LAPORAN
PRAKTIKUM
BIOKIMIA
REAKSI UJI PROTEIN
NAMA :
SOPHIA MARCELINA YANSIP
NIM :
H41113701
HARI/TANGGAL : KAMIS/ 06 NOVEMBER 2014
KELOMPOK : IV (EMPAT) C
ASISTEN :
SUKMAWATI USMAN
LABORATORIUM
BIOKIMIA
JURUSAN
KIMIA
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Protein
adalah molekul penyusun tubuh kita yang terbesar setelah air. Hal ini mengindikasikan
pentingnya protein dalam menopang seluruh proses kehidupan dalam tubuh. Dalam
kenyataannya, memang kode genetik yang tesimpan dalam rantaian DNA digunakan
untuk membuat protein, kapan, dimana dan seberapa banyak. Protein berfungsi
memberikan warna merah pada sel darah merah kita, sebagai antibodi, penyusun
jaringan pengikat, bertugas mengikat oksigen dan membawanya ke bagian tubuh
yang memerlukan. Selain itu juga menjadi penyusun tubuh, "dari ujung
rambut sampai ujung kaki", misalnya keratin di rambut yang banyak
mengandung asam amino Cysteine sehingga menyebabkan bau yang khas bila rambut
terbakar karena banyaknya kandungan atom sulfur di dalamnya, sampai kepada
protein-protein penyusun otot kita seperti actin, myosin, titin, dsb. Protein
yang bernama rhodopsin, yaitu protein di dalam sel retina mata kita yang
merubah photon cahaya menjadi sinyal kimia untuk diteruskan ke otak. Fungsi protein
seperti hormon, antibodi dalam sistem kekebalan tubuh (Ngili, 2013).
Proteindiperoleh dari bahan makanan
yang mengandung protein misalnya pada hewan terkandung protein hewani,
sedangkan pada tumbuhan terkandung protein nabati (Katili, 2009).
Berdasarkan
teori tersebut, maka dilakukan praktikum mengenai uji protein.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini yaitu untuk
mengetahui dan menguji reaksi protein dalam senyawa sampel.
1.2.1 Tujuan Percobaan
Tujuan
dari percobaan ini yaitu :
1.
Untuk
mengidentifikasi adanya protein dengan tes pengendapan logam.
2.
Untuk
mengidentifikasi adanya protein dengan tes pengendapan dengan alkohol.
1.3 Prinsip Percobaan
Pengendapan
dengan Logam, reaksi ion logam dengan protein mengakibatkan terjadinya endapan.
Pengendapan dengan Alkohol menyebabkan penurunan kelarutan protein akibat
penambahan pelarut organik.
1.4 Manfaat Percobaan
Manfaat dari percobaan
ini yaitu dapat mengetahui cara untuk mengidentifikasi adanya protein dengan
pengendapan logam dan alcohol.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Arsitektur molekul dan aktivitas sel-sel hidup sangat tergantung pada protein, yang membentuk lebih dari setengah dari isi padat sel dan yang menunjukkan variabilitas
yang besar dalam ukuran, bentuk, dan
sifat fisik. Peran fisiologis
mereka juga adalah
cukup bervariasi, dan karena variabilitas
ini, mengkategorikan protein menurut untuk
fungsi mereka dapat membantu dalam studi metabolisme tubuh
manusia. Jenis ini kategorisasi menunjukkan ketergantungan
tubuh pada benar
berfungsi protein dan memberikan dasar untuk memahami pentingnya protein struktur (Gropper dkk, 2005).
Protein adalah salah
satu makrobiomolekular yang berfungsi sebagai pembentuk struktur sel dari pada
makhluk hidup termasuk manusia. Protein adalah polimer dari asam-asam amino
yang tersambung melalui ikatan peptida, oleh karenanya dapat disebut sebagai
polipeptida yang terhubung melalui ikatan peptida. Hal yang menarik bahwa
protein pada semua bentuk kehidupan (organisme) mengandung hanya 20 jenis asam
amino, namun interkoneksinya menghasilkan ragam makhluk hidup yang tak terhingga
banyaknya. Glisin merupakan asam amino yang paling sederhana dan pertama
diisolasi dari hidrolisis protein. Sebagai contoh, hampir setengah molekul asam
amino yang diperoleh bila sutra diisolasi adalah glisin. Teronin adalah asam
amino pembentuk protein yang paling akhir dapat diisolasi yaitu dari hidrolisis
fibrin (Tim Dosen Kimia, 2014).
Protein memiliki berbagai fungsi biologis yang
berbeda-beda pula, yaitu (Ngili, 2013):
1.
Katalis enzim.
Enzim merupakan protein katalis yang mampu meningkatkan laju reaksi sampai 1012
kali laju awalnya.
2.
Transport dan
penyimpanan. Banyak ion dan molekul kecil diangkut dalam darah maupun di dalam
sel dengan cara berikatan pada protein pengangkut. Contohnya, hemoglobin
merupakan protein pengangkut oksigen. Zat besi disimpan dalam berbagai jaringan
oleh protein ferritin.
3.
Fungsi mekanik.
Protein ini menjalankan peranan sebagai pembentuk struktur. Misalnya, protein
kolagen menguatkan kulit, gigi, serta tulang. Membran yang megelilingi sel dan
organel juga mengandung protein yang berfungsi sebagai pembentuk struktur
sekaligus menjalankan fungsi biokimia lainnya.
4.
Pergerakan.
Kontraksi otot terjadi karena adanya interaksi antara dua tipe protein filamen,
yaitu aktin dan miosin. Miosin juga memiliki aktivitas enzim yang dapat memudahkan
perubahan energi kimia ATP menjadi energi mekanik.
5.
Pelindung.
Antibodi merupakan protein yang terlibat dalam perusakan se lasing.
6.
Proses
informasi. Rangsangan luar seperti sinyal hormon atau intensitas cahaya
dideteksi oleh protein tertentu yang meneruskan sinyal ke dalam sel. Contoh
protein seperti ini misalnya rodopsin yang terdapat dalam membrane sel retina.
Alanin (Ala) atau asam 2-aminopropanoat merupakan
salah satu asam amino non esensial. Bentuk yang umum di alam adalah L-alanin
(S-alanin) meskipun terdapat pula bentuk D-alanin (R-alanin) pada dinding sel
bakteri dan sejumlah antibiotika. L-alanin merupakan asam amino proteinogenik
yang paling banyak dipakai dalam protein setelah leusin. Gugus metil pada
alanin sangat tidak reaktif sehingga jarang terlibat langsung dalam fungsi
protein (enzim). Alanin dapat berperan dalam pengenalan substrata tau
spesifitas, khususnya dalam interaksi dengan atom nonreaktif seperti karbon.
Dalam proses pembentukan glukosa dari protein, alanin berperan dalam daur
alanina (Poedjadi, 1994).
Glisin merupakan asam amino non esensial bagi manusia.
Tubuh manusia memproduksi glisin dalam jumlah mencukupi. Glisin berperan dalam
sistem saraf sebagai inhibitor neurotransmitter pada sistem saraf pusat (CNS) (Poedjadi, 1994).
Asam aspartat merupakan satu dari 20 asam amino
penyusun protein. Asparagin merupakan asam amino analognya karena terbentuk
melalui aminasi aspartat pada satu gugus hidroksilnya. Asam aspartat bersifat
asam, dan dapat digolongkan sebagai asam karboksilat. Bagi mamalia aspartat
tidaklah esensial. Fungsinya diketahui sebagai pembangkit neurotransmisi di
otak dan saraf otak. Diduga, aspartat berperan dalam daya tahan terhadap
kepenatan. Senyawa ini juga merupakan produk dari daur urea dan terlibat dalam
glukoneogenesis (Lehninger, 1982).
Semua asam amino yang
ditemukan pada protein mempunyai ciri yang sama, gugus karboksil dan amino
diikat pada atom karbon yang sama. Masing-masing berbeda satu dengan yang lain
pada gugus R-nya, yang bervariasi dalam struktur, ukuran, muatan listrik, dan
kelarutan dalam air. Beberapa asam amino mempunyai reaksi yang spesifik yang
melibatkan gugus R-nya (Lehninger, 1982).
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah larutan protein (albumin), larutan asam amino
(alanin, asam aspartat, glisin), HgCl2 0,2 M, (CH3COO)2
Pb 0,2 M, NaOH 0,1 M, HCl 0,1 M, etanol 95% dan buffer pH 4,7.
3.2 Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi, rak
tabung, pipet tetes dan sikat tabung.
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Pengendapan dengan
Logam
Tiga ml larutan protein (albumin) dan larutan asam amino (alanin, asam
aspartat dan glisin) ditambahkan dengan 5 tetes HgCl2 0,2 M. Ulangi
percobaan dengan menggunakan CH3COO)2
Pb 0,2 M.
3.3.2 Pengendapan dengan
Alkohol
Tabung I diisi dengan 3 ml larutan albumin lalu ditambahkan dengan 1 ml
HCl 0,1 M dan 6 ml etanol 95%. Tabung II diisi dengan3 ml larutan albumin lalu
ditambahkan dengan 1 ml NaOH 0,1 M kemudian ditambahkan dengan 6 ml etanol 95%.
Tabung III diisi dengan 3 ml larutan albumin lalu ditambahkan dengan 1 ml
buffer asetat pH 4,7 kemudian ditambahkan dengan 6 ml etanol 95%.
BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Pengendapan dengan Logam
|
No
|
Larutan contoh
|
HgCl2 0,2 M
|
(CH3COO)2Pb
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Albumin
Alanin
Asparagin
Glisin
|
Keruh + endapan
Bening
Bening
Bening
|
Putih keruh + endapan
Bening
Keruh
Bening
|
4.1.3 Pengendapan dengan Alkohol
|
Larutan
Contoh
|
Tabung
I
|
Tabung
II
|
Tabung
III
|
|
Larutan Albumin
|
Putih keruh
|
Terbentuk 3
lapisan
|
Terbentuk 3
Lapisan
|
Keterangan
:
Ø
Tabung I : Larutan
albumin + HCl 0,1 M + etanol 95 %.
Ø
Tabung II : Larutan
albumin + NaOH 0,1 M + etanol 95 %.
Ø
Tabung III : Larutan albumin
+ buffer asetat pH 4,7 + etanol 95 %.
4.2 Reaksi
4.2.1 Pengendapan dengan Logam
4.2.1.2 Pb Asetat (CH3COO)2 Pb 0,2 M
4.2.2
Pengendapan dengan Alkohol
4.3 Pembahasan
4.3.1 Pengendapan dengan
Logam
Setelah melakukan
percobaan reaksi uji protein dengan cara pengendapan dengan logam maka hasil
yang diperoleh larutan albumin + HgCl2 menghasilkan larutan yang
keruh serta terdapat endapan putih begitupun dengan (CH3COO)2
Pb, ini dikarenakan albumin merupakan senyawa protein kompleks yang terdiri
dari beberapa monomer-monomer asam amino, oleh karena itu maka terbukti bahwa
albumin mengandung protein yang ditandai dengan adanya endapan putih. Larutan
alanin + HgCl2 + (CH3COO)2 menunjukkan tidak adanya endapan yang
dihasilkan, begitupun dengan larutan glisin + HgCl2 + (CH3COO)2
dan asam aspartat + HgCl2 +(CH3COO)2 ini menandakan bahwa tidak ada protein yang
terkandung dalam ketiga larutan tersebut, karena alanin, glisin dan asam
aspartat hanya merupakan monomer-monomer asam amino yang belum kompleks.
Reaksi uji protein
dengan cara pengendapan dengan logam mendapatkan hasil yang sama dengan reaksi
uji protein dengan pengendapan logam, kecuali pada larutan albumin karena
menghasilkan endapan.
4.3.3 Pengendapan dengan
Alkohol
Reaksi uji protein dengan cara pengendapan dengan alkohol, hasil yang
diperoleh adalah albumin + HCl 0,1 M + etanol 95 % menghasilkan larutan 3 fase (bening, putih,
keruh), albumin + NaOH + etanol 95% mengasilkan larutan 3 fase
(keruh, bening, kuning), dan albumin + buffer pH 4,7 + etanol 95% menghasilkan
larutan 3 fase ( keruh, putih, bening, terkhusus pada larutan albumin yang
direaksikan dengan buffer pH 4,7 merupakan titik isoelektrik dimana keadaan
asam sama dengan basa. Percobaan ini membuktikan bahwa protein bersifat zwitter
ion karena memiliki gugus amina dan karboksil sekaligus, zat ini dapat dianggap
sebagai asam sekaligus basa walaupun pH alaminya biasanya dipengaruhi oleh
gugus –R yang dimiliki.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa
:
1.
Pada reaksi pengendapan dengan logam, larutan albumin mengandung protein
ditandai dengan adanya endapan, sedangkan pada tiga larutan asam amino (alanin,
glisin dan asam aspartat) tidak ada reaksi (bening).
2.
Pada reaksi pengendapan dengan alcohol, ketiga larutan menghasilkan 3
fase, terkhusus pada larutan yang direaksikan dengan buffer pH 4,7 merupakan
titik isoelektrik dimana keadaan asam sam dengan basa.
5.2 Saran
Sejauh ini asisten sudah sangat maksimal dalam menjelaskan dan
membimbing praktikan dalam melaksanakan praktikum hingga pengerjaan laporan,
terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Gropper, Sareen. S., Smith, Jack. L., Groff,
James. L., Advanced
Nutritions And
Human Metabolism, Pre-Press
PMG, Canada.
Katili, AS.,
2009, Struktur dan Fungsi Protein Kolagen,
Jurnal Pelangi Ilmu, Vol 2,
No. 5, Hal : 1-2, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Lehninger, A.L., 1982, Dasar-Dasar
Biokimia, jilid I, Erlangga, Jakarta
Ngili, Yohanis,
2013, Biokimia
Dasar
Edisi Revisi, Penerbit
Rekayasa Sains,
Bandung.
Poedjiadi A., 1994, Dasar-Dasar
Biokimia, UI Press, Jakarta.
Tim Dosen Kimia,
2014, Kimia Organik, UPT
MKU Universitas Hasanuddin,
Makassar.