LAPORAN
PRAKTIKUM
PERCOBAAN III
PENGARUH OSMOTIK KONSENTRASI GARAM HARA TERHADAP
ABSORPSI AIR DAN PERTUMBUHAN TANAMAN
NAMA :
SOPHIA MARCELINA YANSIP
NIM :
H41113701
KELOMPOK : I (SATU) A
ASISTEN :
ABDI KHALIK
HARI/TANGGAL :
SABTU/22 NOVEMBER 2014
LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
I.1
Latar Belakang
Akar mengabsorbsi air dengan cara osmosis. Oleh
karena itu absorbs air oleh tanaman mungkin dilakukan dengan mengendalikan
potensial air larutan dimana akar itu berada. Jika potensial osmotik larutan di
luar lebih rendah dari potensial osmotik sel-sel akar, maka air dapat masuk
dari larutan di luar ke dalam sistem akar. Dengan meningkatnya konsentrasi
zat-zat terlarut maka masuknya air ke dalam akar akan menjadi lebih lambat
sampai arah pergerakan air mungkin akan terbalik (Johannes dkk., 2014).
Konsentrasi
garam hara yang tinggi pada suatu tanaman disebut stress garam. Stres garam
merupakan salah-satu dari antara enam bentuk stres tanaman yaitu stress suhu,
stres air, stres radiasi, stres bahan kimia dan stres angin, tekanan, bunyi dan
lainnya. Stres garam terjadi dengan adanya salinitas atau konsentrasi garam
terlarut yang berlebih dalam tanaman. Stres garam ini umumnya terjadi dalam
tanaman pada tanah salin. Stres garam meningkat dengan meningkatnya konsentrasi
garam hingga tingkat konsentrasi tertentu yang dapat mengakibatkan kematian tanaman.
Garam-garam yang menimbulkan stres tanaman yaitu NaCl,NaSO4, CaCl2,
MgCl2 yang terlarut dalam air (Hamdayanti, 2010).
Berdasarkan
dasar teori tersebut maka dilakukan praktikum mengenai pengaruh osmotik
konsentrasi garam hara terhadap absorbsi air
dan pertumbuhan
tanaman.
I.2
Tujuan Percobaan
Melihat pengaruh osmotik dan konsentrasi garam hara
terhadap absorpsi air dan pertumbuhan tanaman Kacang hijau Phaseolus radiates.
I.3
Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilakukan pada hari Sabtu, 22 November 2014 pukul 10.00-13.00 WITA di
ruang Herbarium,
Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Definisi Salinitas
Salinitas didefinisikan
sebagai adanya garam
terlarut dalam konsentrasi
yang berlebihan dalam
larutan tanah. Satuan pengukuran salinitas
adalah konduktivitas elektrik
yang dilambangkan dengan
decisiemens/m pada suhu
25 °C. Pengaruh utama
salinitas adalah berkurangnya
pertumbuhan daun yang
langsung mengakibatkan berkurangnya fotosintesis tanaman. Salinitas
mengurangi pertumbuhan dan hasil tanaman pertanian penting dan pada kondisi
terburuk dapat menyebabkan terjadinya
gagal panen. Pada
kondisi salin, pertumbuhan
dan perkembangan tanaman
terhambat karena akumulasi berlebihan Na dan Cl dalam sitoplasma,
menyebabkan perubahan metabolisme di dalam sel. Aktivitas enzim terhambat oleh
garam. Kondisi tersebut juga mengakibatkan dehidrasi parsial sel dan hilangnya
turgor sel karena berkurangnya
potensial air di
dalam sel. Berlebihnya
Na dan Cl
ekstraselular juga mempengaruhi
asimilasi nitrogen karena tampaknya
langsung menghambat penyerapan
nitrat (NO3) yang merupakan
ion penting untuk
pertumbuhan tanaman (Yuniati, 2004).
II.2 Pengaruh Salinitas Bagi Tumbuhan
Pengaruh
salinitas pada tanaman sangat kompleks. Salinitas akan menyebabkan stress ion, stres
osmotik dan stres
sekunder. Stres ion yang paling penting
adalah keracunan Na+. Ion Na
yang berlebihan pada
permukaan akar akan menghambat serapan K+ oleh akar. Ion K sangat
berperan untuk mempertahankan turgor
sel dan aktivitas
enzim. Na pada
partikel tanah akan mengakibatkan pembesaran
dan penutupan pori-pori tanah
yang memperburuk pertukaran gas
serta dispersi material
koloid tanah. Stres osmotik terjadi
karena peningkatan konsentrasi garam terlarut dalam tanah akan
meningkatkan tekanan osmotik sehinggga menghambat
penyerapan air dan unsur-unsur yang berlangsung melalui
proses osmosis. Jumlah air
yang masuk ke
dalam akar akan berkurang sehingga mengakibatkan menipisnya jumlah
persediaan air dalam tanaman. Stres
osmotik pada tanaman
ini mengakibatkan tanaman mengalami kekeringan. Stres ion dan stres
osmotik karena salinitas yang tinggi pada tanaman akan
menyebabkan stres sekunder yaitu kerusakan
pada struktur sel
dan makromolekul seperti lipid, ensim dan DNA. Gejala
kekurangan hara dan keracunan pada
tanaman dicirikan dengan nekrosis,
klorosis dan daun
gugur (Majerus, 1966).
Salinitas mempengaruhi
proses fisiologis yang
berbeda-beda. Pada tanaman
pertanian seperti jagung,
kacang merah, kacang polong, tomat dan bunga matahari, pertumbuhan dan
berat kering mengalami penurunan jika tanaman ditumbuhkan dalam
media salin. Pada
kacang merah, pelebaran
daun terhambat oleh
cekaman salinitas karena berkurangnya tekanan turgor sel.
Berkurangnya pelebaran daun dapat berakibat berkurangnya fotosintesis maupun produktivitas
(Yuniati, 2004).
Beberapa
tanaman mengembangkan mekanisme untuk mengatasi cekaman tersebut di samping ada
pula yang menjadi teradaptasi. Mayoritas tanaman budidaya rentan dan tidak
dapat bertahan pada kondisi salinitas tinggi; atau sekalipun dapat bertahan
tetapi dengan hasil panen yang berkurang. Tanaman yang toleran terhadap cekaman
garam Na disebut tanaman natrofilik, sedangkan yang tidak toleran disebut
tanaman natrofobik. (Yuniati, 2004).
Beberapa proses fisiologis
dan biokimia terlibat
dalam mekanisme toleransi
dan adaptasi tanaman
terhadap salinitas. Sebagai contoh
(i) cekaman garam
menginduksi akumulasi senyawa
organik spesifik di
dalam sitosol sel
yang dapat bertindak sebagai osmoregulator; (ii) tanaman juga
dapat mencegah akumulasi Na dan Cl dalam
sitoplasma melalui eksklusi Na dan
Cl ke lingkungan
eksternal (media tumbuh);
(iii) kompartementasi ke
dalam vakuola atau mentranslokasi Na dan Cl ke
jaringan-jaringan lain (Yuniati, 2004).
II.3 Pemanfaatan Tanah Salin
Perilaku
manusia yang mengubah fungsi lahan
pertanian menjadi tempat
pemukiman dan industri karena
berbagai sebab menyebabkan lahan
pertanian semakin sempit. Lahan-lahan
marginal seperti tanah salin
akhirnya terpaksa menjadi
areal pertanian. Penyebab tanah
salin adalah 1) tanah tersebut mempunyai bahan induk yang
mengandung deposit garam, 2)
intrusi air laut,
akumulasi garam dari irigasi
yang digunakan atau gerakan air tanah yang direklamasi dari
dasar laut, 3) laju evapotranspirasi yang tinggi dengan
curah hujan rendah
sehingga mineral tidak tercuci sepenuhnya (Kusmiyati, 2009).
Pemanfaatan
tanah salin menjadi areal pertanian
banyak mengalami hambatan. Tanah salin adalah tanah yang mengandung garam mudah
larut yang jumlahnya
cukup besar bagi pertumbuhan kebanyakan tanaman seperti klorida atau
sulfat. Kemasaman (pH) tanah salin sekitar 8,5 dan pertukaran kation kurang dari 15%. Masalah
salinitas timbul apabila konsentrasi
garam NaCl, Na2CO3, Na2SO4
terdapat dalam tanah dalam jumlah yang
berlebih. Salinitas adalah konsentrasi
garam-garam terlarut dalam jumlah
besar yang dapat mempengaruhi pertumbuhan
kebanyakan tanaman (Kusmiyati, 2009).
Berdasarkan kemampuan untuk tumbuh pada keadaan
salin, tanaman digolongkan menjadi yaitu glikofita dan
halofita. Tanaman yang digolongkan sebagai
halofita adalah tanaman yang
tahan terhadap konsentrasi NaCl yang tinggi. Tanaman
glikofita adalah tanaman yang tidak dapat mentolerir salinitas yang tinggi.
Sebagian besar tanaman pertanian
digolongkan sebagai
tanaman glikofita (Kusmiyati,
2009).
II.4 Adaptasi Tumbuhan Terhadap Salinitas
Mekanisme
ketahanan tanaman terhadap salinitas dapat dilihat dalam
dua bentuk adaptasi yaitu
mekanisme morfologi dan mekanisme
fisiologi. Mekanisme toleransi yang paling
jelas adalah dengan
adaptasi
morfologi. Bentuk
adaptasi morfologi adalah perubahan
struktur mencakup ukuran
daun yang lebih kecil, stomata yang lebih kecil per satuan luas daun,
peningkatan sukulensi, penebalan kutikula
dan lapisan lilin
pada permukaan daun serta
lignifikasi akar yang lebih
awal (Haryadi dan
Yahya, 1988).
Mekanisme
fisiologi terdapat dalam beberapa bentuk
yaitu osmoregulasi/pengaturan potensial
osmosis, kompartmentasi dan sekresi
garam serta integritas
membran. Osmoregulasi pada kebanyakan
tanaman melibatkan sintesis dan
akumulasi solute organik yang
cukup untuk menurunkan potensial osmotik
sel dan meningkatkan tekanan turgor
yang diperlukan bagi pertumbuhan. Senyawa-senyawa organik
tsb adalah asam-asam organik,
asam-asam amino dan senyawa
gula yang disentesis sebagai respon
langsung terhadap menurunnya
potensial air eksternal. Pada
beberapa tanaman, akumulasi sukrosa yang
berkontribusi terhadap penyesuaian osmotika
merupakan respon terhadap
salinitas (Haryadi dan Yahya, 1988).
BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat dan Bahan
Alat
yang digunakan pada percobaan ini adalah mikroskop, 6 botol kultur, nampan dan
kamera.
Bahan yang digunakan pada percobaan
ini yaitu kecambah kacang hijau Phaseolus
radiates, air destilata (aquades) dan larutan CaCl2 0,5 M.
III.2 Tahapan Kerja
Adapun tahapan kerja pada percobaan ini yaitu :
1. Dari larutan baku CaCl2 0,5 M dibuat
masing-masing 100 ml larutan 10%, 5%, 2%, 1% dan 0,5%.
2. Dimasukkan masing-masing larutan ke dalam botol
kultur dan diberi label. Satu botol dipakai sebagai control: diisi dengan air
destilata saja.
3. Diambil 14 kecambah kacang hijau berumur ± 10 hari.
Dipilih yang sehat dan baik pertumbuhannya.
4. Kedua lubang pada tutup botol masing-masing dimasuki
1 kecambah kacang hijau. Untuk mengganjal tanaman agar tegak dengan akar
terendam dalam larutan digunakan kapas. Dijaga agar kapas tidak mengenai
larutan. Dilakukan hal ini untuk semua botol kultur.
5. Diukur dan dicatat panjang batang di atas kotiledon
dengan penggaris mili meter.
6. Diberi tanda tingginya cairan pada masing-masing
botol kultur.
7. Setiap 2 hari dilihat keadaan cairan. Ditambahkan
air destilata sampai pada tingkat semula. Dicatat volume air yang ditambahkan.
Diamati penampilan tanaman.
8. Setelah 1 minggu tanaman dikeluarkan dan diukur
panjang batang di atas kotiledon, diamati keadaan tanaman dan total air yang
ditambahkan. Dibuat tabel yang menunjukkan hubungan antara pertumbuhan batang
dan banyaknya air yang terserap pada masing-masing perlakuan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil
Tabel Hasil Pengamatan
Larutan CaCl2
|
Panjang Batang
(cm) Keadaan pada harike-
|
Penggunaaan
|
||||
Mula-mula Akhir Pertambahan 2 7
|
air (ml)
|
|||||
Air Destilata
|
4,5
|
-
|
-
|
Mati
|
Mati
|
-
|
10%
|
2
|
-
|
-
|
Hidup
|
Mati
|
-
|
5%
|
1,7
|
2
|
0,3
|
Hidup
|
Mati
|
-
|
2%
|
4,8
|
5
|
0,2
|
Hidup
|
Mati
|
-
|
1%
|
2
|
8,5
|
6,5
|
Hidup
|
Hidup
|
-
|
0,5%
|
3
|
13,5
|
10,5
|
Hidup
|
Hidup
|
-
|
IV.2 Pembahasan
Konsentrasi garam hara yang tinggi pada suatu tanaman disebut
stress garam. Stres garam merupakan salah-satu dari antara enam bentuk stres
tanaman yaitu stress suhu, stres air, stres radiasi, stres bahan kimia dan
stres angin, tekanan, bunyi dan lainnya. Stres garam termasuk stres bahan kimia
yang meliputi garam, ion-ion, gas, herbisida, insektisida dan lain sebagainya.
Pada percobaan ini tanaman yang digunakan yaitu kecambah
kacang hijau Phaseolus radiatus.
Tanaman ini digunakanan karena pertumbuhannya yang cukup cepat dan mudah
ditumbuhkan pada media yang kecil. Biji kacang hijau ini dikecambahkan selama ±
9 hari. Setelah kecambah tersebut tumbuh, dimasukkan ke dalam media yang berupa
botol kultur yang berisi larutan CaCl2
dan air destilata. Larutan CaCl2 digunakan sebagai unsur garam hara
bagi pertumbuhan kecambah tersebut.
Hasil pengamatan yang yaitu bahwa kecambah yang di masukkan
ke dalam botol kultur yang berisi air destilata mengalami kematian sejak hari
kedua hingga hari ketujuh, sementara air tersebut tidak mengandung CaCl2.
Hal ini mungkin disebabkan karena ketika melakukan pengamatan ada praktikan
yang tanpa sengaja menyentuh batang kecambah hingga patah dan mengalami
kematian. Sedangkan kecambah yang di
masukkan dalam botol kultur yang berisi larutan CaCl2 mengalami
pertambahan batang yang cukup tinggi pada hari kedua, namun kecambah tersebut
mengalami kematian pada hari ketujuh dikarenakan konsentrasi CaCl2
pada larutan dalam botol kultur yang sangat tinggi, maka potensial osmotik di
sekitar tanaman sangat meningkat sedangkan potensial air murni menurun yang
mengakibatkan energi bebas air menurun. Sedangkan kecambah pada larutan 1% dan 0,5%
yang tetap hidup pada hari kedua hingga hari ketujuh walaupun konsentrasi 1%
pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan 0,5% karena konsentrasi garam yang
tidak terlalu tinggi sehingga kecambah tersebut mampu bertahan hidup hingga
hari ketujuh.
iKonsentrasi garam yang berlebih dapat menghambat pertumbuhan
tanaman dengan dua cara yaitu : dengan merusak sel-sel yang sedang tumbuh
sehingga pertumbuhan tanaman terganggu. Serta
membatasi jumlah suplai hasil-hasil metabolisme esensial bagi
pertumbuhan sel melalui pembentukan tyloses. Salinitas menekan proses
pertumbuhan tanaman dengan efek yang menghambat pembesaran dan pembelahan sel,
produksi protein serta penambahan biomassa tanaman. Tanaman yang mengalami
stres garam umumnya tidak menunjukkan respon dalam bentuk kerusakan langsung
tetapi pertumbuhan yang tertekan dan perubahan secara perlahan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, maka
dapat disimpulkan bahwa pengaruh konsentrasi CaCl2 yang tinggi sangat mempengaruhi pertumbuhan
kecambah kacang hijau Phaseolus radiatus.
Hal ini dapat dilihat pada kecambah yang dimasukkan dalam botol kultur 10%, 5%
dan 2% yang tetap hidup pada hari kedua dan mengalami kematian pada hari
ketujuh, sedangkan kecambah pada botol kultur 1% dan 0,5% tetap hidup sejak
hari kedua hingga hari ketujuh karena konsentrasi larutan CaCl2 yang
tidak terlalu tinggi.
V.2 Saran
Sebaiknya data hasil percobaan dikumpulkan kepada
asisten agar praktikan lebih mudah untuk memperoleh data tersebut, terima
kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Hamdayanti. 2010. Pengaruh Osmotik Konsentrasi Garam Hara
Terhadap
Absorbsi Air dan
Pertumbuhan Tanaman. http://elysafit08.student.ipb.ac.id/organisasi/.
Diakses pada hari
senin, 24 November 2014, pukul 22.30 WITA. Makassar.
Harjadi, S. S. dan S. Yahya.
1988. Fisiologi Stress Lingkungan.
PAU
IPB . Bogor.
Johannes, Eva. Tambaru, Elis. Suhadiyah, Sri. Latunra,
Andi, Ilham. dan
Ferial,
W., E. 2014. Pedoman Praktikum Fisiologi Tumbuhan.
Universitas Hasanuddin. Makassar.
Kusmiyati, F. 2009.
Karakter Fisiologis, Pertumbuhan dan Produksi
Majerus, M. 1996. Plant
Materials for Saline Alkaline
Soils.
USDA
Natural Resources
Conservation Services. Montana
State
University.
USA.
Yuniati, Ratna. 2004. Penapisan
Galur Kedelai Glycine max (L). Merrill
Toleran
Terhadap NaCl Untuk Penanaman di Lahan Salin. Jurnal Makara Sains. Vol 8. No 1. Hal : 1-2. Departemen Biologi FMIPA. Universitas Indonesia. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar