LAPORAN
PRAKTIKUM
BIOKIMIA
PENGARUH pH TERHADAP AKTIVITAS ENZIM
NAMA :
SOPHIA MARCELINA YANSIP
NIM :
H41113701
HARI/TANGGAL : KAMIS/ 11 DESEMBER 2014
KELOMPOK : IV (EMPAT) C
ASISTEN :
SUKMAWATI USMAN
LABORATORIUM
BIOKIMIA
JURUSAN
KIMIA
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Masyarakat
Indonesia sudah sejak
lama memanfatkan mikroorganisme untuk menghasilkan barang
bernilai ekonomi, misalnya
fermentasi tempe, tape,
dan ragi. Mikroorganisme
merupakan sumber enzim yang paling banyak digunakan dibandingkan dengan tanaman
dan hewan (Ompusunggu dkk, 2012).
Enzim merupakan
bagian dari protein,
yang mengkatalisir reaksi-reaksi
kimia. Enzim juga dapat
diartikan sebagai protein katalisator
yang memiliki spesifisitas terhadap reaksi yang dikatalisis dan
molekul yang menjadi
substratnya. Aktivitas enzim
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu konsentrasi substrat,
suhu, dan pH (Ompusunggu dkk, 2012).
Secara praktis,
enzim banyak digunakan
di berbagai bidang
kegiatan dan menempati posisi penting dalam bidang
industri. Aplikasi proses enzimatik pada industri pertama kali mulai berkembang
sejak tahun 1960. Enzim menjadi primadona dalam bidang industri saat ini dan di
masa yang akan datang karena melalui penggunaannya, energi dapat dihemat dan
ramah lingkungan. Saat ini penggunaan
enzim dalam industri
makanan, minuman, industri tekstil, industri kulit dan kertas
di Indonesia semakin meningkat.
Penggunaan enzim dalam industri pangan
memberikan banyak keuntungan sebagai
bahan tambahan yang alami. Peranan enzim dalam produksi pangan sudah dilakukan
optimasi sehingga aktivitas enzim dapat berjalan seperti yang diharapkan (Ompusunggu
dkk, 2012).
1.2 Maksud dan
Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan
mempelajari pengaruh pH terhadap aktivitas enzim amilase.
1.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan
dari percobaan ini adalah untuk menentukan pH optimum dari aktivitas enzim
amilase
1.3 Prinsip
Percobakan
Prinsip
percobaan ini yaitu menentukan keaktifan dari enzim amilase berdasarkan waktu
pengruraian amilum menjadi glukosa pada berbagai pH dengan penambahan iodine
sebagai indikator yang member warna biru yang akan berubah menjadi bening.
1.4 Manfaat
Percobaan
Manfaat
dari percobaan ini yaitu dapat mengetahui pengaruh pH terhadap keaktifan enzim
amilase.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Enzim adalah
protein yang berfungsi
sebagai katalisator untuk
reaksi-reaksi kimia didalam
sistem biologi . Satu jenis enzim mengkatalisis satu jenis substrat saja, jadi
enzim adalah katalisator yang reaksi-spesifik. Enzim bekerja dengan mengurangi
energi aktivasi dari substrat tertentu. Mekanisme kerja enzim yaitu dengan terikat sementara ke substrat
untuk membentuk sebuah kompleks enzim-substrat yang lebih tidak stabil
dibanding substrat jika
berdiri sendiri. Ini
menyebabkan substrat mudah
bereaksi. Dengan demikian substrat
tereksitasi ke tingkat
energi lebih rendah
dengan membentuk produk
reaksi yang baru. Selama
berlangsungnya reaksi, enzim
dilepaskan dalam keadaan
tidak berubah. Pelepasan enzim
tetap utuh sehingga bisa terus bereaksi dan menyebabkan enzim tetap efektif meski
dalam jumlah yang
sangat kecil. Kegiatan
enzim dapat berlangsung
dengan baik jika kondisi lingkungannya mendukung (Ompusunggu
dkk, 2012).
Kecepatan
reaksi enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama perubahan suhu dan
pH yang
mempunyai pengaruh besar
terhadap kerja enzim.
Kecepatan reaksi enzim
juga dipengaruhi oleh konsentrasi
enzim dan konsentrasi
substrat. Pengaruh aktivator,
inhibitor, koenzim dan konsentrasi elektrolit dalam beberapa keadaan
juga merupakan faktor-faktor yang penting. Hasil reaksi enzim juga dapat
menghambat kecepatan reaksi (Ompusunggu dkk, 2012).
Enzim,
saat ini merupakan unsur penting yang
digunakan dalam industri tekstil, industri kulit kertas
dan sebagian besar produk makanan dan minuman. Penggunaan enzim pada
produk pangan dapat membatasi
penggunaan bahan aditif
kimia, terutama dalam
pembuatan roti dan produk fermentasi lainnya. Beberapa keuntungan penggunaan enzim dalam
pengolahan pangan adalah aman terhadap kesehatan karena bahan alami,
mengkatalisis reaksi yang sangat spesifik tanpa efek samping, aktif pada
konsentrasi yang rendah, dapat diinaktivasi, dan dapat digunakan sebagai
indikator kesesuaian proses pengolahan (Ompusunggu dkk, 2012).
Ada dua
skenario mengenai penggunaan
enzim, baik enzim
yang digunakan untuk mengubah bahan mentah menjadi produk
utama, atau enzim yang digunakan sebagai aditif untuk mengubah suatu
karakteristik fungsional produk.
Dalam kasus pertama,
proses enzimatik dilakukan dalam
kondisi dioptimalkan dan
dikendalikan untuk meningkatkan
potensi katalitik dari enzim,
sedangkan pada situasi kedua lebih sulit untuk menjamin kondisi optimal dan
kontrol reaksi enzimatik. Sebuah contoh dari kasus pertama adalah penggunaan
glukosa isomerase untuk produksi
high-fructose syrups (HFS),
dan contoh kedua
adalah penggunaan protease
jamur dalam membuat adonan
roti. Beberapa enzim
yang digunakan dalam industri pengolahan
pangan seperti diastase atau amilase,AMP deaminase, bromelain, katalase,
selulase, kimosin, dekstranase,
galaktosidase, glukanase, glukoamilase,
protease, invertase,
maltase, zymase, pektinase
dan laktase (Ompusunggu dkk, 2012).
Aktivitas enzim
amilase dari ekstrak
kecambah tertinggi diperoleh
pada pH 9
dengan aktivitas 0,0207 detik-1. Aktivitas enzim
berkaitan erat dengan
strukturnya, perubahan struktur akan menyebabkan perubahan aktivitas enzim.
Pada pH optimum konformasi
enzim berada pada
kondisi yang ideal.
Hal ini menyebabkan interaksi antara enzim dan substrat menjadi maksimal.
Pada suasana yang terlalu asam atau basa,
kanformasinya berubah sehingga
aktivitas enzim akan
terganggu. Perubahan tingkat keasaman akan meyebabkan terjadinya
penurunan aktivitas (Bahri dkk, 2012).
Konsentrasi substrat
adalah salah satu
faktor yang dapat
mempengaruhi aktivitas enzim amilase. Penambahan konsentrasi substrat
akan menaikkan aktivitas
enzim sampai mencapai
batas maksimum. Pada kondisi
tersebut semua enzim
telah jenuh dengan
substrat, sehingga penambahan substrat sudah tidak akan
meningkatkan aktivitas enzim amilase. Pada
konsentrasi substrat yang
rendah, sisi aktif
tempat terjadinya kontak
antara enzim dan substrat hanya menampung substrat yang sedikit. Dalam kondisi ini konsentrasi
kompleks enzim-substrat sedikit
dan menyebabkan aktivitas
enzim kecil. Bila
konsentrasi substrat
diperbesar, maka semakin
banyak substrat yang
dapat berhubungan dengan
enzim pada sisi aktif
tersebut. Akibatnya kompleks
enzim-substrat semakin besar
dan aktivitas enzim juga semakin
besar (Bahri dkk, 2012).
Enzim
α–amilase adalah enzim yang berfungsi untuk memecah ikatan α – 1,4 glikosida
dari molekul pati menjadi maltosa. α–amilase merupakan salah satu enzim
ekstraseluler komersial yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, sehingga
banyak digunakan dalam berbagai bidang industri seperti industri pati, roti, alkohol,
kertas, tekstil, gula, dan industri detergen. Enzim α–amilase merupakan enzim
ekstraseluler sehingga dalam proses isolasinya tidak memerlukan pemecahan sel (Sebayang,
2005).
pH optimum enzim amilase bekerja
adalah 6,0. pH berhubungan dengan struktur enzim yang terdiri dari asam-asam
amino. Perubahan pH dalam suatu larutan menunjukkan perubahan-perubahan jumlah
ion H+ yang ada dalam larutan. Jumlah ion yang ada akan mempengaruhi struktur
enzim yang terdiri dari asam-asam amino, terutama pada ikatan hidrogennya
karena aktivitas enzim berkaitan erat dengan strukturnya maka perubahan
struktur akan menyebabkan perubahan-perubahan aktivitas enzim. Sedangkan pada
pH optimum jumlah ion H+ tidak mempengaruhi konformasi enzim sehingga
konformasi substrat sama dengan konformasi enzim. Hal ini menyebabkan interaksi
antara enzim dan substrat meningkat, sedangkan pada pH optimum aktivitas enzim
paling tinggi (Sebayang, 2005).
Suhu optimum enzim α-amilase adalah
60ºC, kenaikan suhu menyebabkan aktivitas enzim meningkat sampai mencapai suhu
optimum. Setelah mencapai kondisi optimum terlihat bahwa aktivitas enzim
menurun. Terjadinya penurunan aktivitas ini diperkirakan karena pada suhu
tinggi struktur tertier enzim yang terdiri dari ikatan bukan kovalen atau
elektrostatik, ikatan hidrogen, ikatan disulfida dan ikatan hidrofobik bila
menyerap energi tinggi akan terjadi pemutusan dan mengakibatkan terjadinya
pembukaan struktur tertier dan kuartener yang menyebabkan konformasi enzim
berubah dan menyebabkan aktivitasnya menurun (Sebayang, 2005).
Pati
tidak larut dalam
air dan dalam analisis pati, memberikan warna biru
dengan iodium. Hasil hidrolisis pati/amilum
adalah glukosa. Hidrolisis
pati akan terjadi
pada pemanasan dengan asam
encer dimana berturut-turut akan
dibentuk amilosa yang memberi
warna biru dengan
iodium, amilopektin yang memberi
warna merah dengan iodium.
Pati sagu disebut juga poliglukosa, karena
unit monomernya glukosa. Kadar pati
merupakan banyaknya pati yang
terkandung dalam bahan
kering yang dinyatakan dalam
persen. (Manatar dkk, 2012).
Penambahan iodium
akan terbentuk kompleks pati dan
iodium kompleks ini dapat mengendap
yang kemudian dapat
ditentukan dengan mengukur konsentrasi
warna biru yang terbentuk
dengan menggunakan spektrofotometer.Metode ini
digunakan untuk memisahkan amilum
atau pati yang terkandung dalam
larutan tersebut. Reaksi positifnya
ditandai dengan adanya perubahan warna
menjadi biru. Warna biru
yang dihasilkan diperkirakan adalah
hasil dari ikatan kompleks antara
amilum dengan iodin. Sewaktu amilum
yang telah ditetesi
iodin kemudian dipanaskan, warna yang dihasilkan sebagai hasil
dari reaksi yang
positif akan
menghilang.Sewaktu didinginkan warna
biru akan muncul kembali (Manatar
dkk, 2012).
Keadaan pohon
dari suatu sampel sangat
berhubungan dengan kandungan
pati yang dihasilkan sampel karena faktor pohon yang masih
berproduksi dapat menghasilkan pati di dalam batang pohon,
sedangkan untuk pohon yang sudah
tidak berproduksi, produktivitas kandungan
pati pada pohon akan
menurun (Manatar dkk, 2012).
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Bahan Percobaan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan amilum 1%, Saliva
encer, iodine 0,01 M, asam asetat 0,1 M, NaCl 0,1 M, aquades dan larutan buffer
pH 8,0; 7,4; 7,0; 6,8; 6,2; 5,4; 6,0.
3.2 Alat Percobaan
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, pipet
tetes, inkubator dan rak tabung.
3.3 Prosedur Percobaan
Disiapkan tujuh buah tabung reaksi dan
masing-masing tabung reaksi diisi dengan 5 ml larutan buffer dengan
masing-masing pH yang tersedia. Kemudian ke dalam larutan buffer tersebut
ditambahkan 1 ml NaCl dan 1 ml amilum kemudian semua tabung ditambahkan dengan
5 tetes iodine 0,01 M kecuali larutan dengan pH 8 dan 7,4 diasamkan dengan 1 ml
asam asetat sebelum penambahan iodine. Semua tabung ditempatkan dalam inkubator
dengan suhu 38 ºC selama 5 menit. Setelah 5 menit, ditambahkan saliva encer
sebanyak 0,5 kemudian dimasukkan kembali ke dalam inkubator dan diamati selama
30 menit. Perubahan warna pada tabung reaksi diperhatikan tiap interval 5
menit. Dicatat perubahan dan waktu yang dibutuhkan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel
Pengaruh pH terhadap Aktivitas Enzim Amilase
|
Waktu
(menit)
|
Warna
|
||||||
|
pH 8,0
|
pH 7,4
|
pH 7,0
|
pH 6,8
|
pH 6,2
|
pH 6,0
|
pH 5,4
|
|
|
5
|
+
+ +
|
+
+ +
|
+
+ +
|
+ + + +
|
+
+ + +
|
+
+ + +
|
+
+ + +
|
|
10
|
+
+
|
+
+ +
|
+
+ +
|
+ + +
|
+
+ + +
|
+
+ + +
|
+
+ + +
|
|
15
|
+
+
|
+
+
|
+ + +
|
+ + +
|
+
+ + +
|
+
+ + +
|
+
+ + +
|
|
20
|
+
|
+
+
|
+
+ +
|
+ + +
|
+
+ + +
|
+
+ +
|
+
+ +
|
|
25
|
+
|
+
+
|
+
+ +
|
+ +
|
+ + + +
|
+
+ +
|
+
+ +
|
|
30
|
+
|
+
|
+
+
|
+ +
|
+ + +
|
+ + +
|
+
+ +
|
Keterangan :
++++ :
Biru tua
+++ : Biru
++ : Biru muda
+ : Bening
Tabel Nilai pH Yang Menunjukkan Perubahan Waktu
(1/t)
|
pH
|
Waktu (t) (Menit)
|
1/t (Menit)
|
|
8,0
|
20
|
0,05
|
|
7,4
|
15
|
0,06
|
|
7,0
|
30
|
0,03
|
|
6,8
|
25
|
0,04
|
|
6,2
|
30
|
0,03
|
|
6,0
|
20
|
0,05
|
|
5,4
|
20
|
0,05
|
Grafik Pengaruh pH Vs Waktu (t)
4.2 Reaksi
4.3
Pembahasan
Dari hasil percobaan
yang dilakukan didapatkan hasil perubahan warna pada tabung dengan pH 7,4 mengalami perubahan warna yang sangat
cepat yaitu pada menit ke-15 kemudian diikuti dengan tabung dengan pH 8 yang juga mengalami perubahan warna dari biru
menjadi bening. Pada kedua tabung dengan pH 8 dan 7,4 ini diasamkan dengan 1 ml
asam asetat untuk menurunkan pH pada larutan basa tersebut.
Pada tabung dengan pH
6,0 dan 5,4 mengalami perubahan warna dari warna biru tua menjadi biru pada
menit ke-20 kemudian disusul perubahan warna pada tabung dengan pH 6,8 dari
biru tua menjadi biru muda. Sedangkan larutan yang paling lama mengalami
perubahan warna adalah larutan pada tabung 7,0 dan 6,2 yaitu pada menit ke-30.
Pada percobaan ini
larutan yang bekerja pada pH optimum yaitu larutan dengan pH 8 dan 7,4 karena
kedua larutan ini mengalami perubahan warna yang sangat cepat. Sedangkan
menurut teori, enzim beraktivitas optimal pada pH 5-7. hal yang menyebabkan
enzim pada bekerja tidak optimal pada percobaan ini mungkin disebabkan karena
beberapa faktor yang mempengaruhi kerja enzim salah satunya yaitu saliva yang
terlambat dimasukkan ke dalam inkubator dan kekurangan atau kelebihan pemberian
reagen pada larutan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa
pH optimum enzim amilase bekerja optimal yaitu antara pH 7,4 – 8.
5.2 Saran
Penjelasan dari asisten
cukup baik sehingga perlu ditingkatkan lagi agar praktikan lebih mudah memahami
penjelasannya.
DAFTAR PUSTAKA
Bahri, Saiful, Mirzan Moh.,
dan
Hasan, Moh., 2012,
Karakterisasi Enzim
Amilase Dari Kecambah Biji Jagung Ketan (Zea mays ceratina L.), Jurnal natural Science, Vol 1 (1) Hal 1-3,
Universitas Tadulako,
Manatar, Jardewig, E., Pontoh,
Julius, Runtuwene, Max, R., J.,
2012, Analisis
Kandungan
Pati Dalam Batang Tanaman Aren (Arenga
pinnata), Jurnal
Ilmiah Sains, Vol 12, No 2, Halaman 1-4, FMIPA Universitas Sam Ratulangi,
Manado.
Ompusunggu,
Henny,
Saurmauli, E., Juwita dan Silaban Ramlan,
2012,
Kajian
Biomedik Enzim Amilase dan Pemanfaatannya Dalam Industri, Universitas Sumatera Utara, Medan
Sebayang, Firman, 2005, Isolasi dan Pengujian
Aktivitas Enzim α-Amilase
Dari
Aspergillus Niger dengan Menggunakan Media Campuran Onggok dan Dedak, Jurnal Komunikasi Penelitian, Vol 17 (5), Hal 1,3 dan
4, Departemen FMIPA USU, Sumatera Utara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar