LAPORAN PRAKTIKUM
BIOKIMIA
PERCOBAAN IV
REAKSI-REAKSI
SPESIFIK ASAM AMINO DAN PROTEIN
NAMA :
SOPHIA MARCELINA YANSIP
NIM :
H41113701
HARI/TANGGAL : KAMIS/ 16 OKTOBER 2014
KELOMPOK : IV (EMPAT) C
ASISTEN :
HIKMAWATI
LABORATORIUM
BIOKIMIA
JURUSAN
KIMIA
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Asam-asam
amino dalam protein seluruhnya merupakan α-amino, yakni, baik gugus amino
maupun gugus karboksil keduanya mengikat atom karbon yang sama yaitu atom
karbon α. Atom karbon α merupakan pusat kiral, sehingga asam amino memiliki
aktivitas optik. semua asam amino yang ditemukan dalam protein memiliki
konfigurasi L (Ngili, 2013).
Protein
adalah molekul penyusun tubuh kita yang terbesar setelah air. Hal ini mengindikasikan
pentingnya protein dalam menopang seluruh proses kehidupan dalam tubuh. Dalam
kenyataannya, memang kode genetik yang tesimpan dalam rantaian DNA digunakan
untuk membuat protein, kapan, dimana dan seberapa banyak. Protein berfungsi
sebagai penyimpan dan pengantar seperti hemoglobin yang memberikan warna merah
pada sel darah merah kita, bertugas mengikat oksigen dan membawanya ke bagian
tubuh yang memerlukan. Selain itu juga menjadi penyusun tubuh, "dari ujung
rambut sampai ujung kaki", misalnya keratin di rambut yang banyak
mengandung asam amino Cysteine sehingga menyebabkan bau yang khas bila rambut
terbakar karena banyaknya kandungan atom sulfur di dalamnya, sampai kepada
protein-protein penyusun otot kita seperti actin, myosin, titin, dsb. Protein
yang bernama rhodopsin, yaitu protein di dalam sel retina mata kita yang
merubah photon cahaya menjadi sinyal kimia untuk diteruskan ke otak. Masih
banyak lagi fungsi protein seperti hormon, antibodi dalam sistem kekebalan
tubuh (Witarto, 2001).
1.2
Maksud
dan Tujuan Percobaan
1.2.1
Maksud
Percobaan
Untuk
mengetahui, memahami dan mempelajari reaksi-reaksi spesifik dari asam amino dan
protein.
1.2.2
Tujuan
Percobaan
Tujuan dari
percobaan ini ialah :
1. Mengidentifikasi
adanya gugus indols spesifik asam amino triptofan melalui percobaan Adam
Kiewitz-Hopkins.
2. Mengetahui
reaksi uji protein dengan terjadinya pengendapan, melalui proses termokoagulasi
dan pengendapan dengan asam kuat seperti asam nitrat dan asam organik.
1.3
Prinsip
Percobaan
Mengidentifikasi reaksi
spesifik asam amino dan protein dengan beberapa pereaksi tertentu yaitu melalui
reaksi Adam Kiewitz-Hopkins dan reaksi pengendapan yaitu termokoagulasi dan
pengendapan dengan asam kuat seperti asam nitrat dan asam organik yang ditandai
dengan adanya perubahan warna, dan endapan yang menunjukkan bahwa adanya uji
reaksi positif terhadap asam amino dan protein.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Asam
amino yang merupakan monomer (satuan pembentuk) protein asam amino adalah salah
satu senyawa yang mempunyai dua gugus fungsi yaitu gugus amino dan gugus
karboksil. Pada asam amino, gugus amino terikat pada atom karbon yang
berdekatan dengan gugus karboksil (C-α)
atau dapat dikatakan juga bahwa gugus amina dan gugus karboksil dalam asam
amino terikat pada atom karbon yang sama (Tim Dosen Kimia, 2013).
Rumus
umum asam amino
R
H2N α
COOH
H
Gambar 1.1 Asam α –
amino
Asam amino adalah senyawa
yang mempunyai rumus
umum +H3NCH - (R) COO- , benifat
ion dan hidrohl. Asam-asam amino
saling berbeda gugus
R-nyii. Ada sekitar 20
macam asam amino
penting yang merupakan
pembentuk protein dan
disebut asam amino hidrolisat,
seperti Alanin (Ala), Arginin
(Arg), Sistein
(Sis),Glutamin (Gln), Asam glutamat
(Glu), Glisin (Gly),
Histidin (His), Iso leusin
(Leu), Lisin (Lys), Metionin
(Met), Fenilalanin (Phe), Prolin (Pro), Serin
(Ser), Treonin (Thr), Triptofan (Trp),
Tirosin (Tyr),
dan Valin (Val) (Rediatning dan Kartini, 1987).
Analisis
asam amino ini sangat
diperlukan, misalnya untuk
mengaralisis hasil industri seperti
makaran, makanan temak, obat-obatan, juga untuk analisis cairan biologi
dan hidrolisat protein. Cara
a-nalisis asam amino yang
masih lazim digunakan sampai
saat ini adalah kronratografi dengan
berbagai macam teknik
seperti kromatograti kertas,
lapisen tipis, dari kolom (Rediatning
dan Kartini, 1987).
Asam amino
terbagi menjadi 2
bagian yaitu asam amino essensial dan non essensial. Asam amino essensial tidak dapat dibuat dalam tubuh dan harus
diperoleh dari makanan sumber protein
yang lain. Asam
amino essensial terdiri dari
histiddin, arginin, treonin,
valin, metionin, isoleusin, dan
leusin. Asam amino non essensial adalah
asam amino yang
dapat dibuat dalam tubuh
yang terdri dari
asam aspartat, asam glutamat, serin, glisin, alanin, prolin,
tirosin, dan sistin (Sulistyowibowo, 2013).
Asam
amino tidak hanya berperan sebagai bahan bangunan protein, tetapi juga
merupakan sumber daya kimia bagi banyak senyawa yang membutuhkan nitrogen.
Misalnya glisin diperlukan untuk biosintesis gugus heme dari hemoglobin.
Triptofan merupakan pelopor bagi suatu kelompok senyawa penting dalam biokimia
sistem syaraf. Terosin merupakan materi pemula bagi biosintesis dari pigmen
kulit melamin (Tim Dosen Kimia, 2013)
Beberapa asam amino tidak dapat
disintesis dalam tubuh manusia oleh karenanya asam-asam amino tertentu harus
diperoleh secara langsung dari makanan atau minuman dikenal sebagai asam amino
esensial. Tergolong sebagai asam-asam amino esensial adalah Arginin, Lisin,
Triptofan, Histidin, Metionin, Valin, Isolensin, Lensin, Finilalanin, Arginin
dan fenilalanin sangat dibutuhkan oleh bayi yang sedang dalam pertumbuhan (Tim
Dosen Kimia, 2013).
Arsitektur molekul dan aktivitas sel-sel hidup sangat tergantung pada protein, yang membentuk lebih dari setengah dari isi padat sel dan yang menunjukkan variabilitas
yang besar dalam ukuran, bentuk, dan
sifat fisik. Peran fisiologis
mereka juga adalah
cukup bervariasi, dan karena variabilitas
ini, mengkategorikan protein menurut untuk
fungsi mereka dapat membantu dalam studi metabolisme tubuh
manusia. Jenis ini kategorisasi menunjukkan ketergantungan
tubuh pada benar
berfungsi protein dan memberikan dasar untuk memahami pentingnya protein struktur (Gropper dkk, 2005).
Protein adalah salah
satu makrobiomolekular yang berfungsi sebagai pembentuk struktur sel dari pada
makhluk hidup termasuk manusia. Protein adalah polimer dari asam-asam amino
yang tersambung melalui ikatan peptida, oleh karenanya dapat disebut sebagai
polipeptida. Hal yang menarik bahwa protein pada semua bentuk kehidupan
(organisme) mengandung hanya 20 jenis asam amino, namun interkoneksinya
menghasilkan ragam makhluk hidup yang tak terhingga banyaknya. Glisin merupakan
asam amino yang paling sederhana dan pertama diisolasi dari hidrolisis protein.
Sebagai contoh, hampir setengah molekul asam amino yang diperoleh bila sutra
diisolasi adalah glisin. Teronin adalah asam amino pembentuk protein yang
paling akhir dapat diisolasi yaitu dari hidrolisis fibrin (Tim Dosen Kimia, 2013).
Protein memiliki
berbagai fungsi biologis yang berbeda-beda pula, yaitu (Ngili, 2013):
1.
Katalis enzim.
Enzim merupakan protein katalis yang mampu meningkatkan laju reaksi sampai 1012
kali laju awalnya.
2.
Transport dan
penyimpanan. Banyak ion dan molekul kecil diangkut dalam darah maupun di dalam
sel dengan cara berikatan pada protein pengangkut. Contohnya, hemoglobin
merupakan protein pengangkut oksigen. Zat besi disimpan dalam berbagai jaringan
oleh protein ferritin.
3.
Fungsi mekanik.
Protein ini menjalankan peranan sebagai pembentuk struktur. Misalnya, protein
kolagen menguatkan kulit, gigi, serta tulang. Membran yang megelilingi sel dan
organel juga mengandung protein yang berfungsi sebagai pembentuk struktur
sekaligus menjalankan fungsi biokimia lainnya.
4.
Pergerakan. Kontraksi
otot terjadi karena adanya interaksi antara dua tipe protein filamen, yaitu
aktin dan miosin. Miosin juga memiliki aktivitas enzim yang dapat memudahkan
perubahan energi kimia ATP menjadi energi mekanik.
5.
Pelindung.
Antibodi merupakan protein yang terlibat dalam perusakan se lasing.
6.
Proses
informasi. Rangsangan luar seperti sinyal hormon atau intensitas cahaya
dideteksi oleh protein tertentu yang meneruskan sinyal ke dalam sel. Contoh
protein seperti ini misalnya rodopsin yang terdapat dalam membrane sel retina.
BAB
III
METODE
PERCOBAAN
3.1
Bahan Percobaan
Bahan-bahan
yang digunakan dalam praktikum ini adalah larutan protein
(Albumin), larutan asam amino
(Alanin, Asparagin, Glisin), reagen Hopkins, larutan NaOH 0,1 M, larutan asam
nitrat (HNO3) pekat, larutan asam sulfat (H2SO4)
pekat, larutan asam asetat (CH3COOH) 0,1 M, larutan asam
trikloroasestat 10%.
3.2
Alat Percobaan
Alat-alat
yang digunakan dalam praktikum ini adalah tabung reaksi, pipet skala 5 mL, pipet tetes 1
mL, gegep, rak tabung, penangas air, sikat tabung dan gelas kimia 600 mL.
3.3
Prosedur Percobaan
3.3.1
Reaksi Adam Kiewitz Hopkins
Empat
buah tabung reaksi diisi dengan larutan gliosilik (reagen Hopkins) sebanyak 2
mL, kemudian ditambahkan 2 mL asam-asam amino (alanin, asparagin, dan glisin)
dan albumin. Pada tabung 1 diisi dengan alanin, tabung 2 diisi dengan
asparagin, tabung 3 diisi dengan albumin dan tabung 4 diisi dengan glisin.
Diaduk, kemudian dengan pipet dimasukkan kedalam masing-masing tabung tanpa
mencampurkan, sebanyak 4 mL asam sulfat pekat. Diamati perubahan yang terjadi.
3.3.2
Reaksi-reaksi Pengendapan
3.3.2.1
Termokoagulasi
Empat
buah tabung reaksi yang diisi dengan larutan asam amino (alanin, asparagin dan glisin))
dan albumin 2 mL. Pada tabung reaksi 1 diisi dengan alanin, tabung reaksi 2
diisi dengan albumin, tabung reaksi 3 diisi dengan asparagin dan tabung reaksi
4 diisi dengan glisin. Kemudian dibasakan dengan ditambahkan 1 tetes NaOH 0,1 M
ke dalam tiap tabung, semua tabung dipanaskan hingga mendidih, lalu diasamkan
larutan panas tadi dengan asam asetat 0,1 M, diamati perubahan yang terjadi.
3.3.2.2
Pengendapan Dengan Asam Kuat
1.
Asam nitrat
Empat
buah tabung reaksi diisi masing-masing 2 mL larutan albumin, alanin, asparagin
dan glisin. Pada tabung reaksi 1 diisi dengan alanin, tabung reaksi 2 diisi
dengan albumin, tabung reaksi 3 diisi dengan asparagin dan tabung reaksi 4
diisi dengan glisin. Keempat tabung tersebut ditambahkan larutan asam nitrat
pekat sebanyak 1 mL, tanpa dicampur. Diamati perubahan yang terjadi.
2.
Asam Organik
Empat buah tabung reaksi
diisi masing-masing 2 mL larutan albumin, alanin, asparagin dan glisin. Pada tabung reaksi 1
diisi dengan alanin, tabung reaksi 2 diisi dengan albumin, tabung reaksi 3
diisi dengan asparagin dan tabung reaksi 4 diisi dengan glisin. Kemudian keempat tabung
tersebut ditambahkan 1 mL larutan trikloroasetat 10%, tanpa dicampur. Diamati
perubahan yang terjadi.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
4.1.1 Tabel Pengamatan
4.1.2.1 Reaksi Adam
Kiewitz-Hopkins
|
No
|
Larutan Protein dan
Larutan Asam Amino
|
Warna
|
|
|
Reagen Hopkins
|
Asam Sulfat Pekat
|
||
|
1
|
Albumin
|
Keruh
|
Berwarna merah dan
berbusa
|
|
2
|
Asparagin
|
Bening
|
Bening
|
|
3
|
Alanin
|
Bening
|
Bening
|
|
4
|
Glisin
|
Bening
|
Bening
|
4.1.2
Reaksi-reaksi Pengendapan
4.1.2.1
Termokoagulasi
|
No
|
Larutan Protein
|
Warna
|
||
|
Penambahan NaOH
|
Setelah Pemanasan
|
Penambahan Asam
Asetat
|
||
|
1
|
Albumin
|
Keruh
|
Kental
|
Kental
|
|
2
|
Asparagin
|
Bening
|
Bening
|
Bening
|
|
3
|
Alanin
|
Bening
|
Bening
|
Bening
|
|
4
|
Glisin
|
Bening
|
Bening
|
Bening
|
4.1.3
Pengendapan dengan Asam Kuat
4.1.3.1
Asam Nitrat
|
No
|
Larutan Protein
|
Penambahan Asam
Nitrat Pekat
|
|
1
|
Albumin
|
Endapan kuning
kehijauan
|
|
2
|
Asparagin
|
Bening
|
|
3
|
Alanin
|
Bening
|
|
4
|
Glisin
|
Bening
|
4.1.3.2
Asam Organik
|
No
|
Larutan
Protein
|
Penambahan
Asam Trikloroasetat 10%
|
|
1
|
Albumin
|
Keruh
|
|
2
|
Alananin
|
Bening
|
|
3
|
Asparagin
|
Bening
|
|
4
|
Glisin
|
Bening
|
4.2 Reaksi
4.2.1 Reaksi Adam Kiewitz-Hopkins
a. Albumin
b. Alanin
c. Asparagin
d. Glisin
4.3 Pembahasan
4.3.1 Reaksi
Adam Kiewitz-Hopkins
Dari hasil percobaan diperoleh larutan albumin pada
reaksi hopkins berubah menjadi keruh dan pada reaksi pengendapan asam sulfat
pekat berubah menjadi warna merah pada dasar tabung dan berbusa pada permukaan tabung reaksi (2 fase).
Ini dikarenakan larutan albumin merupakan protein yang tersusun atas
monomer-monomer asam amino. Berbeda dengan larutan alanin, asparagin dan glisin
yang tidak mengalami perubahan apapun dan warnya tetap bening.
4.3.2
Reaksi-reaksi Pengendapan
4.3.2.1
Termokoagulasi
Dari hasil percobaan diperoleh larutan albumin
mengalami perubahan setelah dipanaskan yaitu membentuk endapan yang berwarna
putih dan sangat kental, setelah ditambahkan asam asetat hasilnya tetap sama.
Hal ini dikarenakan protein mengalami denaturasi ketika larutan yang dipanaskan
menididih. Sedangkan larutan alanin, asparagin dan glisin tidak mengalami
perubahan warna sejak dipanaskan maupun ketika penambahan asam asetat 0,1 M.
4.3.2.2
Pengendapan dengan Asam Kuat
1.
Asam Nitrat
Dari hasil percobaan diperoleh larutan albumin berubah
warna menjadi endapan kuning kehijauan. Hal ini diakibatkan karena asam-asam kuat yang
ditambahkan ke larutan protein menyebabkan denaturasi irreversibel protein.
Mengingat larutan albumin adalah protein yang terdiri dari monomer-monomer asam
amino, berbeda dengan alanin yang hanya merupakan monomer asam amino. Larutan
protein yang lainnya tidak mengalami perubahan apapun ketika ditambahkan dengan
asam nitrat.
2. Asam
Organik
Dari hasil percobaan diperoleh larutan albumin
berwarna keruh ketika ditambahkan dengan asam trikloroasetat 10%. Hal ini
diakibatkan karena asam kuat yang ditambahkan ke larutan protein menyebabkan
suatu denaturasi irreversibel protein. Mengingat larutan albumin adalah protein
yang terdiri dari monomer-monomer asam amino, berbeda dengan alanin, asparagin
dan glisin yang merupakan monomer asam amino yang tidak mengalami perubahan
ketika ditambahkan asam trikloroasetat 10%.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil percobaan ini yaitu :
1. Pada percobaan menggunakan reaksi Adam Kiewitz-Hopkins
spesifik untuk mengientifikasi adanya gugus indol pada asam amino, triptofan
bereaksi dengan larutan albumin karena merupakan senyawa protein yang terdiri
dari monomer-monomer asam amino.
2. Pada percobaan menggunakan reaksi termokoagulasi spesifik
untuk melihat terjadinya denaturasi protein pada suhu yang tinggi dan pH yang
netral bereaksi dengan larutan albumin. Sedangkan reaksi pengendapan asam kuat
spesifik untuk melihat denaturasi irreversibel pada protein dengan terbentuknya
cincin flokulasi.
5.2 Saran
Sebaiknya
bahan-bahan yang akan digunakan dalam praktikum ini dimaksimalkan agar tidak
menjadi penghalang saat melakukan praktikum.
DAFTAR
PUSTAKA
Gropper,
Sareen. S., Smith, Jack. L., Groff, James. L., Advanced Nutritions And
Human Metabolism, Pre-Press
PMG, Canada.
Ngili, Yohanis, Biokimia Dasar
Edisi Revisi, Penerbit Rekayasa Sains, Bandung.
Rediatning Wayan S., dan Kartini,
Nanny
H., 1987, Analisis Asam Amino
Amino Dengan Kromatografi Cairan Kinerja Tinggi Secara
Derivatisasi Prakolom dan Pascakolom, Jurnal Proceedings ITB, Vol 20, No. ½, Hal : 2, IPB
Press, Bogor.
Sulistyowibowo, Wibowo, dkk., 2013,
Analisis
Asam Amino dan Mineral
Essensial Pada Ubur-ubur, Jurnal JKK,
Vol 2, No. 2, Hal : 2, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura, Kalimantan.
Tim Dosen
Kimia, 2013,
Kimia Organik, Universitas
Hasanuddin, Makassar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar