LAPORAN
PRAKTIKUM
BIOKIMIA
PERCOBAAN VI
PENGARUH
TEMPERATUR TERHADAP KEAKTIFAN SUATU ENZIM
NAMA : SOPHIA MARCELINA YANSIP
NIM
: H411 13 701
KELOMPOK/KELAS
: IV (EMPAT) C
HARI/TANGGAL
PERCOBAAN : KAMIS/ 4 DESEMBER 2014
ASISTEN : NURUL FEBRIANI PUTRI
LABORATORIUM
BIOKIMIA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pati adalah polisakarida yang merupakan kelompok
utama penyimpanan karbohidrat yang digunakan sebagai sumber makanan atau
energi. Pada hewan tingkat tinggi, glukosa adalah komponen yang paling penting
dan glukosa merupakan karbohidrat sederhana yang paling banyak diperlukan dalam
tubuh manusia (Natsir dkk, 2014).
Suatu bagian yang sangat kecil dari suatu molekul
besar adalah protein enzim yang berperan mengkatalisis suatu reaksi. Bagian
kecil ini disebut bagian aktif (active
site) enzim. Aktifitas katalitik enzim juga ditentukan oleh struktur tiga
dimensi molekul enzim tersebut (pNatsir, 2014).
Suatu molekul substrat berkaitan dengan bagian aktif
enzim melalui suatu mekanisme khusus dan selektif dalam hubungan yang disebut Lock and Key. Sebagai contoh adalah enzim Aspartase, termasuk enzim yang
mempunyai kekhususan yang tinggi (Natsir, 2014).
COOH COOH
H – C CH2
+ NH3 Aspartase
H – C H - C – NH2
COOH COOH
Fumarat Aspartat
Kerja enzim ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti,
pH, inhibitor dan lain-lain (Natsir, 2014).
1.2
Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1
Maksud Percobaan
Maksud
dilakukannya percobaan ini adalah untuk memahami dan memperlajari pengaruh
temperature pada aktivitas kerja enzim.
1.2.2
Tujuan Percobaan
Tujuan
percobaan yaitu untuk menentukan suhu optimum dari enzim amilase yang terdapat dalam
saliva.
1.3
Prinsip Percobaan
Menentukan keaktifan
dari enzim amilase berdasarkan waktu penguraian amilum menjadi glukosa pada
berbagai temperatur dan diuji dengan iodin pada interval waktu tertentu sampai
warna biru yang terbentuk berubah menjadi bening.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Enzim
Enzim adalah protein yang
mengkatalisis reaksi biokimia. Enzim biasanya terdapat dalam konsentrasi yang
sangat rendah di dalam sel, dalam hal ini mereka meningkatkan laju reaksi tanpa
mengubah posisi kesetimbangan. Laju reaksi ke depan maupun reaksi kebalikan
ditingkatkan oleh faktor yang sama. Faktor ini biasanya sekitar 103 -
1012 (Ngili, 2013).
Banyak enzim yang dimurnikan dari
berbagai sumber, tetapi yang pertama kali mengkristalkan enzim adalah J.B.
Sumner. Enzim yang dikristalkan ini berasal dari jack beans. Untuk hasil yang memakan waktu 6 tahun penelitian ini
(1924-1930), Sumner mendapatkan hadiah Nobel pada tahun 1946. Pekerjaannya
didemonstrasikan sekali saja meskipun enzim-enzim merupakan kesatuan kimia yang
berbeda (Ngili, 2013).
Terdapat lebih dari 2.500 macam
reaksi biokimia dengan enzim spesifik yang membantu peningkatan laju reaksi.
Spesies organism yang berbeda memproduksi variasi struktur enzim yang berbeda
pula, sehingga jumlah macam protein enzim dalam seluruh sistem biologis adalah
lebih dari 106. Setiap enzim dikarakterisasi oleh spesifitas substrat kimia (reaktan) serta molekul
lain yang mengatur aktivitasnya. Molekul lain ini disebut efektor, yang bisa merupakan aktivator,
inhibitor, atau keduanya. Dalam enzim
yang yang lebih kompleks, satu senyawa bisa memiliki salah satu efek, yang
tergantung pada kondisi fisik atau kimia lainnya. Enzim berukuran mulai dari kompleks subunit banyak yang besar (disebut enzim multimer,
Mr = 106)
sampai bentuk subunit
tunggal yang kecil (Ngili, 2013).
2.2
Enzim Amilase
Enzim α–amilase adalah enzim yang
berfungsi untuk memecah
ikatan α – 1,4 glikosida dari molekul
pati menjadi maltosa. α–amilase merupakan salah satu enzim ekstraseluler
komersial yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, sehingga banyak digunakan
dalam berbagai bidang industri seperti industri pati, roti, alkohol, kertas,
tekstil, gula, dan industri detergen. Enzim α–amilase merupakan enzim
ekstraseluler sehingga dalam proses isolasinya tidak memerlukan pemecahan sel (Sebayang,
2005).
pH optimum enzim amilase bekerja
adalah 6,0. pH berhubungan dengan struktur enzim yang terdiri dari asam-asam
amino. Perubahan pH dalam suatu larutan menunjukkan perubahan-perubahan jumlah
ion H+ yang ada dalam larutan. Jumlah ion yang ada akan mempengaruhi struktur
enzim yang terdiri dari asam-asam amino, terutama pada ikatan hidrogennya
karena aktivitas enzim berkaitan erat dengan strukturnya maka perubahan
struktur akan menyebabkan perubahan-perubahan aktivitas enzim. Sedangkan pada
pH optimum jumlah ion H+ tidak mempengaruhi konformasi enzim sehingga
konformasi substrat sama dengan konformasi enzim. Hal ini menyebabkan interaksi
antara enzim dan substrat meningkat, sedangkan pada pH
optimum aktivitas enzim paling
tinggi (Sebayang, 2005).
Suhu optimum enzim α-amilase adalah
60ºC, kenaikan suhu menyebabkan aktivitas enzim meningkat sampai mencapai suhu
optimum. Setelah mencapai kondisi optimum terlihat bahwa aktivitas enzim
menurun. Terjadinya penurunan aktivitas ini diperkirakan karena pada suhu
tinggi struktur tertier enzim yang terdiri dari ikatan bukan kovalen atau
elektrostatik, ikatan hidrogen, ikatan disulfida dan ikatan hidrofobik bila
menyerap energi tinggi akan terjadi pemutusan dan mengakibatkan terjadinya
pembukaan struktur tertier dan kuartener yang menyebabkan konformasi enzim
berubah dan menyebabkan aktivitasnya menurun (Sebayang, 2005).
2.3
Pati (Amilum)
Pati merupakan polisakarida yang melimpah setelah
selulosa. Berfungsi sebagai penyimpanan energy. Pati banyak terdapat pada
padi-padian, kentang, jagung dan lain-lain. Pati dapat dipisahkan menjadi dua
komponen utama berdasarkan kelarutan bila dibubur dalam air panas. Sekitar 20 %
pati adalah amilosa (larut) dan 80%
adalah amilopektin (tidak larut)
(Natsir dkk, 2014).
Amilosa adalah polimer dari
α-D-glukosa, sekitar 50 sampai 300 unit-unit glukosa yang dihubungkan antara satu dengan
yang lainnya melalui ikatan 1,4-α-glikosida. Dalam larutan, rantai
amilosa berbentuk heliks menyerupai kumparan, karena adanya ikatan dengan
konfigurasi α pada setiap unit glukosa. Kumparan yang berbentuk tabung ini
memungkinkan terbentuknya senyawa kompleks dengan molekul lain, terutama
molekul-molekul kecil yang dapat masuk ke dalam kumparannya. Warna biru tua
yang ditimbulkan pada penambahan yodium pada pati adalah contoh pembentukkan
kompleks tersebut. Hidrolisis lengkap dari amilosa hanya menghasilkan
D-glukosa, hidrolisis parsial menghasilkan maltosa sebagai satu-satunya
disakarida (Natsir dkk, 2014).
Amilopektin adalah suatu
polisakarida yang jauh lebih besar daripada amilosa, mengandung kurang lebih
1000 satuan glukosa per molekul. Sebagaimana rantai amilosa, amilopektin pun
memiliki rantai utama yang terdiri dari rantai glukosa dengan ikatan
1,4-α-D-glikosida. Perbedaan antara amilosa dengan amilopektin adalah amilopektin
memiliki percabangan. Setiap percabangan memiliki kira-kira 24-30 unit glukosa
ikatan pada titik percabangan adalah 1,6-α-glikosida (Natsir dkk, 2014).
Pati tidak
larut dalam air
dan dalam analisis pati,
memberikan warna biru dengan iodium. Hasil
hidrolisis pati/amilum adalah glukosa. Hidrolisis pati
akan terjadi pada pemanasan dengan
asam encer dimana berturut-turut akan
dibentuk amilosa yang memberi
warna biru dengan
iodium, amilopektin yang memberi
warna merah dengan iodium.
Pati sagu disebut juga poliglukosa, karena
unit monomernya glukosa. Kadar pati
merupakan banyaknya pati yang
terkandung dalam bahan
kering yang dinyatakan dalam persen. (Manatar dkk, 2012).
Penambahan iodium
akan terbentuk kompleks pati dan
iodium kompleks ini dapat mengendap
yang kemudian dapat
ditentukan dengan mengukur konsentrasi warna
biru yang terbentuk dengan
menggunakan spektrofotometer.
Metode ini
digunakan untuk memisahkan amilum
atau pati yang terkandung dalam
larutan tersebut. Reaksi positifnya
ditandai dengan adanya perubahan warna
menjadi biru. Warna biru
yang dihasilkan diperkirakan adalah
hasil dari ikatan kompleks antara
amilum dengan iodin. Sewaktu amilum
yang telah ditetesi
iodin kemudian dipanaskan, warna yang dihasilkan sebagai hasil
dari reaksi yang
positif akan
menghilang.Sewaktu didinginkan warna
biru akan muncul kembali. Kedaaan
pohon suatu sampel sangat berhubungan dengan kandungan pati yang dihasilkan
sampel pohon tersebut (Manatar dkk, 2012).
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1
Bahan Percobaan
Bahan yang digunakan pada percobaan
ini adalah saliva encer, iodin 0,01 M dan larutan amilum 1 %.
3.2
Alat Percobaan
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung
reaksi, pipet tetes, rak tabung, inkubator, gelas kimia, penangas air dan plat
tetes.
3.3
Prosedur Percobaan
Disiapkan 4 buah tabung reaksi dan masing-masing
diisi dengan 2,5 ml larutan pati (amilum) 1 %. Kemudian disiapkan pula 4 buah
tabung reaksi lain dan masing-masing diisi dengan 0,5 ml saliva encer. Tabung
pertama yang berisi larutan pati dan tabung yang berisi saliva encer dimasukkan
dalam air es (0 ºC). tabung kedua yang berisi larutan pati da tabung yang
berisi saliva encer ditempatkan pada suhu kamar (25 ºC). tabung ketiga yang berisi
larutan pati dan tabung yang berisi saliva encer dimasukkan dalam incubator (38
ºC). tabung keempat yang berisi larutan pati dan tabung yang berisi saliva
encer dimasukkan dalam penangas air (100 ºC). Semua tabung dibiarkan selama 5
menit dan kemudian pada masing-masing tabung yang berisi larutan pati dicampur
dengan larutan saliva encer. Pada interval 5 menit, diambil contoh
masing-masing larutan dan diteteskan pada plat tetes yang telah berisi iodin
0,01 M sampai larutan menjadi bening. Ketika larutan menjadi bening maka saat
itulah merupakan titik keaktifan suatu enzim.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Tabel Pengaruh Temperatur Terhadap Aktivitas
Enzim Amilase
|
Waktu (menit)
|
Warna
|
|||
|
Tabung I (0ºC)
|
Tabung II (25ºC)
|
Tabung III (38ºC)
|
Tabung IV (100ºC)
|
|
|
5
|
+++
|
+++
|
+++
|
+++
|
|
10
|
+++
|
+++
|
+++
|
++
|
|
15
|
+++
|
+++
|
+++
|
-
|
|
20
|
++
|
+++
|
++
|
|
|
25
|
++
|
+++
|
-
|
|
|
30
|
-
|
++
|
|
|
|
35
|
|
-
|
|
|
Keterangan :
+++ :
Biru tua
++ : Biru muda
- :
Bening
4.1.2 Tabel Waktu Laju Perubahan Warna Terhadap Nilai
1/t
|
Temperatur
|
Waktu (t)
|
1/t
|
|
0ºC
|
30
|
0,03
|
|
25 ºC
|
35
|
0,02
|
|
38 ºC
|
25
|
0,04
|
|
100 ºC
|
20
|
0,05
|
4.2 Grafik
Hubungan Antara Temperatur dan 1/t
Aktivitas
Enzim Amilase
1/t
(Menit)
0.05
0.04
0.03
0,02
0 25 38 100
Temperatur (oC)
Keterangan :
Aktivitas Enzim Amilase
4.3 Reaksi
4.4 Pembahasan
Berdasarkan
hasil percobaan yang tercantum pada tabel pengamatan, dapat terlihat bahwa
tabung I yang dimasukkan ke dalam air es dengan suhu (0 ºC), ketika diberi 1 tetes larutannya
pada plat tetes yang berisi larutan iodin larutan iodine berwarna biru tua
sejak 5 menit pertama hingga menit ke 15, berwarna biru muda pada menit ke 20
hingga menit ke 25 dan berwarna bening pada menit ke 30. Tabung II yang pada
suhu kamar (25 ºC), ketika ditetesi larutannya pada plat tetes yang berisi
larutan iodin berwarna biru tua sejak 5 menit pertama hingga menit ke 25, biru
muda pada menit ke 30 dan berwarna bening pada menit ke 35. Pada tabung III
yang dimasukkan dalam inkubator dengan suhu 38 ºC, ketika larutan pada tabung
III ini ditetesi pada larutan iodine berwarna biru tua pada 5 menit pertama
hingga menit ke 15, berwarna biru muda pada menit ke 20 dan berwarna bening
pada menit ke 25. Pada tabung IV yang dipanasakan dengan suhu 100 ºC, ketika
ditetesi larutan tersebut pada larutan iodin berwana biru tua pada menit pertama, biru muda pada menit ke 10 dan
berwarna bening pada menit ke 5.
Perlakuan yang dilakukan pada berbagai suhu yang
telah ditentukan masing-masing agar dapat diketahui pada suhu berapa (suhu
optimum) enzim amilase bekerja dengan baik. Menurut teori, enzim amilase
bekerja pada suhu optimum 30-40 ºC, enzim tidak akan bekerja pada suhu dibawah
0 ºC dan diatas suhu tersebut enzim akan mengalami kerusakan
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
.5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, maka
dapat disimpulkan bahwa enzim amilase yang bekerja secara optimum pada suhu 100
ºC.
5.2 Saran
5.2.1
Saran untuk Laboratorium
Sebaiknya laboratorium
menyediakan bahan yang cukup.
5.2.2
Saran untuk Percobaan
Sebaiknya
percobaan dilakukan lebih awal agar cepat terselesaikan.
5.2.3
Saran untuk Asisten
Sebaiknya
asisten menjelaskan cara membuat kurva yang
baik dan benar.
DAFTAR PUSTAKA
Manatar, Jardewig, E.,
Pontoh, Julius, Runtuwene,
Max, R., J.,
2012, Analisis
Kandungan
Pati Dalam Batang Tanaman Aren (Arenga
pinnata), Jurnal Ilmiah Sains, 12 (2) : halaman 1-4, FMIPA Universitas
Sam Ratulangi, Manado.
Natsir, Hasnah, 2014, Kimia Organik, UPT
MKU Universitas Hasanuddin,
Makassar.
Natsir, Hasnah, 2014, Penuntun dan Laporan Praktikum Biokimia,
Universitas
Hasanuddin,
Makassar.
Ngili, Yohanis, 2013, Biokimia Dasar Edisi Revisi, Rekayasa Sains,
Bandung.
Sebayang, Firman,
2005, QWIsolasi dan Pengujian
Aktivitas Enzim α-Amilase
Dari
Aspergillus Niger dengan
Menggunakan Media Campuran
Onggok dan Dedak, Jurnal
Komunikasi Penelitian, 17 (5) :
halaman 1, 3 dan 4, Departemen FMIPA USU, Sumatera Utara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar