My JESUS

My JESUS

Minggu, 21 Desember 2014

LP BIOKIMIA KARBOHIDRAT



LAPORAN PRAKTIKUM
BIOKIMIA
KARBOHIDRAT

NAMA                                               : SOPHIA MARCELINA YANSIP
NIM                                                    : H41113701
KELOMPOK                                    : IV (EMPAT)
HARI/TANGGAL PERCOBAAN : KAMIS/ 23 OKTOBER 2014
ASISTEN                                           : RISKA




                 





LABORATORIUM BIOKIMIA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Karbohidrat  (CH2O)n,  adalah sumber  energi  utama  untuk  manusia. Kebanyakan  karbohidrat  yang  kita konsumsi  adalah  tepung  /  amilum  /  pati, yang  ada  dalam  gandum,  jagung,  beras, kentang  dan  padi-padian  lainnya. Karbohidrat  menyediakan  kebutuhan  dasar yang  diperlukan  tubuh.  Tubuh menggunakan  karbohidrat  seperti  layaknya mesin  mobil  menggunakan  bensin. Karbohidrat  juga  merupakan  bahan  yang penting  dan  sumber  tenaga  yang  terdapat dalam  tumbuhan  dan  daging  hewan.  Selain itu,  karbohidrat  juga  menjadi  komponen struktur  penting  pada  makhluk hidup  dalam bentuk  serat  (fiber),  seperti  selulosa,  pektin, serta  lignin. Glukosa  ialah  monomer  dari  karbohidrat. Glukosa  dapat  disintesis  oleh  tumbuhan hijau  semasa  proses  fotosintesis.  Glukosa termasuk  monosakarida  yang  mmpunyai rumus  umum  C6H12O6 yang  disebut  sebagai dekstrosa  atau  gula  anggur.  Glukosa  adalah  suatu  gula monosakarida  yang  merupakan    salah  satu karbohidrat  terpenting  yang  digunakan sebagai  sumber  tenaga  bagi  hewan  dan tumbuhan (Edahwati, 2010).
Pada tanaman, karbohidrat dibentuk melalui reaksi antara karbon dioksida dan molekul air dengan bantuan sinar matahari dalam proses fotosintesis pada sel tanaman yang berklorofil (Tim Dosen Kimia, 2013).
Reaksi Fotosintesis :
     n CO2  +  n H2O   Sinar matahari        (CH2O)n  +  O2
Berdasarkan teori tersebut, maka dilakukan praktikum mengenai karbohidrat.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
            Maksud dari percobaan ini adalah mengetahui cara mengisolasi kanji (starch) dari kentang dan mengetahui reaksi uji dengan iodida.
1.2.2 Tujuan Percobaan
            Tujuan dari percobaan ini adalah :
1. Untuk menentukan kadar starch (amilum).
2. Mereaksikan amilum dengan iod dalam suasana asam, basa, dan netral.

1.3 Prinsip Percobaan
1.3.1 Isolasi Kanji (Starch ) dari Kentang
Prinsip kerja isolasi kanji yaitu menentukan kadar amilum yang terdapat pada kentang dengan cara menghomogenasi dan mendekantasi larutan kentang dengan air dan etanol beberapa kali sehingga didapatkan starch murni.
1.3.2 Uji Iodida untuk Starch
            Mereaksikan amilum dengan iodida dalam suasana asam, basa, dan netral, kemudian melihat perubahan warna yang terjadi setalah dipanaskan dan didinginkan








BAB II
TIJAUAN PUSTAKA
            Senyawa karbohidrat yang memiliki tiga sampai Sembilan atom karbon disebut monosakarida. Gabungan senyawa-senyawa monosakarida akan membentuk senyawa karobohidrat yang lebih besar. Ikatan penghubung antara dua buah monosakarida disebut ikatan glikosida (Ngili, 2013).
            Karbohidrat tersebar luas dalam tumbuhan dan hewan; senyawa ini memiliki peran struktural dan metabolik yang penting. Pada tumbuhan, glukosa disintesis dari karbon dioksida dan air melalui proses fotosintesis dan disimpan sebagai pati (kanji, starch) atau digunakan untuk menyintesis selulosa dinding sel tumbuhan. Hewan dapat menyintesis karbohidrat dari asam amino, tetapi sebagian besar karbohidrat hewan berasal dari tumbuhan. Glukosa adalah karbohidrat terpenting; kebanyakan karbohidrat dalam makanan diserap ke dalam aliran darah sebagai glukosa, dan gula lain diubah menjadi glukosa di hati. Glukosa adalah bahan bakar metabolic utama pada mamalia (kecuali pemamah biak) dan bahan bakar universal bagi janin. Glukosa adalah precursor untuk sintesis semua karbohidrat lain di tubuh, termasuk glikogen untuk penyimpanan; ribose dan deoksiribosa dalam asam nukleat’ galaktosa dalam laktosa susu, dalam glikolipid, dan sebagai kombinasi dengan protein dalam glikoprotein dan proteoglikan. Penyakit terkait metabolism karbohidrat antara lain diabetes mellitus, galaktosemia, penyakit penimbunan glikogen (glycogen strorage diseases), dan intoleransi laktosa (Murray dkk, 2006).
            Berdasarkan hasil hidrolisis dan strukturnya maka maka karbohidrat dibagi atas tiga golongan besar yaitu : monosakarida, oligosakarida dan polisakarida. Istilah sakarida berasal dari bahasa latin (saccharum = gula) dan mengacu pada rasa manis senyawa karbohidrat sederhana. Hasil hidrolisis ketiga kelas utama karbohidrat tersebut saling berkaitan :

                                      H2O                             H2O
            Polisakarida                 Oligosakarida              Monosakarida
                                      H+                                          H+

Salah satu contoh hidrolisis karbohidrat adalah: hidrolisis pati menjadi maltosa dan akhirnya terbentuk monomer karbohidrat yaitu glukosa (Tim Dosen Kimia, 2013).
                      n H2O                            n H2O 
(C12H20O10)n               n C12H22O11                     2 n C6H12O6
    Pati                          maltosa                        2 mol glukosa
(polisakarida)            (disakarida)                   (monosakarida)

Monosakarida adalah karbohidrat yang tak dapat dihidrolisis menjadi senyawa yang lebih sederhana. Jika didasarkan pada gugus fungsinya, maka  monosakarida secara keseluruhan dibagi atas dua golongan besar, yaitu aldosa jika mengandung gugus aldehid dan ketosa jika mengandung gugus keton (Tim Dosen Kimia, 2013).
O
C          H                    CH2OH
CHOH                                    C         O
CH2OH                       CH2OH
Gliseraldehida                         Dihidroksiaseton
(aldosa)                                   (ketosa)

Gambar 1.1 Senyawa golongan aldosa (gliseraldehid) dan ketosa (dehirdroseton)

            Oligosakarida yang paling banyak ditemukan adalah disakarida. Disakarida adalah karbohidrat yang terbentuk dari dua satuan monosakarida, yang terikat antara satu dengan yang lainnya melaui  ikatan  glikosida  dalam  posisi 1,4- α (alfa) atau 1,4-β (beta). Empat macam disakarida yang penting yaitu, maltose, selobiosa, laktosa dan sukrosa (Tim Dosen Kimia, 2013).
            Polisakarida tersusun dari banyak unit monosakarida yang terikat antara satu dengan yang lain melalui ikatan glikosida. Hidrolisis total dari polisakarida menghasilkan monosakarida. Beberapa polisakarida yang terpenting yaitu selulosa, pati (amilosa dan amilopektin), glikogen, dan kitin (Tim Dosen Kimia, 2013).
            Polisakarida memiliki fungsi utama sebagai pembentuk struktur atau untuk penyimpanan energi. Tepung dan glikogen merupakan polimer glukosa yang berfungsi sebagai penyimpanan gula di dalam tumbuhan dan hewan. Tepung terdapat sebagai amilosa dan amilopektin. Amilosa adalah suatu polimer linear dari α-D-glukosa yang terhubung oleh ikatan α(1→4). Sedangkan amilopektin memilki cabang yang terbentuk oleh ikatan α(1→6), selain rantai linear yang terbentuk oleh ikatan α(1→4). Glikogen juga merupakan polimer bercabang dengan jumlah percabangan lebih banyak daripada amilopektin (Ngili, 2013).
            Tanaman  kentang  (Solanum  tuberosum  L.) menghasilkan umbi sebagai komoditas sayuran dan bahan  makanan  olahan.  Umbi  kentang  kultivar Atlantic yang merupakan salah satu kultivar kentangterseleksi di Amerika Serikat, mempunyai beberapa keunggulan  seperti  produktivitas  tinggi,  kadar  air rendah, mudah dalam pengolahan hasil umbi, tidak mengalami  perubahan  setelah  diproses  dan mempunyai  kualitas  umbi  chip  and  fried  walaupun juga  mengandung  kelemahan,  yaitu  tidak  tahan terhadap penyakit dan hama (Pertamawati, 2010).
Peningkatan  produktivitas  kentang  sangat ditunjang  oleh  sistem  pemupukan  dan lingkungan  tumbuh  yang  sesuai.  Pemupukan sangat diperlukan untuk mencukupi kebutuhan  unsur hara tanaman dan memperbaiki kondisi tanah sehingga perakaran dapat  tumbuh  baik  serta  dapat  menyerap unsur  hara  dalam  jumlah  cukup.  Hal  ini sangat  diperlukan  sehubungan  dengan proses pembentukan umbi kentang. Unsur hara  utama  yang  dibutuhkan tanaman kentang dalam jumlah besar adalah unsur hara  makro  primer  yaitu  Nitrogen  (N), fosfor (P) dan Kalium (K) (Haris, 2010).
            Salah  satu  proses  kehidupan  tanaman  ialah fotosintesis yang merupakan proses biokimia untuk memproduksi  energi  terpakai  (nutrisi),  dimana karbon  dioksida  (CO2)  dan  air  (H2O)  dibawah  pengaruh  cahaya  diubah  ke  dalam  persenyawaan organik  yang  berisi  karbon  dan  kaya  energi.  Fotosintesis  merupakan  salah  satu  cara  asimilasi  karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari CO2 diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan  energi.  Reaksi  dalam  fotosintesis  yang  menghasilkan  glukosa  ialah sebagai berikut (Pertamawati, 2010):
6 H2O + 6 CO2 + cahaya  → C6H12O6 (glukosa) + 6 O2
Kentang (Solanum tuberosum L.) adalah pangan utama keempat setelah padi, gandum, dan jagung. Kentang sudah menjadi alternatif diversifikasi pangan masyarakat Indonesia sehingga konsumsi bahan pangan berumbi ini semakin meningkat, maka produksi kentang perlu ditingkatkan secara kualitas maupun kuantitas. Kebutuhan kentang yang semakin meningkat disebabkan karena meluasnya pendayagunaan produksi kentang untuk berbagai bahan makanan, baik sebagai bahan sayuran maupun makanan ringan, namun produktivitas kentang di Indonesia masih rendah (Kusdianti, 2014).
Pati merupakan polisakarida yang melimpah setelah selulosa. Berfungsi sebagai penyimpanan energi. Pati banyak terdapat pada padi-padian, kentang, jagung dan lain-lain. Pati dapat dipisahkan menjadi dua komponen utama berdasarkan kelarutan bila dibubur dalam air panas. Sekitar 20% pati adalah amilosa (larut) dan 80% adalah amilopektin (tidak larut) (Tim Dosen Kimia, 2013).

















BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Bahan Percobaan
            Bahan-bahan yang digunakan  pada  percobaan  ini  antara  lain  kentang 75 gram, etanol 95 %, akuades, amilum 1%, larutan HCl 6 M, larutan NaOH 6 M, kertas saring, larutan iod 0,01 M, kertas label, tissue roll dan kain penyaring.

3.2 Alat Percobaan
            Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah blender, pisau, batang pengaduk, gelas piala 250 mL, gelas ukur 250 mL, corong, erlenmeyer 250 mL, labu semprot, neraca Ohauss, tabung reaksi, pipet tetes, penangas air, sikat tabung, gegep, cawan petri, hot plate dan inkubator.

3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Isolasi Starch dari Kentang
Prosedur kerja dengan isolasi kanji dari kentang yaitu mula-mula kentang dikupas lalu dipotong-potong, kemudian ditimbang sebanyak 75 gram. Kemudian dihomogenasikan dengan 50 mL air menggunakan blender sampai semua kentang hancur. Campuran disaring melalui penyaring. Filtrat ditampung di dalam gelas piala, sedangkan residunya dibuang. Ke dalam filtrat ditambahkan 50 mL air, cairan dikocok kemudian  dibiarkan  mengendap  lalu  didekantasi  lagi  dengan 50 mL air kemudian didekantasi lagi dengan 25 mL etanol 95%. Kemudian disaring dengan menggunakan kertas saring yang dimasukkan pada corong. Starch yang dihasilkan kemudian dikeringkan di dalam ruangan hingga benar-benar kering lalu ditimbang dengan menggunakan neraca Ohaus.
3.3.2 Uji Iodida untuk Starch
Prosedur kerja dengan uji iodida untuk starch yaitu mula-mula  disiapkan 3 buah tabung reaksi, masing-masing tabung diisi dengan 3 mL amilum kemudian tabung pertama ditambahkan 2 tetes air, tabung kedua dengan 2 tetes HCl 6 M, dan tabung ketiga dengan 2 tetes NaOH 6 M. Setelah itu masing-masing tabung ditambahkan 1 tetes iod 0,01 M. Perubahan  diperhatikan yang terjadi pada tabung, yang mengalami perubahan warna kemudian dipanaskan, catat perubahan yang terjadi, lalu dinginkan dan catat lagi perubahan warnanya.










BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Isolaso kanji (Starch) pada kentang


4.1.1 Isolaso kanji (Starch) pada kentang
1.      Berat contoh (Kentang)               =  75 gram
2.      Kentang setelah diblender akan terjadi
3.      Amilum dalam suspense alakohol berwarna putih keruh dan setelah kering berwarna putih.
4.      Berat kertas saring                       =  0,9 gram
5.      Berat amilum setelah kering        =  (berat amilum – berat kertas saring)
=  3,3 gram – 0,9 gram
=  2,4 gram
 
Kadar amilum dalam contoh (Kentang)       berat amilum-kertas saring
                                                               = --------------------------   x 100%
                                                                  berat tepung sagu
                                                                 2,4
                                                             =  ---- x 10%
                                                                 75
                                                              = 3,2 %


4.1.2  Uji iodide untuk starch
Perubahan
Tabung I
(Akuades)
Tabung II (NaOH)
Tabung III (HCl)
Warna sebelum ditambahkan iod 0,01 M
Bening
Bening
Biru
Warna setelah ditambahkan iod 0,01 M
Keruh
Bening
Biru
Warna setelah dipanaskan
Keruh berkurang
Bening
Bening
Warna setelah didinginkan
Bening
Bening
Bening

4.2 Reaksi
4.2.1 Tabung I (Amilum + H2O +  I2)

4.2.2  Tabung II (Amilum + HCl + I2)


4.2.3 Tabung III (Amilum + NaOH + I2)

 
4.3 Pembahasan
4.3.1 Isolasi kanji (starch) pada kentan
            Setelah menimbang kentang 75 gram lalu didekantasi dengan aquades sebanyak 2 kali. Dekantasi merupakan pemisahan filtrate dengan residua atau memurnikan karena air dapat mengikat kotoran dan melarutkan zat-zat yang bersifat polar. Kemudian didekantasi lagi dengan 25 mL etanol 95%. Etanol berfungsi untuk melarutkan bahan-bahan organik yang tidak larut dalam air dan mengikat zat pengotor yang bersifat nonpolar sehingga filtrat yang tersisia hanya amilum saja. Hasil dari dekantasi disaring menggunakan kertas saring untuk memantapkan hasil pemisahan, setelah itu dikeringkan dalam inkubator hingga kering dan diperoleh amilum yang murni. Amilum selanjutnya ditimbang menggunakan neraca digital. Adapun hasil yang diperoleh yaitu 3,2%.


4.3.2  Uji iodida untuk Starch
Tabung I, pada suasana netral, apabila amilum ditambahkan dengan air maka tidak terjadi perubahan yaitu larutan berwarna Keruh. Pada saat ditambahkan dengan larutan iod 0,01 M larutan larutan tetap berwarna Keruh. Kemudian saat dipanaskan larutan tetap menjadi Keruh dan setelah didinginkan tetap berwarna Keruh. Hal ini membuktikan bahwa antara air dan amilum tidak terjadi reaksi.
             Tabung II pada suasana asam, larutan amilum ditambah HCl diperoleh larutan berwarna Keruh. Setelah ditambahkan Iod 0,01 warnanya tetap keruh. Dengan pemanasan, seharusnya terjadi perubahan warna menjadi warna biru yang kemudian larutan biru tersebut hilang dan menjadi bening.  Hal ini karena ikatan semu antara iod dan amilum mudah putus dengan pemanasan serta  terjadi penguraian iod pelepasan iod dari amilum. Setelah didinginkan terjadi perubahan yaitu kembali menjadi warna biru bening. Hal ini membuktikan bahwa terbentuknya kembali ikatan antara iod dan amilum, namun pada percobaan yang dilaksanakan tidak terjadi perubahan warna.
Tabung III pada suasana basa, yaitu dengan menggunakan NaOH tidak terjadi perubahan warna yaitu larutan bening. Sehingga tidak dilakukan pemanasan lagi seperti pada tabung II. Hal ini menunjukkan bahwa dalam suasana basa tidak terjadi reaksi.





BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa :
1.      Kadar amilum pada kentang dengan berat 75 gram adalah 3,2%.
2.      Reaksi amilum dan iod terjadi dalam suasana asam dan netral dan tidak bereaksi pada suasana basa.
5.2  Saran
            Penjelasan dari asisten cukup baik sehingga perlu ditingkatkan lagi agar praktikan lebih mudah memahami penjelasannya. Alat dan bahan yang disiapkan oleh laboratorium sangat baik sehingga percobaan dapat berlangsung dengan baik.













DAFTAR PUSTAKA
Haris,  2010,   Pertumbuhan    dan    Produksi    Kentang   Pada    Berbagai   Dosis
Pemupukan,   Jurnal  Agrisistem,  6 (1) : 1-2,  STPP Gowa, Sulawesi Selatan.

Kusdianti, Ferliati, Dwi, R., dan Solihat Rini,  2014,  Pertumbuhan  dan   Produksi
Umbi  Tanaman   Kentang  (Solanum   tuberosum   L.)   Varietas   Granola  Dari   Bibit   Go   Yang   Diberi   Zat  Pengatur   Tubuh,   Jurnal   Formica  Online, 1 (1): 2, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Murray, Robert, K.,  2006,  Biokimia Harper Edisi 27, Penerbit Buku Kedokteran,
Jakarta.

Ngili, Yohanis, 2013, Biokimia Dasar Edisi Revisi, Penerbit Reakayasa Sains,
Bandung.

Pertamawati,  2010,  Pengaruh   Fotosintesis   Terhadap   Pertumbuhan   Tanaman
Kentang (Solanum  Tuberosum   L.)   Dalam    Lingkungan     Fotoautotrof   Secara   Invitro.   Jurnal   Sains  dan  Teknologi  Indonesia, 12 (1) : 1-2, Pusat TFM - BPP Teknologi, Jakarta.

Tim Dosen Kimia, 2013, Kimia Organik,  UPT  Mata  Kuliah  Umum  Universitas
Hasanuddin, Makassar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar