dua atau lebih ikatan rangkap (Tuminah, 2009).
Analisis  lemak  dapat  dilakukan  dengan cara  kromatografi.  Dua  cara  yang  umum digunakan adalah kromatografi lapis tipis (KLT) dan kromatografi gas. KLT digunakan untuk uji kemurnian  lemak  dan  kromatografi  gas digunakan  untuk  identifikasi  asam  lemak  yang terkandung dalam lemak (Puspawati, dkk., 2011).


BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, pipet tetes, pipet skala, rak tabung, gegep, penangas air, gelas ukur, batang pengaduk dan sikat tabung.

3.2 Bahan
            Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah     minyak kelapa, minyak sawit, mentega, wijen, wax (lilin), gliserol 10%, blanko, aquades, HCL pekat, α-naftol, KHSO4, NaOCl 2% dan H2SO4.

3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Tes Acrolein
            Enam buah tabung reaksi masing-masing diisi dengan 1 ml larutan contoh yakni wax (lilin), minyak kelapa, minyak sawit, wijen, mentega dan gliserol 10%, kemudian ditambahkan ± 0,5 gr KHSO4 ke dalam larutan contoh, lalu dipanaskan dengan penangas air. Timbulnya bau karakteristik menandakan adanya gliserol.

3.3.2 Tes Kolorimetri
            Tujuh buah tabung reaksi masing-masing diisi dengan 1 ml larutan contoh yakni wax (lilin), minyak kelapa, minyak sawit, wijen, mentega, blanko dan gliserol 10%, kemudian ditambahkan 1 ml NaOCl 2%. Setelah 2-3 menit, ditambahkan lagi beberapa tetes HCl pekat kemudian dididihkan selama 1 menit untuk membuang kelebihan asam, kemudian ditambahkan 0,2 ml α-naftol, kemudian beberapa tetes H2SO4 pekat, selanjutnya dikocok dengan hati-hati. Terbentuknya warna hijau zamrud pada larutan menunjukkan adanya gliserol.






















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1Tabel Hasil Pengamatan
1.    Tes Acrolein
No.
Larutan contoh
Warna (penambahan KHSO4)
Panaskan (bau)
1
Wijen
Kuning
+++
2
Mentega
Kuning
+++
3
Minyak Sawit
Kuning
+
4
Minyak Kelapa
Kuning
+++
5
Gliserol
Bening
-
6
Lilin
Putih Keruh
-


2.      Tes Kolorimetri
No.
Larutancontoh
Warna yang terbentuk
Fase yang terbentuk
1
Wijen
Hijau zamrud dan kuning
2 fase
2
Mentega
   Hijau zamrud dan kuning
2 fase
3
 Minyak Sawit
Hijau zamrud dan kuning
2 fase
4
Minyak Kelapa
Hijau zamrud dan kuning
2 fase
5
Gliserol
Coklat
1 fase
6
Lilin
Hijau zamrud, kuning dan putih
3 fase
7
Blanko
Coklat
1 fase






4.2      Reaksi
A. Wijen
B. Mentega
C. Minyak kelapa
D. Minyak sawit
E. Gliserol
F. Lilin

4.3 Pembahasan
4.2.1 Tes Akrolein
            Tes akrolein menggunakan larutan wax (lili), minyak kelapa, minyak sawit, wijen, mentega dan gliserol 10%. Tes ini dilakukan dengan cara menambahkan 0,5 ml gram KHSO4 yang berfungsi sebagai katalisator pembentukan gliserol pada sampel yang mengandung gliserol. Hasil pengamatan yang diperoleh yaitu larutan minyak kelapa, minyak sawit, wijen dan mentega menimbulkan bau khas yang mirip bau gliserol. Trigliserida yang terkandung dalam sampel akan terhidrolisis menjadi gliserol dan asam karboksilat ketika dipanaskan, kemudian disusul dengan oksidasi gliserol menjadi akrolein. Sedangkan pada larutan gliserol dan wax (lilin) tidak menghasilkan bau khas tersebut, hal ini menandakan bahwa kedua larutan tersebut tidak mengandung gliserol karena larutan tidak terhidrolisis ketika dipanaskan. Dengan adanya bau khas membuktika bahwa dalam larutan minyak kelapa, minyak sawit, wijen dan mentega mengandung gliserol.


4.2.2 Tes Kolorimetri
            Dari hasil percobaan diperoleh larutan yang berwarna hijau zamrud yaitu larutan minyak kelapa, minyak sawit, wijen dan mentega serta membentuk 2 fase yaitu fase warna yaitu warna  kuning dan hijau kecuali larutan lilin yang membentuk 3 fase warna yaitu warna putih, kuning dan hijau. Sedangkan pada larutan gliserol dan blanko hanya membentuk 1 fase larutan yaitu warna coklat, artinya kedua larutan ini tidak mengandung gliserol. Menurut teori larutan blanko seharusnya positif atau berwarna hijau zamrud tetapi hasil yang didapatkan berwarna coklat, hal ini disebabkan karena faktor tertentu seperti tabung reaksi yang belum terlalu bersih ketika dicuci.
            Pereaksi α-naftol yang digunakan untuk mengurangi kelebihan asam, H2SO4 pekat sebagai katalisator. Sedangkan penambahan larutan NaOCl dan HCl berfungsi menghidrolisis trigliserida untuk menghasilkan gliserol.


















BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
            Kesimpulan dari percobaan ini yaitu :
1.    Sampel yang mengandung gliserol berdasarkan tes akrolein yaitu wijen, mentega, minyak kelapa dan minyak sawit yang ditandai dengan adanya bau tengik.
2.   Sampel mengandung gliserol berdasarkan tes kolorometri adalah minyak kelapa, minyak sawit, wijen, wax (lilin) dan mentega yang ditandai dengan adanya perubaha warna menjadi hijau zamrud.

5.2 Saran
            Sebaiknya penangas air di berikan kepada masing-masing kelompok.











DAFTAR PUSTAKA

Murray, Robert K., dkk, 2006, Biokimia Harper Edisi 27, Buku Kedokteran, Jakarta.

Natsir, hasnah dkk., 2013, Kimia Organik, UPT MKU Universitas Hasanuddin,
Makassar.

Ngili, Yohanis, 2013, Biokimia Dasar Edisi Revisi, Rekayasa Sains, Bandung.

Puspawati, Ni, Made. Suastuti, Dwi, Ayu, Made dan Dewi, Ayu, Indra, Dewa.  2011,
Analisis Asam Lemak Rumput Laut Ulva reticulate Forsskal Yang Diperoleh  Dari Pantai Segara Sanur, Jurnal Kimia, V (2) : 2.


Tuminah,  Sulistyowati,  2009,  Efek  Asam  Lemak  Jenuh  dan  Asam  Lemak  Tak 
Jenuh “Trans” Terhadap Kesehatan. Artikel Puslitbang Biomedis dan Farmasi. XIX.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar