LAPORAN PRAKTIKUM
BIOKIMIA
PENETAPAN KESEGARAN SUSU
NAMA : SOPHIA MARCELINA
YANSIP
NIM
: H41113701
KELOMPOK
: IV (EMPAT)
HARI/TANGGAL PERCOBAAN : KAMIS/ 27 NOVEMBER 2014
ASISTEN : RISKA
LABORATORIUM
BIOKIMIA
JURUSAN
KIMIA
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Susu sebagai salah satu produk ternak mempunyai kandungan zat gizi yang
lengkap seperti protein, lemak, karbohidrat, mineral, dan vitamin. Sifat zat
gizi tersebut mudah dicerna dan diserap serta sempurna. Kondisi zat gizi yang
baik pada susu tersebut juga memberi peluang bagi pertumbuhan mikroba seperti
bakteri, kapang dan khamir karena dalam pertumbuhannya (Abubakar dkk, 2000).
Didalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang
meminum air susu yang belum diolah. Hal ini disebabkan karena tidak terbiasa
mencium aroma susu segar (mentah), atau sama sekali tidak suka air susu dan
sebagian lagi karena menganggap harga air susu mahal dibandingkan kebutuhan
sehari-hari lainnya. Dengan adanya
teknologi pengolahan/pengawetan bahan makanan, maka hal tersebut diatas dapat
diatasi, sehingga air susu beraroma enak dan disukai orang (Saleh, 2004).
Air susu yang banyak menyebar dan dikenal dipasaran
adalah air susu sapi. Sebenarnya air
susu kambing dan kerbau tidak kalah nilai gizinya dibandingkan dengan air susu
sapi. Beberapa daerah di Indonesia telah
memanfaatkan susu kambing dan kerbau yaitu didaerah Sumatera Utara, Sumatera
Barat dan Sulawesi Selatan. Bahkan di negara lain susu kambing telah dianjurkan
oleh dokter-dokter dan digunakan untuk pengobatan rumah tangga sejak dulu
(Saleh, 2004).
Berdasarkan teori tersebut maka dilakukan praktikum
mengenai penetapan kesegaran susu.
1.1 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan
ini adalah mempelajari dan mengetahui cara penetapan kesegaran susu dengan
menggunakan uji metilen biru sebagai indikator.
1.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan
dari percobaan ini adalah sebagai berikut :
1.
Untuk menentukan
pengaruh pemanasan terhadap kesegaran susu.
2.
Untuk menentukan
pengaruh penambahan formaldehid terhadap kesegaran susu.
1.3 Prinsip Percobaan
Menentukan kesegaran susu dengan
mereaksikan susu segar dengan perlakuan pemanasan, penambahan formaldehid atau
air dan mengidentifikasi dengan metilen biru sehingga enzim schardinger yang terdapat dalam susu
mengkatalis oksidasi formaldehid menjad asam-asam dalam suasana anaerob yang
terlihat dari perubahan warna dari biru menjadi putih.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Air susu merupakan bahan makanan
utama bagi makhluk yang baru lahir, baik
bagi hewan maupun manusia. Sebagai bahan makanan/minuman air susu sapi
mempunyai nilai gizi yang tinggi, karena
mengandung unsur-unsur kimia yang dibutuhkan oleh tubuh seperti Calsium,
Phosphor, Vitamin A, Vitamin B dan Riboflavin yang tinggi.
Komposisinya yang mudah dicerna
dengan kandungan protein, mineral dan vitamin yang tinggi, menjadikan susu
sebagai sumber bahan makanan yang fleksibel
yang dapat diatur kadar lemaknya, sehingga dapat memenuhi keinginan dan selera konsumen (Saleh,
2004).
Susu adalah cairan yang dihasilkan
oleh kelenjar-kelenjar susu (mammae), baik dari binatang maupun dari buah dada
seorang ibu. Air susu ibu biasanya dikenal dengan ASI sedangkan susu hewan atau
susu tiruan atau pengganti susu ibu disebut Pengganti Air Susu Ibu atau PASI
pada umumnya adalah air dari berbagai binatang ternak, misalnya sapi, kerbau,
kambing dan ada pula yang mempergunakan air susu unta atau kuda (Sediaoetama,
1989).
Susu (sapi) maupun ASI mengandung
gula khusus yang disebut laktosa. Jenis gula ini hanya terdapat didalam susu.
Banyak bayi (dan orang dewasa) yang tidak tahan ter hadap laktosa ini. Didalam saluran pencernaan, laktosa dipecah
menghasilkan glukosa dan galaktosa oleh enzim laktase. Pada sebagian bayi dan
orang dewasa terdapat kelainan bawaan (sejak lahir), dimana sekresi laktase
tidak mencukupi atau tidak dihasilkan sama sekali. Maka laktosa tidak dapat
dicerna dan zat ini dalam konsentrasi besar bersifat sebagai laksans (urus-urus) sehingga terjadi diarrhea.
Kondisi ini disebut “lactose intolerance” dan dikatakan terdapat pada sebagian
besar orang-orang dari bangsa berwarna (Sediaoetama,
1989).
Dalam metabolisme tubuh
manusia yang normal, laktosa dihidrolisis secara enzimatis menjadi D-galaktosa
dan D-glukosa, selanjutnya galaktosa tersebut diubah menjadi glukosa tidak
berfungsi, sehingga akan mengakibatkan penyakit galaktosemia yang sering
menyerang bayi dan dapat mengakibatkan kematian. Laktosa masih memiliki atom
karbon anomerik hemiasetal yang dapat mereduksi pereaksi Fehling, Benedik dan
Tollen. Oleh sebab itu masih tergolong sebagai gula pereduksi (Tim Dosen Kimia,
2013).
Dipandang dari segi
gizi, susu merupakan bahan makanan yang hampir sempurna dan merupakan bahan
makanan alamiah bagi binatang menyusui yang baru lahir, dimana susu merupakan
satu-satunya sumber makanan pemberi kehidupan segera sesudah kelahiran. (Muchtadi
dkk, 2011).
Sebagai bahan pangan,
susu dapat digunakan baik dalam bentuk aslinya sebagai satu
kesatuan, maupun dari
bagian-bagiannya. Banyak sekali
masalah-masalah yang dihadapi dalam pengolahan, penyimpanan dan penggunaan air susu.
Masalah-masalah tersebut dapat dipecahkan terutama bila kita mengetahui susunan
kimianya dan faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi perubahannya, mulai dari
makanan sampai pada
penanganan susu tersebut (Muchtadi dkk, 2011).
Secara umum, susu
mammalian ini dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu susu “kaya” dan susu
“miskin”. Yang dimaksud susu “kaya” adalah susu yang mengandung kadar lemak dan
protein tinggi, misalnya susu ikan paus, kelinci dan anjing laut. Sedangkan
susu “miskin” adalah susu yang mengandung kadar lemak dan protein relatif lebih
rendah, misalnya susu sapi, kambing, domba, kuda, kerbau dan manusia. Perbedaan
komposisi ini menunjukkan adanya perbedaan tahap perkembangan anak pada waktu
kelahiran. Anak ikan paus, kelinci dan anjing laut banyak membutuhkan protein
dan lemak sesudah kelahiran untuk pertumbuhannya dibandingkan anak sapi,
kambing atau domba (Muchtadi dkk, 2011).
Menurut Muchtadi dkk, (2011) komposisi kimia dan sifat
fisik susu adalah sebagai berikut :
1.
Komposisi Kimia
Susu merupakan emulsi lemak dalam air yang mengandung
garam-garam mineral, gula dan protein. Komposisi rata-rata dan kisaran normal
susu sapi yaitu sebagai berikut :
a)
Air
Air
dalam susu berfungsi sebagai pelarut dan membentuk emulsi, suspense koloidal.
b)
Lemak
Flavor pada susu sangat ditentukan oleh lemak susu.
Lemak susu dalam bentuk butir-butir yang amat kecil disebut globula, berada
dalam fase dispersi. Masing-masing butir lemak dikelilingi oleh selaput protein
yang sangat tipis atau serum susu yang terkumpul pada serum.
c)
Protein Susu
Protein
susu terdiri dari kasein 80%, laktalbumin 18% dan laktoglobulin 0,05-0,07%.
Kasein merupakan suatu subtansi yang berwarna putih kekuningan yang didapat
dalam kombinasi dengan Ca sebagai kalsium kasein dalam bentuk partikel kecil
bersifat gelatin dalam suspensi.
d)
Laktosa
Laktosa
merupakan disakarida yang bila dihidrolisa satu molekul yang sama dengan gula
tebu atau sukrosa kemanisannya 1/6 kali kemanisan sukrosa.
e)
Mineral
Mineral
susu mengandung potassium, kalsium, magnesium, klorida, phosphor dan sulfur
dalam jumlah yang relatif besar. Besi, tembaga, seng, aluminium, mangan, kobalt
dan yodium terdapat dalam jumlah kecil. Sedangkan silikon, boron, titanium,
vanadium, rubidium, lithium serta strontium terdapat dalam jumlah yang sangat
kecil.
2.
Sifat fisik
Susu segar pH-nya berkisar antara 6,5 – 6,6 yang
bersifat agak asam, keasaman susu segar berhubungan dengan fosfat susu, protein
(kasein dan albumin), serta sejumlah kecil CO2 dan sitrat yang
terdapat pada susu. Makanan yang diberikan pada sapi tidak mempengaruhi
keasaman susu yang dihasilkan. Berat jenis susu rata-rata 1.032 atau berkisar
antara 1.027 – 1.035. Semakin banyak lemak susu semakin rendah BJ-nya, semakin
banyak presentase bahan padat bukan lemak, maka semakin berat susu tersebut.
Enzim adalah polimer
biologis yang mengkatalis reaksi kimia yang memungkinkan berlangsungnya
kehidupan seperti yang kita kenal. Keberadaan dan pemeliharaan rangkaian enzim
yang lengkap dan seimbang merupakan hal yang esensial untuk menguraikan
nutrient menjadi energi dan chemical
building block (bahan dasar kimiawi); menyusun bahan-bahan dasar tersebut
menjadi protein, DNA, mebran, sel, dan jaringan; serta memanfaatkan energi
untuk melakukan motilitas sel, fungsi saraf, dan kontraksi otot (Murray dkk,
2006).
Menurut Murray dkk (2006) enzim dikelompokkan ke dalam
enam kelas, yaitu sebagai berikut :
1.
Oksidoreduktase (mengkatalis oksidasi dan reduksi)
2.
Transferase (mengkatalis pemindahan gugus seperti gugus glikosil, metil,
atau fosforil)
3.
Hidrolase (mengkatalis pemutusan hidrolitik
, C-C, C-O, C-N, dan ikatan lain)
4.
Liase, mengkatalis pemutusan C-C, C-O, C-N, dan ikatan lain dengan eliminasi atom yang menghasilkan ikatan rangkap
5.
Isomerase (mengkatalis perubahan geometric atau structural di dalam
suatu molekul)
6.
Ligase (mengkatalis penyatuan dua molekul yang dikaitkan dengan
hidrolisis ATP).
Enzim-enzim yang terdapat dalam susu antara lain
galaktosa, lipase, katalase, lactase, diastase, peroksidase dan posphase.
Vitamin yang terkandung dalam susu adalah vitamin A1, B1,
B2, asam nikotinat, B6, asam pantotenat, vitamin C, D, E
dan k. makanan merupakan faktor yang mempengaruhi jumlah vitamin yang terdapat
dalam susu (Muchtadi dkk, 2011).
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Bahan Percobaan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah susu segar, metilen biru
0,02%, akuades, formaldehid 0,5%, vaselin dan tissu roll.
3.2 Alat Percobaan
Alat yang digunakan
dalam percobaan ini adalah tabung Thunberg,
penangas air, inkubator, rak tabung reaksi, gelas kimia, gegep, tabung reaksi
dan pipet tetes.
3.3 Prosedur Kerja
Tiga
buah tabung thunberg diisi dengan 5
ml susu pada setiap tabung kemudian tabung pertama dipanaskan dalam penangas
air dan dididihkan selama 1 menit. Sedangkan pada tabung kedua dan ketiga tidak
diadakan perlakuan. Selanjutnya sebanyak 1 ml Mb 0,02% ditambahkan pada setiap
tabung. Sebanyak 1 ml formaldehid 0,5% dipipet ke bagian dalam tutup tabung thunberg pada tabung pertama dan kedua,
sedangkan pada tabung ketiga dipipet 1 ml akuades. Lalu dinding tutup tabung
diolesi dengan vaselin lalu ditempatkan pada tempatnya sehingga lubang pada
tutup tersebut tepat pada pipa samping. Setelah itu ketiga tabung divakumkan
dengan tabung tetap dalam air es (putar terlebih dahulu tutup tabung sebelum
dilepaskan dari pompa). Ketiga tabung ditempatkan dalam inkubator dengan suhu
40 ºC selama 5 menit. Kemudian isi tabung dengan isi yang berada dalam tutup
dicampurkan, lalu pemanasan diteruskan dalam inkubator. Perubahan yang terjadi
diamati dengan interval 5 menit selama 30 menit.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel 1. Data Pengamatan
Penetapan Kesegaran Susu
|
Waktu (menit)
|
Tabung I
|
Tabung II
|
Tabung III
|
|
5
|
+++
|
+++
|
+++
|
|
10
|
+++
|
++
|
++
|
|
15
|
++
|
+
|
+
|
|
20
|
++
|
+
|
+
|
|
25
|
++
|
+
|
+
|
|
30
|
++
|
+
|
+
|
Keterangan :
Tabung I :
Susu + Metilen Biru + Formaldehid + Dipanaskan
Tabung II :
Susu + Metilen Biru + Formaldehid + Suhu Ruangan
Tabung II :
Susu + Metilen Biru + Akuades + Suhu Ruangan
++++ :
Biru pekat
+++ :
Biru
++ :
Biru muda
+ :
Putih
4.2 Reaksi
Adapun reaksi yang
terjadi pada percobaan ini yaitu :
4.3 Pembahasan
Susu yang mengandung
enzim Schardinger yang mengkatalis
macam-macam aldehid menjadi asam. Reaksinya berlangsung secara anaerob dan bisa
ditunjukkan bila ada akseptor hidrogen yang sesuai seperti metilen biru. Uji
metilen biru didasarkan pada kemampuan bakteri dalam susu untuk tumbuh dan
menggunakan oksigen yang terlarut sehingga menurunkan oksidasi reduksi dari
campuran tersebut. Akibatnya metilen biru yang ditambahkan akan tereduksi
menjadi warna putih yang sebelumnya berwarna biru. Fungsi penambahan metilen
biru yaitu untuk member perubahan warna dari putih menjadi biru.
Percobaan ini dilakukan pada tiga
tabung thunberg. Dimana pada tabung I
dan II pada tutupnya diberi larutan formaldehid sedangkan pada tabung III diberi air suling.Hal ini
dilakukan untuk membandingkan kerja enzim pada substrat yang berbeda.Kemudian
pada tabung I, dilakukan pemanasan terlebih dahulu untuk mengamati pengaruh
pemanasan terhadap keaktifan enzim.
Kemudian
ketiga tabung divakumkan untuk menghilangkan udara pada tabung. Pengolesan
vaselin pada tepi tabung untuk mencegah masuknya udara ke dalam tabung melalui
celah-celah dan pemvakuman tabung dengan cara menghisap udara dalam tabung
bertujuan untuk meminimalkan udara dalam tabung karena enzim Schardinger dalam susu bekerja dalam
suasana anaerob.
Setelah
itu tabung-tabung yang telah tertutup dimasukkan ke dalam inkubator bersuhu 40 ºC
selama 5 menit agar suasana dalam ketiga tabung sama pada suhu dimana enzim
bekerja, yaitu suhu optimum yang sesuai dengan suhu tubuh dari hewan atau
mamalia sekitar 40 ºC-50 ºC.
Pada tabung I yang
diberi formaldehid dan dipanaskan terlebih dahulu, tidak terjadi perubahan warna
(tetap berwarna biru). Hal ini
disebabkan karena pemanasan yang dilakukan menghambat enzim di dalam susu
tersebut sehingga tidak aktif/rusak, akibatnya enzim tersebut tidak dapat
mengoksidasi aldehid dengan baik dan menyebabkan sulit terjadi perubahan warna. Selanjutnya
terjadi perubahan pada menit ke-10 yaitu larutan menjadi lebih muda tapi tak
semuda pada tabung I dan tidak terjadi lagi perubahan pada menit selanjutnya.
Pada
tabung III terjadi perubahan warna yang agak cepat karena ada kemungkinan susu
kurang segar. Terjadi perubahan warna mulai dari menit ke 5 sampai pada
pengamatan selama 30 menit yang ditunjukkan oleh perubahan warna metilen biru
menjadi putih.
Ternyata
dari ketiga tabung tersebut yang mengalami perubahan pertama kali adalah tabung
II dan III, karena enzim Schardinger
menggunakan oksigen terlarut untuk mengoksidasi formaldehid menjadi asam
karboksilat. Akibatnya, metilen biru akseptor hidrogen dari asam akan tereduksi
menjadi putih dan warna larutan berubah
menjadi biru muda, selanjutnya terjadi perubahan kembali pada menit 15 dan
menit ke-30 yaitu larutan menjadi lebih muda.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa
:
1.
Pemanasan pada suhu yang tinggi dapat merusak enzim yang terdapat dalam
susu.
2.
Enzim pada susu dapat mengkatalis oksidasi formaldehid dengan berubahnya
warna pada susu dengan menggunakan indikator metilen biru dari warna biru
menjadi putih.
5.2 Saran
Sebaiknya
laboratorium menyediakan susu yang segar dan cukup agar praktikum dapat terlaksana
dengan baik dan asisten sudah sangat baik dalam menjelaskan serta membimbing
praktikan dalam praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Abubakar.,
Triyantini, Sunarlim, R., Setiyanto H dan Nurjannah, 2000,
Pengaruh
Suhu dan Waktu Pasteurisasi Terhadap
Mutu Susu Selama penyimpanan, Jurnal Ilmu Ternak, 6 (1) : 1-2, Balai penelitian Ternak, Bogor.
Muchtadi, Tien.,
Sugiyono dan Ayustaningwarno, Fitriyono.,
2011, Ilmu
pengetahuan Bahan pangan, Alfabeta, Bandung.
Murray, Robert, K.,
Graner, Daryl dan Rodwell,
Victor, W., 2006, Biokimia
Harper Edisi 27, Penerbit Buku Kedokteran,
Jakarta.
Saleh, Eniza,
2004. Dasar Pengolahan Susu dan
Hasil
Ikutan Ternak,
Universitas Sumatera Utara Digital Library, Sumatera Utara.
Sediaoetama, Achmad,
Djaeni, 1988, Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi,
Dian Rakyat, Jakarta.
Tim Dosen Kimia, 2013, Kimia Organik, UPT Mata
Kuliah Umum Universitas
Hasanuddin,
Makassar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar